Tawa bahagia menguar beriring dengan semangat yang tertunjukkan. Lemparan candaan membuat suasana semakin ramai. Keseriusan dalam menjalani setiap proses untuk menghasilkan sebuah karya dibalut dengan riang bahagia.
Tidak ada kesedihan, yang ada hanya kebahagiaan beriring semangat yang tersajikan. Para peserta disabilitas produktif tampak bersemangat mengikuti pelatihan pembuatan karya di Shelter Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Dinas Sosial Bojonegoro.
Salah satunya, Setiti Rahayu disabilitas asal Desa Tapelan, Kecamatan Kapas tersebut dengan semangat mempraktikkan pembuatan kue saat itu. Bersama dengan peserta disabilitas lainnya, ia belajar membuat kue tart dengan penuh canda tawa.
’’Saya sebenarnya seorang penjahit, mengikuti pelatihan ini agar bisa membuat kue. Jadi, nantinya bisa banyak hal lainnya, tidak hanya menjahit,” ujar perempuan 44 tahun tersebut. Keterbatasan tidak membuat Setiti hanya berpangku tangan.
Justru, dengan keterbatasan yang dimiliki, ia membuktikan kepada dunia bahwa tidak kalah dengan lainnya. Tekadnya menguat untuk menguasai banyak hal. Bahkan, seolah tiada lelah ia terus meng-upgrade skill yang dimilikinya.
Setiti mulai belajar menjahit sejak sekitar 2017 lalu melalui pelatihan menjahit dalam program disabilitas produktif. Berawal dari kebingungannya untuk bekerja apa, kemudian mendapat dorongan dari keluarga untuk mengikuti pelatihan menjahit.
Mengingat, bahwa menjahit bisa dilakukan dari rumah dengan pelanggan yang menghampiri lokasinya. ’’Dulu saya mikir, orang cacat usaha apa. Kemudian, dari kakak-kakak saya memberi semangat untuk ikut pelatihan menjahit. Akhirnya, mengikuti pelatihan dan sekarang Alhamdulillah menjadi seorang penjahit,” kisahnya.
Beragam karya jahit telah dihasilkan Setiti. Bahkan, menjahit telah menjadi penghasilannya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Setiti melakukan pekerjaan menjahit dengan bahagia, tanpa tekanan ataupun keluhan.
Namun, meski begitu tetap ada bagian dalam proses menjahit yang menjadi kesulitannya. Yakni, pada proses pemotongan kain. Sehingga, masih meminta orang lain untuk melakukan pemotongan.
’’Saya juga pernah mengikuti pelatihan menjahit di Solo selama satu tahun. Tapi, karena guyon terus dan tidak memperhatikan, akhirnya sekarang belum bisa motong,” lanjutnya. Dari pelatihan menjahit yang pernah dilakukan, menjadikan ia memiliki pekerjaan sebagai seorang penjahit.
Hal tersebut, membuat tekad Setiti terus belajar tentang banyak hal menguat. Bahkan, kini ia berkeinginan mengembangkan kemampuannya di bidang memasak dengan mengikuti pelatihan cooking. Seolah haus ilmu, ia terus mencari hal baru dan ingin menguasai banyak hal agar memiliki banyak keahlian. Juga, menjadi semakin produktif.
’’Orang cacat juga bisa bekerja dan menghasilkan karya,” tuturnya. Meski langkah kakinya tidak sesempurna orang pada umumnya. Tidak menjadi alasan bagi Setiti terus melangkah ke depan meraih cita-cita yang diharapkan.
Kesulitannya dalam berjalan, tidak lantas menghentikan semangatnya menjadi ibu terbaik bagi anak-anaknya. Tekad beriring semangat untuk terus bekerja dan menghasilkan karya menguat seiring mimpi untuk bisa mengantarkan anaknya agar dapat bersekolah ke pendidikan tinggi.
’’Saya semangat berkarya untuk menghidupi anak dan biar bisa sekolah tinggi. Semoga saya selalu sehat agar bisa terus berkarya dengan lebih baik di hari esok,” pungkas ibu dari anak usia 10 tahun tersebut. (*/bgs)
Editor : Hakam Alghivari