alexametrics
24.8 C
Bojonegoro
Friday, May 27, 2022

Cerita Jibril, Winger U-18 yang Dipromosikan ke Persela di Liga 1

Radar lamongan – Jibril sudah membayangkan masuk dalam line-up Persela. Sebab, PSSI mengharuskan klub Liga 1 memasukkan dua pemain U-20 di daftar susunan pemain (DSP) pada setiap pertandingan.

Hari ini (3/10), seharusnya tim polesan Nil Maizar itu dijadwalkan menjamu Persipura Jayapura. Namun, winger 18 tahun tersebut harus memendam asanya. Kemenpora dan PSSI memutuskan kompetisi Liga 1 ditunda sebulan.

Kini, Jibril memanfaatkan waktu berkumpul bersama keluarga saat libur latihan seminggu ini. ‘’Sebenarnya sedikit kecewa, karena kemarin sudah sangat semangat dan membayangkan diberi kesempatan bermain lawan Persipura,’’ tutur Jibril kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (2/10).

Meski begitu, Jibril merasa bersyukur dirinya bisa mendapatkan kesempatan berlatih dan bermain dalam laga uji coba bersama tim senior. Jibril sempat diturunkan dalam beberapa laga uji coba Persela sebagai persiapan menghadapi Liga 1.

Nil Maizar menempatkan Jibril di sektor sayap kiri. Sekilas, gaya permainan alumnus SMAN 3 Blitar itu mirip mantan penggawa Persela, M Fahmi Al-Ayyubi yang kini berkostum Bali United.

‘’Waktu pertama diturunkan di laga uji coba kemarin, merasa senang tapi sedikit nervous. Pingin menunjukkan anak kecil tidak bisa diremehkan,’’ ujarnya. Bagi dia, ada perbedaan yang cukup mencolok ketika bermain di tim junior dan senior.

Apalagi, Persela bermain di kasta tertinggi kompetisi di Indonesia. Seluruh pemain dituntut untuk profesional dan menunjukkan performa terbaik. Sehingga, persaingan untuk bisa menembus starting line-up cukup kompetitif.

Baca Juga :  Aji dari Spanyol, Ada Perbedaannya....

‘’Disiplin dan motivasi di senior lebih tinggi. Karena bermain dengan pemain profesional. Pelatih juga mantan timnas, jadi motivasinya lebih tinggi,’’ ujar pesepakbola kelahiran Kecamatan Sugihwaras, Bojonegoro tersebut.

Meski hanya sebulan, Jibril mendapatkan pengalaman yang cukup besar. Terutama dari pemain senior Persela yang pernah memperkuat timnas PSSI. Jibril memiliki motivasi mampu memberikan kontribusi bagi Persela. Keinginan besarnya, mampu mempersembahkan gol bagi tim biru muda di Liga 1 nantinya.

‘’Cak Bustomi, habis latihan sering memberikan masukan. Kalau ke Bojonegoro, sering sama Mas Zaenuri dan Mas Novan,’’ tutur Jibril. Pemain asal Kota Ledre itu juga memimpikan bisa bermain dengan striker Samsul Arif Munif yang kini berseragam Persita Tangerang.

Jibril pernah bermain di pertandingan antar kampung (tarkam) bersama Samsul ketika dirinya masih duduk dibangku SMP. ‘’Pingin suatu saat nanti bisa main sama Cak Samsul,’’ ujar pesepak bola kelahiran 14 Juni 2002 tersebut.

Jibril mengenal sepak bola sejak masih duduk di bangku kelas 3 SD. Dua tahun kemudian, dia mendapatkan kesempatan bermain di turnamen lokal. Selanjutnya, Jibril diterima seleksi di akademi sepak bola PUMA Tuban ketika duduk di bangku SMP.

Saat itu, tak sengaja ada salah satu orang memanggilnya dengan sebutan Jibril. Di saat itulah, rekan-rekannya setim memanggilnya dengan sapaan Jibril. Dia tak tahu filosofi nya apa, tapi dia tidak keberatan nama panggilan tersebut.

Baca Juga :  Angka Covid Naik, Perpusda Pilih Tutup Sementara

Sebaliknya, keluarganya kini juga memberikan nama panggilan itu kepadanya. ‘’Justru sekarang tidak ada yang memanggil Revan. Orang-orang di rumah juga memanggil Jibril,’’ ujarnya.

Kedua orang tuanya cukup mendukung Jibril berkarir di sepak bola. Meskipun ayahnya bukan pesepak bola, kebutuhannya kerap dipenuhi. Seperti membelikan sepatu dan seragam. Namun, Jibril juga kerap mengumpulkan uang dari hasil menjadi top skor untuk memenuhi kebutuhannya berkarir sepak bola.

‘’Jadi memang bukan dari keluarga pesepak bola. Ayah lebih menggemari olahraga bulutangkis. Tapi sangat mendukung saya bermain sepak bola,’’ imbuhnya. Ketika lulus SMP, Jibril ikut di tim Kota Blitar untuk mengikuti Piala Soeratin U-15, yang selanjutnya naik ke Piala Soeratin U-17 di tahun berikutnya.

Setelah itu, Jibril dilirik Elite Pro Academy (EPA) Lamongan untuk bergabung dengan Persela U-16 pada 2018. Tahun lalu, Jibril membela skuad Persela U-18 Liga 1 U-18. Jibril tidak hanya ingin serius berkarir di sepak bola.

Dia juga masih memprioritaskan pendidikan. Jibril sudah mendaftar di salah satu univertitas swasta di Bojonegoro. ‘’Alhamdulillah tahun ini bisa promosi di senior. Sangat bangga, soalnya dari dulu juga ingin bermain di senior Persela,’’ ujar putra kedua pasangan Bambang Riyanto dan Hanum Nurita tersebut.

