alexametrics
30.3 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Ulang Tahun ke-72, Ayo Bangun Persibo!

Refleksi ulang tahun ke-72 Persibo hari ini (12/3) yakni Bangunlah Persibo dari bobok atau tidur panjang. Setelah sanksi PSSI hampir setahun, kini ujian suporter berlanjut, yakni Persibo tanpa memiliki manajemen. Padahal, Persibo bukan sekadar sepak bola. Tapi identitas. Ya, identitas membawa Bojonegoro harum…

Tak ada yel-yel. Tak ada nyanyian anthem Jayalah Persiboku. Tak ada refleksi sejarah lahirnya Persibo. Ulang tahun ke 72 tepat hari ini serasa Persibo bobok atau tidur panjang. Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (11/3) berusaha mencari tempat jujukan untuk menanyakan nasib Persibo.

Mes Persibo berada di Jalan Untung Suropati, Bojonegoro, kemarin siang tertutup. Tak ada aktivitas. Sepi. Hanya raung motor meraung. Mes Persibo sekaligus sekretariat askab PSSI itu menjadi jujukan tentang seluk beluk sepak bola Bojonegoro.

Sekitar pukul 16.00 kemarin, seorang perempuan dengan mengendarai motor matik datang. Membuka gerbang dan pintu. Debu terlihat memenuhi ruangan. Bangunan di timur lampu merah itu tersimpan harta karun Persibo. Berjejer piala dan trofi diraih Persibo masih tersimpan. Hanya, kondisi tidak terawat.

Piala-piala yang meneteskan air mata pemain merengkuh juara itu ternyata berdebu. Piala diletakkan di meja terbuka. Ada sembilan piala. Dua dari beberapa piala tersebut cukup menarik dengan bentuk menyerupai cawan besar. Satu emas satu perak. Terdapat tulisan “Juara I Kompetisi Sepak Bola Divisi Satu PSSI 2007” pada piala emas tersebut. Sedangkan piala perak bertuliskaan “Juara III Kompetisi PSSI Divisi Dua 2001/2002”.

Saat ini, upaya membangkitkan tim Persibo tidak bisa sekadar bicara. Butuh aksi nyata mengawal terbentuknya manajemen baru Persibo. Manajemen ini menjadi jejak awal. Sejak manajemen lama menyerahkan Persibo ke pemkab Cq Askab PSSI Bojonegoro, 19 Februari 2020 lalu, saat ini belum ada kejelasan manajemen.

Baca Juga :  Sabet Lima Medali, Tapi Tak Sesuai Target

Sejauh ini hanya elemen suporter fokus mengawal pembentukan manajemen. Presiden Boromania Priyanto mengatakan, bahwa Boromania, Drago Tifoso Curva Nord, dan elemen suporter telah rapat internal dan menyusun tim formatur membentuk manajemen baru Persibo. Hingga akhirnya, keluar nama-nama kandidat sosok dinilai tepat mengisi manajemen baru Persibo.

“Karena itu, besok Sabtu (13/3) kami mulai mengintensifkan komunikasi dengan para kandidat yang cocok mengisi manajemen baru Persibo. Rencananya kami akan bertemu dengan Pak Ali Dupa terlebih dahulu,” ucap Jasmo sapaan akrabnya. Selanjutnya, elemen suporter Persibo akan berkomunikasi dengan kandidat lain.

Di antaranya Handoko pemilik GoFun dan Real Food, Erwin pemilik SPBU Veteran dan Jetak, Amari selaku Owner Aston Hotel dan Fave Hotel, serta Wakil Ketua DPRD Bojonegoro Sukur Priyanto.

Di sisi lain, Jasmo berharap Bupati Anna Mu’awanah ikut membantu membangunkan lagi tim pernah berjuluk The Giant Killer itu. Karena ketika Persibo bangun lagi dan bisa menorehkan prestasi, bukan tidak mungkin nama Bojonegoro ikut terangkat. Jadi, semua unsur baik pemerintah, manajemen, dan suporter harus duduk satu meja untuk merumuskan nasib Persibo secara tepat.

“Sepak bola dan bangunnya Persibo bukan hanya sebagai hiburan masyarakat semata. Tetapi, Persibo bisa menjadi identitas Bojonegoro yang kuat,” tuturnya.

Apabila nanti manajemen baru Persibo terbentuk, para elemen suporter tetap akan mengawal secara serius. Sehingga jangan sampai ke depannya Persibo hanya numpang lewat di Liga 3. Target dipasang Persibo harus tinggi. “Kalau bisa targetnya pada 2023 mendatang, Persibo sudah naik kasta Liga 1,” tegasnya.

