Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Valincia Alda Suwito: Merawat Budaya Lewat Konten

Hakam Alghivari
Penulis: Hakam Alghivari❯

ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO
ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO


Advertisement

 

BAGI Valincia Alda Suwito, kelenteng bukan hanya tempat ibadah. Namun, juga tempat belajar, menari, mengenal budaya, hingga akhirnya berani membagikan identitasnya ke ruang digital.

Perempuan asal Bojonegoro ini menemukan caranya sendiri untuk merawat budaya sekaligus membangun mimpi sebagai kreator konten.

Advertisement

Valincia, sapaannya, mengaku ketertarikannya pada budaya Tionghoa tumbuh dari kebiasaan sederhana, yakni menonton drama China. Dari sana, rasa ingin tahunya berkembang. Ia mulai belajar bahasa Mandarin secara otodidak sejak pertengahan masa pandemi Covid-19.

“Sejak pertengahan Covid-19 saya belajar mandarin sendiri. Waktu itu saya merasa bahasa mandarin sekarang ini sangat penting,” ujarnya.

Ketertarikannya pada budaya tak berhenti di bahasa. Sejak kecil, ia mulai terbiasa menari di kelenteng untuk mengisi berbagai acara keagamaan. Awalnya hanya tampil membantu kegiatan ibadah, lama-kelamaan menari menjadi hobi.

Advertisement

Untuk urusan konten, langkah pertamanya terbilang spontan. Ide membuat vlog muncul saat ada kirab di Kelenteng Malang. Berawal iseng, namun respon yang datang membuatnya ingin terus berbagi.

“Awalnya cuma iseng waktu ada kirab di Kelenteng Malang. Tapi makin ke sini saya ingin nunjukin kegiatan kami sebagai umat minoritas, supaya orang-orang lebih tahu. Lebih ke sharing saja,” katanya.

Sejak pertengahan 2024, selepas lulus SMA Katolik Ign. Slamet Riyadi Bojonegoro, ia mulai lebih serius membuat konten. Mengisi waktu libur panjang, ia mendokumentasikan rutinitas harian, aktivitas ibadah, hingga kegiatan budaya Khonghucu. Kini, di sela kuliahnya di Surabaya, ia perlahan merintis diri sebagai content creator lifestyle dan budaya.

Baginya, membagikan vlog kegiatan keagamaan memberi kebahagiaan tersendiri. Selain menambah teman baru, juga merasa bisa membuka ruang pemahaman yang lebih luas tentang keberagaman.

Valincia berharap ke depan  bisa semakin aktif membuat konten yang bermanfaat, seru, dan informatif tentang lifestyle serta budaya. Bagi mahasiswi 19 tahun itu, media sosial bukan sekadar tempat eksis, melainkan ruang untuk berbagi cerita, tentang identitas, tentang minoritas, dan tentang keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri. (kam/msu)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Amuk Massa Sarekat Islam di Tuban Pada 1913 dan Residen Belanda Remehkan Surat Ancaman Kematian

Amuk Massa Sarekat Islam di Tuban Pada 1913 dan Residen Belanda Remehkan Surat Ancaman Kematian

Ketegangan memuncak di Tuban tahun 1913! Dari penembakan, amuk massa Sarekat Islam, hingga respons nyeleneh Residen Rembang yang menyuruh jadikan surat ancaman pembunuhan sebagai tisu toilet. Cek arsip kolonialnya di sini.

Arsip 1935 Bongkar Sisi Gelap Tuban Sebagai 'Surga' Candu Opium yang Berubah Jadi Kota Mati!

Arsip 1935 Bongkar Sisi Gelap Tuban Sebagai 'Surga' Candu Opium yang Berubah Jadi Kota Mati!

Penasaran kenapa Tuban sempat dijuluki 'kota mati' pada era 1930-an? Arsip kolonial 1935 membongkar jejak surga penyelundup candu hingga sisa kejayaan di Rengel. Baca selengkapnya!

Seniman Reog Ponorogo Restui Barongan Blora ke UNESCO

Seniman Reog Ponorogo Restui Barongan Blora ke UNESCO

Barongan Blora selangkah lebih dekat menuju panggung budaya dunia. Bukan dengan meninggalkan akar tradisinya, melainkan dengan merangkul saudara serumpun yang lebih dulu mendapat pengakuan UNESCO, Reog Ponorogo.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer