Jumlah tersebut akan menjadi fokus lahan garap pemerintah daerah tahun ini dengan melibatkan tim di lapangan.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Blora Mahbub Djunaidi menjelaskan, terdapat 48 desa yang menjadi fokus garapan penurunan stunting.
Sebab, setelah melakukan analisa lokus stunting, tingkat stunting masih di atas 14 persen.
“Kami lakukan pemetaan fokus penurunan stunting untuk tahun ini dari data analisis lapangan,” katanya.
Mahbub mengungkapkan, dari 48 desa itu tersebar di sepuluh kecamatan. Meliputi, Kecamatan Jati, Randublatung, Kedungtuban, Cepu, Sambong, Banjarejo, Jepon, Blora, Ngawen, dan Kunduran.
Sedangkan kecamatan dengan desa terbanyak stunting ada di Kecamatan Kunduran, dan Kecamatan Kedungtuban dengan jumlah 8 desa dibandingkan kecamatan lain.
“Selain kecamatan tersebut ada satu hingga tiga desa,” jelasnya.
Menurut Mahbub, program itu dilaksanakan dengan menerjunkan tim pendamping keluarga, pendamping desa, dan petugas di kecamatan. Terutama OPD terkait seperti dinas kesehatan, dinas sosial, dinas kependudukan dan melibatkan kemenag.
“Kemenag yang nanti akan memberikan penyuluhan pernikahan dini,” imbuhnya.
Mahbub menargetkan 48 desa menjadi acuan target pengentasan daerah menjadi zero stunting. Salah satu yang dilakukan dengan memberikan tambahan gizi bagi ibu hamil dan pemberian vitamin bagi pelajar SMA. “Diberikan vitamin agar darahnya tidak mengalami gangguan anemia,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Blora Ainia Sholichah mengungkapkan, pihaknya mendorong penggerak kade PKK tingkat desa untuk aktif dalam pengentasan stunting.
Menurutnya, kader di desa telah mendapatkan anggaran dari pemerintah desa (Pemdes). “Selain itu kami juga aktif melakukan pendataan dan pengawalan ibu hamil,” ujarnya.
Ainia mewanti-wanti bagi ibu hamil, karena rentan terhadap bayi yang dilahirkan, sehingga pemenuhan gizi saat hamil dan setelah melahirkan perlu dicukupi. “Kami harap jangan sampai ada kasus stunting baru,” terangnya. (luk/msu) Editor : M. Yusuf Purwanto