Baca Juga :  Demerson Bruno Costa, Stoper Asing Andalan Persela

Ada beberapa opsi bisa dilakukan manajemen baru Persibo. Pertama, melakukan merger tim Liga 2 atau Liga 1. Kedua, mengakuisisi tim Liga 2 atau Liga 3. Ketiga, merintis dari awal dengan perencanaan matang agar tiap musimnya bisa raih juara. Elemen suporter pun bakal berkontribusi dari sisi pendanaan bagi Persibo. Rencananya bakal merilis merchandise Persibo dan mendaftarkan secara resmi hak kekayaan intelektual (Haki). Sehingga, beberapa persen setiap penjualan merchandise diberikan ke Persibo.

“Kalau nantinya main di Liga 3, setidaknya selama satu musim itu membutuhkan dana sekitar Rp 2 miliar. Kalau Liga 2 sekitar Rp 4 miliar. Sedangkan Liga 1 butuh dana sekitar Rp 10 miliar,” imbuh pria asal Kecamatan Sumberrejo itu.

Jasmo tidak bisa memungkiri dengan kondisi Persibo masih tidur dan prestasi merosot membuat masyarakat Bojonegoro enggan mendukung Persibo. Baginya hal itu manusiawi. Karena itu, seberapa pun jumlah elemen suporter saat ini harus bisa membuktikan kepada masyarakat Bojonegoro bahwa Persibo mampu torehkan prestasi terbaiknya.

“Syukurnya masih banyak suporter tetap mendukung Persibo untuk bangun dan bangkit lagi dalam kondisi apapun. Jadi kami harus fokus dulu mengawalnya,” jelasnya. Sementara itu, Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Bojonegoro Amir Syahid mengatakan, Persibo merupakan persatuan olahraga sepak bola. Ketentuan aturan sampai saat ini di bawah binaan PSSI.

Tentu, jika di daerah setingkat kota/kabupaten rujukannya askab PSSI. Sehingga, Amir menyarankan agar bertanya ke askab PSSI. Mulai dari pembentukan organisasi, sampai dengan atlet dan teknik bermain. Ketua Askab PSSI Bojonegoro Akhyar hingga tadi malam belum bisa dikonfirmasi. Hal senada juga terjadi ketika mengonfirmasi Ketua KONI Bojonegoro Ali Mahmudi. (irv)

Refleksi ulang tahun ke-72 Persibo hari ini (12/3) yakni Bangunlah Persibo dari bobok atau tidur panjang. Setelah sanksi PSSI hampir setahun, kini ujian suporter berlanjut, yakni Persibo tanpa memiliki manajemen. Padahal, Persibo bukan sekadar sepak bola. Tapi identitas. Ya, identitas membawa Bojonegoro harum…

Tak ada yel-yel. Tak ada nyanyian anthem Jayalah Persiboku. Tak ada refleksi sejarah lahirnya Persibo. Ulang tahun ke 72 tepat hari ini serasa Persibo bobok atau tidur panjang. Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (11/3) berusaha mencari tempat jujukan untuk menanyakan nasib Persibo.

Mes Persibo berada di Jalan Untung Suropati, Bojonegoro, kemarin siang tertutup. Tak ada aktivitas. Sepi. Hanya raung motor meraung. Mes Persibo sekaligus sekretariat askab PSSI itu menjadi jujukan tentang seluk beluk sepak bola Bojonegoro.

Sekitar pukul 16.00 kemarin, seorang perempuan dengan mengendarai motor matik datang. Membuka gerbang dan pintu. Debu terlihat memenuhi ruangan. Bangunan di timur lampu merah itu tersimpan harta karun Persibo. Berjejer piala dan trofi diraih Persibo masih tersimpan. Hanya, kondisi tidak terawat.

Piala-piala yang meneteskan air mata pemain merengkuh juara itu ternyata berdebu. Piala diletakkan di meja terbuka. Ada sembilan piala. Dua dari beberapa piala tersebut cukup menarik dengan bentuk menyerupai cawan besar. Satu emas satu perak. Terdapat tulisan “Juara I Kompetisi Sepak Bola Divisi Satu PSSI 2007” pada piala emas tersebut. Sedangkan piala perak bertuliskaan “Juara III Kompetisi PSSI Divisi Dua 2001/2002”.

Saat ini, upaya membangkitkan tim Persibo tidak bisa sekadar bicara. Butuh aksi nyata mengawal terbentuknya manajemen baru Persibo. Manajemen ini menjadi jejak awal. Sejak manajemen lama menyerahkan Persibo ke pemkab Cq Askab PSSI Bojonegoro, 19 Februari 2020 lalu, saat ini belum ada kejelasan manajemen.