Radar lamongan – Jibril sudah membayangkan masuk dalam line-up Persela. Sebab, PSSI mengharuskan klub Liga 1 memasukkan dua pemain U-20 di daftar susunan pemain (DSP) pada setiap pertandingan.

Hari ini (3/10), seharusnya tim polesan Nil Maizar itu dijadwalkan menjamu Persipura Jayapura. Namun, winger 18 tahun tersebut harus memendam asanya. Kemenpora dan PSSI memutuskan kompetisi Liga 1 ditunda sebulan.

Kini, Jibril memanfaatkan waktu berkumpul bersama keluarga saat libur latihan seminggu ini. ‘’Sebenarnya sedikit kecewa, karena kemarin sudah sangat semangat dan membayangkan diberi kesempatan bermain lawan Persipura,’’ tutur Jibril kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (2/10).

Meski begitu, Jibril merasa bersyukur dirinya bisa mendapatkan kesempatan berlatih dan bermain dalam laga uji coba bersama tim senior. Jibril sempat diturunkan dalam beberapa laga uji coba Persela sebagai persiapan menghadapi Liga 1.

Nil Maizar menempatkan Jibril di sektor sayap kiri. Sekilas, gaya permainan alumnus SMAN 3 Blitar itu mirip mantan penggawa Persela, M Fahmi Al-Ayyubi yang kini berkostum Bali United.

‘’Waktu pertama diturunkan di laga uji coba kemarin, merasa senang tapi sedikit nervous. Pingin menunjukkan anak kecil tidak bisa diremehkan,’’ ujarnya. Bagi dia, ada perbedaan yang cukup mencolok ketika bermain di tim junior dan senior.

Apalagi, Persela bermain di kasta tertinggi kompetisi di Indonesia. Seluruh pemain dituntut untuk profesional dan menunjukkan performa terbaik. Sehingga, persaingan untuk bisa menembus starting line-up cukup kompetitif.

Baca Juga :  Stan Kosong Pasar Banjarejo Berpotensi Mengundang Pedagang Pasar Kota

‘’Disiplin dan motivasi di senior lebih tinggi. Karena bermain dengan pemain profesional. Pelatih juga mantan timnas, jadi motivasinya lebih tinggi,’’ ujar pesepakbola kelahiran Kecamatan Sugihwaras, Bojonegoro tersebut.

Meski hanya sebulan, Jibril mendapatkan pengalaman yang cukup besar. Terutama dari pemain senior Persela yang pernah memperkuat timnas PSSI. Jibril memiliki motivasi mampu memberikan kontribusi bagi Persela. Keinginan besarnya, mampu mempersembahkan gol bagi tim biru muda di Liga 1 nantinya.

‘’Cak Bustomi, habis latihan sering memberikan masukan. Kalau ke Bojonegoro, sering sama Mas Zaenuri dan Mas Novan,’’ tutur Jibril. Pemain asal Kota Ledre itu juga memimpikan bisa bermain dengan striker Samsul Arif Munif yang kini berseragam Persita Tangerang.

Jibril pernah bermain di pertandingan antar kampung (tarkam) bersama Samsul ketika dirinya masih duduk dibangku SMP. ‘’Pingin suatu saat nanti bisa main sama Cak Samsul,’’ ujar pesepak bola kelahiran 14 Juni 2002 tersebut.

Jibril mengenal sepak bola sejak masih duduk di bangku kelas 3 SD. Dua tahun kemudian, dia mendapatkan kesempatan bermain di turnamen lokal. Selanjutnya, Jibril diterima seleksi di akademi sepak bola PUMA Tuban ketika duduk di bangku SMP.

Saat itu, tak sengaja ada salah satu orang memanggilnya dengan sebutan Jibril. Di saat itulah, rekan-rekannya setim memanggilnya dengan sapaan Jibril. Dia tak tahu filosofi nya apa, tapi dia tidak keberatan nama panggilan tersebut.

Baca Juga :  Lima Titik Trotoar Dilelang, Total Pagu Rp 17,6 Miliar

Sebaliknya, keluarganya kini juga memberikan nama panggilan itu kepadanya. ‘’Justru sekarang tidak ada yang memanggil Revan. Orang-orang di rumah juga memanggil Jibril,’’ ujarnya.

Kedua orang tuanya cukup mendukung Jibril berkarir di sepak bola. Meskipun ayahnya bukan pesepak bola, kebutuhannya kerap dipenuhi. Seperti membelikan sepatu dan seragam. Namun, Jibril juga kerap mengumpulkan uang dari hasil menjadi top skor untuk memenuhi kebutuhannya berkarir sepak bola.

‘’Jadi memang bukan dari keluarga pesepak bola. Ayah lebih menggemari olahraga bulutangkis. Tapi sangat mendukung saya bermain sepak bola,’’ imbuhnya. Ketika lulus SMP, Jibril ikut di tim Kota Blitar untuk mengikuti Piala Soeratin U-15, yang selanjutnya naik ke Piala Soeratin U-17 di tahun berikutnya.

Setelah itu, Jibril dilirik Elite Pro Academy (EPA) Lamongan untuk bergabung dengan Persela U-16 pada 2018. Tahun lalu, Jibril membela skuad Persela U-18 Liga 1 U-18. Jibril tidak hanya ingin serius berkarir di sepak bola.

Dia juga masih memprioritaskan pendidikan. Jibril sudah mendaftar di salah satu univertitas swasta di Bojonegoro. ‘’Alhamdulillah tahun ini bisa promosi di senior. Sangat bangga, soalnya dari dulu juga ingin bermain di senior Persela,’’ ujar putra kedua pasangan Bambang Riyanto dan Hanum Nurita tersebut.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/