29.3 C
Bojonegoro
Wednesday, November 30, 2022

Choirul Huda Dikenang Banyak Orang

- Advertisement -

KOTA – Sejumlah insan sepak bola di Indonesia kemarin (16/10) menunjukkan kepeduliannya dengan mendatangi rumah duka pemain bernomor punggung 1 tersebut.

‘’Alhamdulillah, banyak yang takziah, saya minta kesalahannya dimaaafkan,’’ tutur Lidya Anggraini, istri Choirul Huda.

Manajer Persib Bandung, Umu Muhtar, kemarin juga mendatangi rumah yang dipenuhi karangan bunga tersebut. ‘’Saya ikut berduka atas meninggalnya Choirul Huda,’’ tuturnya.

Dia menilai sosok Huda adalah pemain yang punya komitmen tinggi. Alasannya, sejak berkarir di sepak bola, dia terus bergabung dengan Laskar Joko Tingkir. Meskipun ada tawaran dari klub lain. ‘’Komitmennya kuat,’’ ujarnya.

Ummu juga respek dengan sikap Huda semasa hidupnya. Saat Persela berlaga di Gelora Bandung Lautan Api, penjaga gawang tersebut mendatanginya.  

- Advertisement -

Setelah Umuh meninggalkan rumah duka, giliran Surya, perwakilan dari PT Liga Indonesia Baru (LIB) yang menyampaikan duka cita. Namun, pria setengah baya itu enggan memberikan keterangan terkait meninggalnya pemain saat di lapangan.

‘’Saya hanya perwakilan, yang jelas ini baru pertama terjadi,’’ katanya sambil meninggalkan rumah duka.

Kemarin sore, Bupati Lamongan Fadeli kembali mendatangi rumah duka. Dia didampingi Sekkab Yuhronur Efendi. Tak lama kemudian, Kapolres AKBP Juda Nusa Putra beserta jajarannya menyusul datang ke rumah duka. Lidya didampingi kedua anaknya juga sempat foto bersama dengan polisi berpangkat dua melati di pundaknya tersebut.

‘’Kita ikut berbela sungkawa, untuk biaya pendidikan anak Choirul Huda sampai lulus SMA, kami tanggung,’’ janji Fadeli.

Menurut orang nomor satu di Pemkab Lamongan itu, Choirul Huda dikenal sebagai pribadi yang tangguh dan memiliki komitmen kuat untuk membesarkan nama Lamongan melalui sepak bola. 

Baca Juga :  Mantan Gelandang Timnas PSSI Ini Ikut Bergabung

Tadi malam, mantan kapten timnas PSSI Ponaryo Astaman juga mendatangi rumah duka.  Seperti diberitakan, Huda mengalami benturan dengan stoper Ramon Rodrigues De Mesquita. Huda pun memegang dada kirinya. Petugas medis datang, lalu memberikan pertolongan kepada Huda. 

Setelah itu, mendung menyelimuti laga kontra Persela lawan Semen Padang di Stadion Surajaya Lamongan Minggu (15/10) sore. Perasaan suporter Persela bercampur aduk. 

Persela menang 2-0 atas Kabau Sirah, julukan Semen Padang.  Di sisi lain, kiper senior itu dikabarkan nyawanya tak tertolong.  

Tim Medis Persela, Zaki, menjelaskan, Huda masih bernapas saat berada di lapangan. Setelah itu, bapak dua anak tersebut dibawa ke RSUD Dr Soegiri Lamongan. 

‘‘Kita upayakan perawatan, tapi akhirnya mengembuskan napas terakhir di sini (RSUD Dr Soegiri),’’ tuturnya.

Sementara itu, Kepala Unit Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Dr Soegiri Lamongan Dr. Yudhistiro Andri Nugroho menjelaskan, Huda mengalami trauma karena berbenturan dengan sesama pemain. ”Jadi, terjadi apa yang kita sebut henti napas dan henti jantung,’’ ujar dokter spesialis anestesi tersebut. 

Rekan-rekan medis di TKP, lanjut dia, melakukan penanganan dengan bantuan napas serta segera membawa ke RSUD Dr Soegiri. ”Selama di ambulans juga dilakukan penanganan secara medis,’’ ujarnya. 

RSUD Dr Soegiri Lamongan menyiapkan tim dan alat, karena sudah ada koordinasi sebelumnya. Setelah itu, tim medis memasang alat bantu napas yang sifatnya permanen. Tim medis melakukan intubasi dengan langiroskop menggunakan alat endotrakecup. 

”Dengan perawatan itu tujuannya memastikan oksigen 100 persen masuk ke paru-paru,’’ imbuhnya. 

