
Seperti dirasakan Hariyono. Ingin menggali potensi desa, namun belum menemukannya hingga kini. ‘’Desa Meduri sangat luas. Antardusun tidak menyatu karena terpisah lahan perhutani. Namun, kami tidak memiliki potensi,” keluh Sarko, sapaan karabnya.
Bahkan, pernah tidak ada masyarakat mencalonkan diri sebagai kades hingga pendaftarannya dibuka dua kali. ‘’Pernah ingin berhenti jadi kades, tapi camat dan bupati menyuruh untuk melanjutkan,” kata pria menjabat Kades Meduri dua periode tersebut.
Sehingga dia membulatkan tekad tetap mengabdi untuk desa. Melayani kapan dan di mana pun berada. Baik di rumah, warung kopi, hingga ladang. (yna/bgs)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





