alexametrics
27.4 C
Bojonegoro
Friday, July 1, 2022

Fenomena ‘’Dipedeli’’ hingga Jamula Jelang HJL ke-453

JALAN rusak menjadi salah satu pokok bahasan paling populer bagi warga Lamongan saat ini. Mulai jalan poros desa, poros strategis, hingga jalan kabupaten. Isu tersebut menjadi topik pembicaraan yang cukup gayeng atau viral di warkop hingga medsos. Setiap muncul topik itu, seringkali disambut cukup antusias. Rerata memang bernada negatif. Terutama saat terjadinya kerusakan cukup parah di ruas Jalan Pucangro Kecamatan Karanggeneng beberapa waktu lalu. Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi yang baru menjabat setahun pun menjadi ‘’sasaran tembak’’ kritikan.

 

Topik pembicaraan tentang jalan rusak sebenarnya tidaklah barang baru di Kota Soto. Topik bahasan itu sudah berkali- kali muncul sejak dulu. Terutama saat memasuki musim hujan. Ketika masih melakukan peliputan di lapangan, penulis masih ingat betul pada 2010 silam. Saat itu sejumlah jalan di Lamongan juga mengalami kerusakan parah saat musim hujan. Sehingga, masalah jalan rusak menjadi pembicaraan masyarakat Lamongan yang paling ngetren. Bupati Fadeli yang baru menjabat menjadi sasaran kritikan. Bahkan muncul istilah jalan ‘’dipedeli’’ (hanya diuruk pedel, bukan diaspal).

 

Namun berbagai kritik, keluhan, hingga bully-an tentang jalan rusak itu hilang perlahan. Setelah Pemkab Lamongan bergerak cepat melakukan perbaikan jalan secara besar-besaran paska musim hujan.

 

Kondisi serupa juga terjadi saat ini. Bupati Yuhronur Efendi juga telah menyiapkan perbaikan jalan rusak di Lamongan secara besar-besaran. Bahkan, Bupati Yes, sapaannya terpaksa hutang hingga Rp 200 miliar untuk bisa merealisasikan. Sebab, kondisi keuangan daerah sedang tidak bagus, akibat terkuras penanganan pandemi Covid-19.

Baca Juga :  PNM Bentuk Kelompok Usaha Perikanan Tambak Air Tawar

 

Tentu saja upaya serius Bupati Yes untuk memperbaiki jalan rusak, melalui program super prioritasnya yang disebut Jamula (jalan mulus Lamongan) itu patut diapresiasi dan menjadi harapan besar bagi masyarakat Lamongan. Sehingga ada optimistis besar, tidak lama lagi jalan rusak yang dikeluhkan masyarakat tersebut akan segera diperbaiki dan menjadi mulus.

 

Karena selalu terjadi secara masif dan besar-besaran, fenomena jalan rusak di Lamongan sejak dulu hingga sekarang, tampaknya tidak hanya sekedar dibangun. Namun, perlu dikaji secara mendalam agar tidak tidak cepat rusak.

 

Setidaknya ada dua dugaan penyebab terjadinya kerusakan jalan. Karena kondisi alam atau karena kualitas pengerjaan rendah. Faktor kondisi alam bisa karena sifat tanah yang labil dan kondisi cuaca.

 

Terkait kondisi alam, seringkali menjadi alasan bagi kerusakan jalan. Kondisi tanah yang labil diklaim juga sebagai pemicu. Ditambah kondisi banjir yang sering terjadi setiap musim hujan, semakin mempercepat kerusakan jalan.

 

Kerusakan jalan yang dipicu oleh kondisi alam, salah satu solusinya yakni dengan menentukan sistim perbaikan jalan yang tepat. Menyesuaikan dengan kondisi alam yang ada. Sistim perbaikan jalan yang umum digunakan selama ini, yakni sistim penetrasi aspal dan rabat beton (cor). Pemkab Lamongan selama ini mengklaim, sistim rabat beton paling tepat digunakan.

 

Namun dalam praktiknya, sistim rabat beton ternyata tidak lebih baik dibanding sistim penetrasi aspal. Tetap saja cepat rusak. Bahkan, jika terjadi kerusakan akan lebih sulit untuk melakukan pemeliharaan. Salah satu buktinya di ruas Jalan Pucangro. Meski sudah dilakukan perbaikan berkali-kali, termasuk sistim rabat beton, tetap mudah rusak. Sehingga menjadi tantangan bagi pihak terkait di Lamongan untuk mengkaji dan menemukan sistim perbaikan jalan terbaik. Tidak mudah rusak, mudah pemeliharaannya, dan bisa menghemat anggaran.

Baca Juga :  Tjepu van Java, Layakkah?

 

Kajian mendalam dan tegas juga perlu dilakukan pada dugaan kualitas pengerjaan yang rendah. Itu bisa disebabkan perencanaan yang kurang tepat. Misalnya dalam menetapkan RAB, atau penyimpangan oleh pihak terkait. Bila itu terjadi, perlu dilakukan kerjasama obyektif dengan para ahli perencanaan untuk melakukan kajian mendalam. Termasuk dengan penegak hukum untuk menindak tegas tanpa pandang bulu, guna menciptakan efek jera.