Harapannya, dengan resustansi otak dan jantung, bisa mengembalikan fungsi normal tubuh pasien. Diakuinya, sempat terdapat respons pada Huda dengan gambaran kulit merah. Namun, kondisinya makin menurun, hingga akhirnya dinyatakan meninggal pukul 16.45.

Baca Juga :  Balas Dendam Yang Berat

Yudhistiro memperkirakan, ada benturan di dada dan rahang bawah. Sehingga, ada trauma kepala dan trauma leher. Di dalam tulang leher, terdapat sumsum yang menghubungkan ke batang otak, yakni terdapat pusat organ vital jantung dan pusat napas. 

”Benturan di sana membuat Mas Huda mengalami henti napas dan henti jantung,’’ katanya. 

Namun, itu baru hasil analisa awal dari dokter. Sebab, Huda belum sempat melakukan skening. Diakuinya, kondisi kritis seperti yang dialami Huda tidak memungkinkan untuk ditransport ke ruang radiologi. 

”Kita lebih fokuskan pada penyelamatan kondisi awal dulu di emergency. Rekan-rekan medis sudah berupaya keras satu jam untuk menyelamatkan nyawa Huda,’’ katanya. 

Ribuan pendukung Persela memadati RSUD untuk memberikan penghargaan malam terakhir bagi Huda. Bapak dua anak itu dibawa ke rumah duka sebelum dimakamkan. Malam itu, Bupati Fadeli dan rombongannya ikut menyampaikan duka cita.

Huda akhirnya dimakamkan Minggu (15/10) malam di Makam Islam Pagerwojo Lamongan. Ribuan pendukung Persela mengawal ‘’tempat akhir’’ kepergian Huda selamanya. 

Beberapa pemain klub di Liga 1 juga mendatangi rumah duka. Di antaranya penjaga gawang Arema FC Dwi Kuswanto bersama istri, Tamsil Sijaya dan Jayusman. Sementara mantan Bupati Lamongan Masfuk juga menyempatkan diri untuk menyampaikan duka cita. ‘’Huda itu patut dihargai karena jasanya sebagai pemain sepak bola itu mengharumkan nama daerah. Dengan setia membela Persela selama 18 tahun,’’ katanya.

KOTA – Sejumlah insan sepak bola di Indonesia kemarin (16/10) menunjukkan kepeduliannya dengan mendatangi rumah duka pemain bernomor punggung 1 tersebut.

‘’Alhamdulillah, banyak yang takziah, saya minta kesalahannya dimaaafkan,’’ tutur Lidya Anggraini, istri Choirul Huda.

Manajer Persib Bandung, Umu Muhtar, kemarin juga mendatangi rumah yang dipenuhi karangan bunga tersebut. ‘’Saya ikut berduka atas meninggalnya Choirul Huda,’’ tuturnya.

Dia menilai sosok Huda adalah pemain yang punya komitmen tinggi. Alasannya, sejak berkarir di sepak bola, dia terus bergabung dengan Laskar Joko Tingkir. Meskipun ada tawaran dari klub lain. ‘’Komitmennya kuat,’’ ujarnya.

Ummu juga respek dengan sikap Huda semasa hidupnya. Saat Persela berlaga di Gelora Bandung Lautan Api, penjaga gawang tersebut mendatanginya.  

- Advertisement -

Setelah Umuh meninggalkan rumah duka, giliran Surya, perwakilan dari PT Liga Indonesia Baru (LIB) yang menyampaikan duka cita. Namun, pria setengah baya itu enggan memberikan keterangan terkait meninggalnya pemain saat di lapangan.

‘’Saya hanya perwakilan, yang jelas ini baru pertama terjadi,’’ katanya sambil meninggalkan rumah duka.

Kemarin sore, Bupati Lamongan Fadeli kembali mendatangi rumah duka. Dia didampingi Sekkab Yuhronur Efendi. Tak lama kemudian, Kapolres AKBP Juda Nusa Putra beserta jajarannya menyusul datang ke rumah duka. Lidya didampingi kedua anaknya juga sempat foto bersama dengan polisi berpangkat dua melati di pundaknya tersebut.

‘’Kita ikut berbela sungkawa, untuk biaya pendidikan anak Choirul Huda sampai lulus SMA, kami tanggung,’’ janji Fadeli.

Menurut orang nomor satu di Pemkab Lamongan itu, Choirul Huda dikenal sebagai pribadi yang tangguh dan memiliki komitmen kuat untuk membesarkan nama Lamongan melalui sepak bola. 

