RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Salah satu polemik yang sering dihadapi masyarakat Kabupaten Bojonegoro adalah kekeringan di musim kemarau. Sebagian daerah memiliki mata air, namun mengering saat kemarau tiba. Sementara beberapa daerah lain tidak memiliki sumber mata air yang dapat dimanfaatkan.
Oleh karena itu bantuan kekeringan terus dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro untuk menyuplai air bersih kepada masyarakat terdampak kekeringan. Ada dua metode yang dilakukan, yakni penyaluran air melalui truk tangki, serta pengeboran sumur air.
“Selain sosialisasi untuk memanfaatkan air bersih dan memelihara sumber mata air, sumber mata air yang tidak pernah diperhatikan menjadi prioritas pengembangan kekeringan,” jelas Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Bojonegoro, Laela Nor Ainy. Restorasi sumber mata air dilakukan bersama dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
“Kita biasanya berkolaborasi dengan OPD teknis seperti PU SDA (Pekerjaan Umum Sumber Daya Air). Mereka dapat mengetahui apakah sumber daya yang sudah lama tidak difungsikan masih dapat difungsikan kembali melalui pengujian lokasi mata air di bawah tanah,” lanjut wanita yang biasa dipanggil Ani tersebut.
Sejak tahun lalu BPBD Bojonegoro juga telah mendapat bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mendirikan sumur bor.
“Tahun lalu kami mendirikan tujuh sumur bor di lima kecamatan, tahun ini rencananya kami mengajukan sepuluh titik di sembilan kecamatan,” ungkap Ani.
“Nanti setelah disetujui, sumur bor akan langsung dibangun. Sebelumnya kami telah mengajukan berdasarkan hasil cek mata air dan lokasi. Sehingga tinggal membangun jet pump dan tower,” lanjutnya.
Sumur bor yang telah didirikan terletak di Kecamatan Purwosari, Tambakrejo, Sugihwaras, Sumberrejo dan Kedewan.
“Tinggal proses pemipaan sumur yang akan dilakukan oleh Dinas PU Cipta Karya,” ujar Ani.
Sementara itu, sumur-sumur baru akan didirikan di area baru. Diantaranya Kecamatan Kepohbaru, Ngasem, Malo dan Trucuk. Selain itu, beberapa tempat lain yang telah dibuatkan sumur bor seperti Kecamatan Purwosari dan Tambakrejo turut menerima sumur bor baru.
Di samping pengeboran sumur, kegiatan penyaluran air melalui truk tangki juga masih berlanjut.
“Hingga kemarin (10/10) telah tersalurkan air bersih sekitar 1.500 liter, dan masih akan bertambah terus per harinya,” ujar Ani.
Berdasarkan data BPBD Bojonegoro, pada puncak kekeringan medio Juli 2024 lalu, terdapat 25 dari 28 kecamatan se-Bojonegoro yang terdampak kekeringan. Meliputi 235 dusun di 108 desa. Per Jumat sore (11/10), jumlah tersebut turun hampir separo. Menyisakan 118 dusun di 56 desa yang masih memerlukan penanganan kekeringan di 19 kecamatan.
Tentu, restorasi sumber mata air masih akan menjadi prioritas utama dalam mengatasi kekeringan. Dengan menyesuaikan profil geografis daerah terdampak kekeringan.
“Dalam jangka panjang kami akan berkomunikasi dengan OPD terkait untuk sumber mata air yang sudah lama tidak terpakai,” lanjutnya.
“Selain itu, di beberapa daerah juga tidak bisa dipaksakan untuk membangun sumur bor untuk memperoleh air. Karena memang area terdampak tersebut tidak ada sumber mata air. Sehingga daerah setempat masih menganggarkan APBDes untuk memperoleh distribusi air,” jelas Ani.
Meskipun akhir-akhir ini mulai turun hujan kembali di Bojonegoro, penyaluran air tetap akan dilanjutkan hingga musim penghujan menghampiri Kota Ledre.
“Karena menurut BMKG pergantian musim penghujan tiba pada November, dengan puncak pada Januari-Februari, sehingga meskipun Bojonegoro mulai turun hujan belakangan ini, bukan berarti sudah berganti musim,” ungkap Ani.
“Untuk Oktober sendiri, hujan akan mulai turun pada minggu kedua, namun tidak merubah pergantian musim. Sehingga intensitas hujan saat ini masih tergolong jarang, dan bantuan air bersih masih akan disediakan. Kami juga melakukan monev ke berbagai desa untuk memastikan persediaan dan kecukupan air,” lanjutnya. (*/edo/cho)
Editor : Yuan Edo Ramadhana