Baca Juga :  Pemain, Manajemen Tim, Panpel Persela Jalani Swab Test

Sejauh ini hanya elemen suporter fokus mengawal pembentukan manajemen. Presiden Boromania Priyanto mengatakan, bahwa Boromania, Drago Tifoso Curva Nord, dan elemen suporter telah rapat internal dan menyusun tim formatur membentuk manajemen baru Persibo. Hingga akhirnya, keluar nama-nama kandidat sosok dinilai tepat mengisi manajemen baru Persibo.

“Karena itu, besok Sabtu (13/3) kami mulai mengintensifkan komunikasi dengan para kandidat yang cocok mengisi manajemen baru Persibo. Rencananya kami akan bertemu dengan Pak Ali Dupa terlebih dahulu,” ucap Jasmo sapaan akrabnya. Selanjutnya, elemen suporter Persibo akan berkomunikasi dengan kandidat lain.

Di antaranya Handoko pemilik GoFun dan Real Food, Erwin pemilik SPBU Veteran dan Jetak, Amari selaku Owner Aston Hotel dan Fave Hotel, serta Wakil Ketua DPRD Bojonegoro Sukur Priyanto.

Di sisi lain, Jasmo berharap Bupati Anna Mu’awanah ikut membantu membangunkan lagi tim pernah berjuluk The Giant Killer itu. Karena ketika Persibo bangun lagi dan bisa menorehkan prestasi, bukan tidak mungkin nama Bojonegoro ikut terangkat. Jadi, semua unsur baik pemerintah, manajemen, dan suporter harus duduk satu meja untuk merumuskan nasib Persibo secara tepat.

“Sepak bola dan bangunnya Persibo bukan hanya sebagai hiburan masyarakat semata. Tetapi, Persibo bisa menjadi identitas Bojonegoro yang kuat,” tuturnya.

Apabila nanti manajemen baru Persibo terbentuk, para elemen suporter tetap akan mengawal secara serius. Sehingga jangan sampai ke depannya Persibo hanya numpang lewat di Liga 3. Target dipasang Persibo harus tinggi. “Kalau bisa targetnya pada 2023 mendatang, Persibo sudah naik kasta Liga 1,” tegasnya.

Baca Juga :  Demerson Bruno Costa, Stoper Asing Andalan Persela

Ada beberapa opsi bisa dilakukan manajemen baru Persibo. Pertama, melakukan merger tim Liga 2 atau Liga 1. Kedua, mengakuisisi tim Liga 2 atau Liga 3. Ketiga, merintis dari awal dengan perencanaan matang agar tiap musimnya bisa raih juara. Elemen suporter pun bakal berkontribusi dari sisi pendanaan bagi Persibo. Rencananya bakal merilis merchandise Persibo dan mendaftarkan secara resmi hak kekayaan intelektual (Haki). Sehingga, beberapa persen setiap penjualan merchandise diberikan ke Persibo.

“Kalau nantinya main di Liga 3, setidaknya selama satu musim itu membutuhkan dana sekitar Rp 2 miliar. Kalau Liga 2 sekitar Rp 4 miliar. Sedangkan Liga 1 butuh dana sekitar Rp 10 miliar,” imbuh pria asal Kecamatan Sumberrejo itu.

Jasmo tidak bisa memungkiri dengan kondisi Persibo masih tidur dan prestasi merosot membuat masyarakat Bojonegoro enggan mendukung Persibo. Baginya hal itu manusiawi. Karena itu, seberapa pun jumlah elemen suporter saat ini harus bisa membuktikan kepada masyarakat Bojonegoro bahwa Persibo mampu torehkan prestasi terbaiknya.

“Syukurnya masih banyak suporter tetap mendukung Persibo untuk bangun dan bangkit lagi dalam kondisi apapun. Jadi kami harus fokus dulu mengawalnya,” jelasnya. Sementara itu, Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Bojonegoro Amir Syahid mengatakan, Persibo merupakan persatuan olahraga sepak bola. Ketentuan aturan sampai saat ini di bawah binaan PSSI.

Tentu, jika di daerah setingkat kota/kabupaten rujukannya askab PSSI. Sehingga, Amir menyarankan agar bertanya ke askab PSSI. Mulai dari pembentukan organisasi, sampai dengan atlet dan teknik bermain. Ketua Askab PSSI Bojonegoro Akhyar hingga tadi malam belum bisa dikonfirmasi. Hal senada juga terjadi ketika mengonfirmasi Ketua KONI Bojonegoro Ali Mahmudi. (irv)

Artikel Terkait

Most Read

Bebaskan Perizinan Lingkungan

Dua Bulan, 53 Kasus Demam Berdarah

Sa’im Peduli, Dropping Air Bersih

Artikel Terbaru


/