Baca Juga :  Sugeng Terancam Absen Lama

Tadi malam, mantan kapten timnas PSSI Ponaryo Astaman juga mendatangi rumah duka.  Seperti diberitakan, Huda mengalami benturan dengan stoper Ramon Rodrigues De Mesquita. Huda pun memegang dada kirinya. Petugas medis datang, lalu memberikan pertolongan kepada Huda. 

Setelah itu, mendung menyelimuti laga kontra Persela lawan Semen Padang di Stadion Surajaya Lamongan Minggu (15/10) sore. Perasaan suporter Persela bercampur aduk. 

Persela menang 2-0 atas Kabau Sirah, julukan Semen Padang.  Di sisi lain, kiper senior itu dikabarkan nyawanya tak tertolong.  

Tim Medis Persela, Zaki, menjelaskan, Huda masih bernapas saat berada di lapangan. Setelah itu, bapak dua anak tersebut dibawa ke RSUD Dr Soegiri Lamongan. 

‘‘Kita upayakan perawatan, tapi akhirnya mengembuskan napas terakhir di sini (RSUD Dr Soegiri),’’ tuturnya.

Sementara itu, Kepala Unit Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Dr Soegiri Lamongan Dr. Yudhistiro Andri Nugroho menjelaskan, Huda mengalami trauma karena berbenturan dengan sesama pemain. ”Jadi, terjadi apa yang kita sebut henti napas dan henti jantung,’’ ujar dokter spesialis anestesi tersebut. 

Rekan-rekan medis di TKP, lanjut dia, melakukan penanganan dengan bantuan napas serta segera membawa ke RSUD Dr Soegiri. ”Selama di ambulans juga dilakukan penanganan secara medis,’’ ujarnya. 

RSUD Dr Soegiri Lamongan menyiapkan tim dan alat, karena sudah ada koordinasi sebelumnya. Setelah itu, tim medis memasang alat bantu napas yang sifatnya permanen. Tim medis melakukan intubasi dengan langiroskop menggunakan alat endotrakecup. 

”Dengan perawatan itu tujuannya memastikan oksigen 100 persen masuk ke paru-paru,’’ imbuhnya. 

Harapannya, dengan resustansi otak dan jantung, bisa mengembalikan fungsi normal tubuh pasien. Diakuinya, sempat terdapat respons pada Huda dengan gambaran kulit merah. Namun, kondisinya makin menurun, hingga akhirnya dinyatakan meninggal pukul 16.45.

Baca Juga :  PTMSI Perkuat Turnamen Internal

Yudhistiro memperkirakan, ada benturan di dada dan rahang bawah. Sehingga, ada trauma kepala dan trauma leher. Di dalam tulang leher, terdapat sumsum yang menghubungkan ke batang otak, yakni terdapat pusat organ vital jantung dan pusat napas. 

”Benturan di sana membuat Mas Huda mengalami henti napas dan henti jantung,’’ katanya. 

Namun, itu baru hasil analisa awal dari dokter. Sebab, Huda belum sempat melakukan skening. Diakuinya, kondisi kritis seperti yang dialami Huda tidak memungkinkan untuk ditransport ke ruang radiologi. 

”Kita lebih fokuskan pada penyelamatan kondisi awal dulu di emergency. Rekan-rekan medis sudah berupaya keras satu jam untuk menyelamatkan nyawa Huda,’’ katanya. 

Ribuan pendukung Persela memadati RSUD untuk memberikan penghargaan malam terakhir bagi Huda. Bapak dua anak itu dibawa ke rumah duka sebelum dimakamkan. Malam itu, Bupati Fadeli dan rombongannya ikut menyampaikan duka cita.

Huda akhirnya dimakamkan Minggu (15/10) malam di Makam Islam Pagerwojo Lamongan. Ribuan pendukung Persela mengawal ‘’tempat akhir’’ kepergian Huda selamanya. 

Beberapa pemain klub di Liga 1 juga mendatangi rumah duka. Di antaranya penjaga gawang Arema FC Dwi Kuswanto bersama istri, Tamsil Sijaya dan Jayusman. Sementara mantan Bupati Lamongan Masfuk juga menyempatkan diri untuk menyampaikan duka cita. ‘’Huda itu patut dihargai karena jasanya sebagai pemain sepak bola itu mengharumkan nama daerah. Dengan setia membela Persela selama 18 tahun,’’ katanya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Raperda Pesantren di Meja DPRD

APBD 2023 Ditetapkan Rp 2,2 Triliun

Pamerkan Busana dari Batik Blora

Dijanjikan Penerbangan Tahun Depan


/