Kemarin sekaligus pengiriman perdana beras produk KPA ke kantor Baashitu. Setidaknya 1,1 ton beras terkirim hingga Rabu siang. Selanjutnya beras dikelola Baashitu untuk kebutuhan makan para pekerja di Lapangan Banyu Urip.
Jajaran manajemen dari operator Lapangan Banyu Urip, ExxonMobil Cepu Limited selaku pengguna jasa Baashitu menyaksikan acara ini. Hadir juga, Kepala Desa (Kades) Katur dan Forum Pimpinan Kecamatan Gayam. “Kami bangga dan senang menyaksikan penandatanganan ini. Sebuah awal baik kesuksesan bersama,” ujar External Affairs Manager EMCL Ichwan Arifin.
Dia menuturkan bahwa KPA Makmur Sejahtera Bersama adalah hasil dari program pengembangan masyarakat (PPM) EMCL sejak 2014. Saat itu, EMCL memberi pendampingan para petani sekitar Lapangan Banyu Urip. Mulai petani padi, peternak, hingga masyarakat produsen hasil pertanian.
KPA menjadi wadah 263 petani binaan program dari 12 desa di Kecamatan Gayam, serta dua desa di Kecamatan Kalitidu. Gabah para petani dibeli koperasi, lalu diolah menjadi produk beras konsumsi. Beras dengan merek Patembayan Dewi Sri ini jenis menthik wangi.
Produk beras dijual kepada konsumen di toko-toko dan minimarket, serta dengan perusahaan seperti hotel dan distributor. Beras Patembayan Dewi Sri beredar di Bojonegoro hingga beberapa kota lainnya di Jawa Timur.
Lebih dari seribu ton gabah kering diserap dari petani dan diolah menjadi beras produk KPA bernilai lebih. Serta akhirnya keuntungan koperasi kembali para petani sebagai anggota. “Kerja sama KPA dengan Baashitu upaya kita untuk menciptakan nilai bersama atau creating shared value dari program kemasyarakatan,” imbuh Ichwan.
“Kerjasama ini menjadi bukti bahwa para petani yang tergabung di KPA mampu bersaing di pasar industri pangan,” lanjut Ichwan.
Kades Katur Sukono mengapresiasi kepada EMCL dan Baashitu memberi kesempatan petani lokal. “Hari ini terwujud impian saya sejak lama. Saya sangat terharu dan bangga,” ujar Sukono.
Ketua KPA Darusman mengatakan, para petani luar biasa mewujudkan bisa memasok beras. Proses mulai uji kualitas di laboratorium hingga sertifikasi. Tentu tidak mudah sampai level tersebut.
“Terima kasih EMCL mendukung kami. Mulai pendampingan, pemberian modal usaha, hingga bantuan alat seperti penggilingan, ayakan gabah, dan berbagai alat penunjang lainnya demi terwujudnya kemandirian petani lokal,” jelas Darusman.
Dia berharap, KPA menjawab tantangan dan kebutuhan industri dan para petani. Menjadi solusi petani lokal dan turut membantu ketahanan pangan di Bojonegoro.
“Semoga kita bisa terus konsisten, maju, dan mampu bersaing ke level lebih tinggi dan lebih luas cakupannya,” jelasnya. (rij/msu) Editor : Khorij Zaenal Asrori