Penyisiran dan pendeteksian penyakit berada di empat tempat yakni dua puskesmas dan rumah sakit. "Untuk TBC paru per triwulan pertama akhir Maret berjumlah 271 penderita. Rerata temuan di kota maupun di desa-desa," kata Kasi Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Blora Sutik.
Sutik menjelaskan, TBC merupakan penyakit sistem pernapasan, disebabkan infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Selain paru juga bisa menyerang tulang dan kelenjar kulit. "Kalau yang paru-paru jika tidak tertangani bisa berdampak kematian," bebernya.
Gejala dialami penderita seperti mutah darah dan batuk tak kunjung sembuh setelah beberapa minggu. Sutik menerangkan, jika penderita langsung mendapat penanganan potensi kesembuhan lebih cepat. "Ketika ada indeks kasus kami segera lakukan penanganan, jika batuk harus membuang dahak jangan di sembarang tempat," jelasnya.
Pihaknya mengaku tetap melakukan penyisiran dan pemeriksaan dengan skrining, seperti di pesantren, sekolah, maupun lingkungan masyarakat. Kalau ditemukan yang batuk dari dua minggu diambil dahaknya dan dikirim ke puskesmas, untuk dilakukan tes cepat molekuler.
Saat ini siapkan penanganan di Puskesmas Ngawen dan Randublatung. Serta RSUD Blora dan RSUD Cepu. "Kami berusaha meningkatkan penemuan melalui skrining, pemeriksaan kontak pasien," tuturnya. (luk/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto