Kasnan dengan delmannya mengangkut penumpang mengelilingi perkotaan Cepu. Delman dihias menarik dengan kerlap-kerlip lampu hias. Delmannya khas, dengan dua roda berupa kayu. Delman masih orisinal.
Jika zaman dahulu kereta kuda digunakan raja sebagai alat transportasi, saat ini delman menjadi saranan berwisata keliling perkotaan. Terlebih Kecamatan Cepu saat Kerajaan Jipang, terdapat Gagak Rimang, kuda milik Arya Panangsang.
Menurut Kasnan, wisata kereta kuda sudah ada sejak empat tahun lalu. Ia menghias delman menjadi lebih menarik. Seperti kerlip lampu dan bunga-bunga terbuat dari plastik. Mangkal menjelang malam hingga pukul 22.00. "Itu kalau tidak hujan, kalau hujan ya sepi langsung pulang," jelasnya.
Kereta kuda hias berputar dengan start Taman Tuk Buntung, berputar hingga Plaza Cepu dan kembali lagi. Dengan Rp 30 ribu sekali angkut, pengunjung wisata menikmati jalanan Cepu masih banyak bangunan tua dan ragam angkringan.
"Setelah pandemi ini alhamdulillah sudah mulai banyak lagi," jelasnya.
Andri, salah satu koordinator wisata menjelaskan, wisata dikelola kelompok. Dalam satu minggu ada dua kelompok bertugas. Setiap kelompok jumlah kereta kuda berbeda. Ada 9 kereta kuda dan 8 kereta kuda. "Sedangkan untuk malam minggu semuanya jadi satu," jelasnya.
Menurut Andri, peminat naik kereta kuda paling banyak ketika malam minggu. Tetap ada pembatasan waktu yakni pukul 22.00. Sedangkan pembagian keuntungan, Andri memastikan langsung masuk ke kantong masing-masing pemilik kereta kuda. (luk/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto