Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Tempe Daun Jati Masih Bertahan

Bachtiar Febrianto • Selasa, 13 Agustus 2019 | 18:16 WIB
Tempe Daun Jati Masih Bertahan
Tempe Daun Jati Masih Bertahan


BLORA, Radar Bojonegoro - Tempe daun jati menjadi salah satu kuliner khas Blora. Namun saat ini sangat jarang ditemukan. Salah satu yang masih setia membuatnya Painem, 70, warga Dukuh Banaran, Kelurahan/Kecamatan Randublatung. 


Namun saat kemarau seperti ini, dia kesulitan mendapatkan daun jati untuk pembungkusnya. Meski begitu dia tetap bertahan dengan tempe daun jatinya, ketika banyak penjual tempe beralih menggunakan bungkus plastik. ’’Saya mulai buat tempe sejak 50 tahun lalu,’’ ujar Painem kemarin (12/8).


Menurut dia, saat kali pertama membuat tempe, pembuat tempe daun jati masih sangat banyak. Terutama di desanya. Dia pun mengaku belajar membuat tempe dari tetangganya. ’’Tapi sekarang (pembuat tempe daun jati) tinggal sedikit. Salah satunya saya,’’ bebernya.


Dia menjelaskan, pembuatan tempe daun jati ini masih sangat tradisional. Mempertahankan kealamiannya. Semua dilakukan sendiri. Mulai mengaduk adonan kedelai hingga membungkus kedelai memakai daun jati. 


Sebelum dipakai membungkus tempe, daun jati lebih dahulu dilubangi kecil biar jamurnya bisa keluar nempel pada daun jati. Daun jati yang ada jamur tempenya ini yang dimanfaatkan jadi ragi organik, dikeringkan lalu dihancurkan lembut untuk campuran kedelai. 


’’Nggih ngeten niki mbendintene ndamel tempe. Bungkusi ngangge ron jati (Ya seperti ini setiap hari membuat tempe. Membungkus tempe memakai daun jati),’’ ujarnya.


Setiap hari dia mengaku menghabiskan 8 kilogram (kg) kedelai dan bisa menjadi 45 gendelan (bendel) tempe. Setiap bendel berisi 10 bungkus tempe daun jati. ’’Setiap hari sudah diambil pedagang, sudah pesanan semua. Jadinya jarang berjualan ke pasar,’’ ungkapnya.

Editor : Bachtiar Febrianto
#kuliner #blora