 

Tentu saja tulisan yang singkat dan sederhana ini masih bisa memunculkan perdebatan dan perbandingan dari berbagai sudut pandang. Tapi hal itu perlu dilakukan. Apalagi, menjelang Hari Jadi Lamongan (HJL) yang telah mencapai 453 tahun ini. Namun permasalahan yang dihadapi sejak dulu hingga sekarang nyaris belum beranjak.

 

Yang jelas, sebagai pem ba nding bisa dilihat kualitas proyek bangunan pada zaman Belanda dulu. Bisa bertahan kokoh hingga ratusan tahun. Padahal, saat itu kondisinya masih serba terbatas. Baik anggaran, SDM, apalagi teknologi. Dibanding dengan proyek bangunan saat ini yang cepat rusak, sehingga umurnya pendek. Padahal, telah ditopang dengan anggaran besar, SDM berkualitas, dan teknologi tinggi. Wallahualam…. (*)

JALAN rusak menjadi salah satu pokok bahasan paling populer bagi warga Lamongan saat ini. Mulai jalan poros desa, poros strategis, hingga jalan kabupaten. Isu tersebut menjadi topik pembicaraan yang cukup gayeng atau viral di warkop hingga medsos. Setiap muncul topik itu, seringkali disambut cukup antusias. Rerata memang bernada negatif. Terutama saat terjadinya kerusakan cukup parah di ruas Jalan Pucangro Kecamatan Karanggeneng beberapa waktu lalu. Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi yang baru menjabat setahun pun menjadi ‘’sasaran tembak’’ kritikan.

 

Topik pembicaraan tentang jalan rusak sebenarnya tidaklah barang baru di Kota Soto. Topik bahasan itu sudah berkali- kali muncul sejak dulu. Terutama saat memasuki musim hujan. Ketika masih melakukan peliputan di lapangan, penulis masih ingat betul pada 2010 silam. Saat itu sejumlah jalan di Lamongan juga mengalami kerusakan parah saat musim hujan. Sehingga, masalah jalan rusak menjadi pembicaraan masyarakat Lamongan yang paling ngetren. Bupati Fadeli yang baru menjabat menjadi sasaran kritikan. Bahkan muncul istilah jalan ‘’dipedeli’’ (hanya diuruk pedel, bukan diaspal).

 

Namun berbagai kritik, keluhan, hingga bully-an tentang jalan rusak itu hilang perlahan. Setelah Pemkab Lamongan bergerak cepat melakukan perbaikan jalan secara besar-besaran paska musim hujan.

 

Kondisi serupa juga terjadi saat ini. Bupati Yuhronur Efendi juga telah menyiapkan perbaikan jalan rusak di Lamongan secara besar-besaran. Bahkan, Bupati Yes, sapaannya terpaksa hutang hingga Rp 200 miliar untuk bisa merealisasikan. Sebab, kondisi keuangan daerah sedang tidak bagus, akibat terkuras penanganan pandemi Covid-19.

Baca Juga :  Jurnalisme Kayu Jati

 

Tentu saja upaya serius Bupati Yes untuk memperbaiki jalan rusak, melalui program super prioritasnya yang disebut Jamula (jalan mulus Lamongan) itu patut diapresiasi dan menjadi harapan besar bagi masyarakat Lamongan. Sehingga ada optimistis besar, tidak lama lagi jalan rusak yang dikeluhkan masyarakat tersebut akan segera diperbaiki dan menjadi mulus.

 

Karena selalu terjadi secara masif dan besar-besaran, fenomena jalan rusak di Lamongan sejak dulu hingga sekarang, tampaknya tidak hanya sekedar dibangun. Namun, perlu dikaji secara mendalam agar tidak tidak cepat rusak.

 

Setidaknya ada dua dugaan penyebab terjadinya kerusakan jalan. Karena kondisi alam atau karena kualitas pengerjaan rendah. Faktor kondisi alam bisa karena sifat tanah yang labil dan kondisi cuaca.

 

Terkait kondisi alam, seringkali menjadi alasan bagi kerusakan jalan. Kondisi tanah yang labil diklaim juga sebagai pemicu. Ditambah kondisi banjir yang sering terjadi setiap musim hujan, semakin mempercepat kerusakan jalan.

 

Kerusakan jalan yang dipicu oleh kondisi alam, salah satu solusinya yakni dengan menentukan sistim perbaikan jalan yang tepat. Menyesuaikan dengan kondisi alam yang ada. Sistim perbaikan jalan yang umum digunakan selama ini, yakni sistim penetrasi aspal dan rabat beton (cor). Pemkab Lamongan selama ini mengklaim, sistim rabat beton paling tepat digunakan.

 

Namun dalam praktiknya, sistim rabat beton ternyata tidak lebih baik dibanding sistim penetrasi aspal. Tetap saja cepat rusak. Bahkan, jika terjadi kerusakan akan lebih sulit untuk melakukan pemeliharaan. Salah satu buktinya di ruas Jalan Pucangro. Meski sudah dilakukan perbaikan berkali-kali, termasuk sistim rabat beton, tetap mudah rusak. Sehingga menjadi tantangan bagi pihak terkait di Lamongan untuk mengkaji dan menemukan sistim perbaikan jalan terbaik. Tidak mudah rusak, mudah pemeliharaannya, dan bisa menghemat anggaran.

Baca Juga :  Problematika Perut dalam Patahan Hegemoni Pangan

 

Kajian mendalam dan tegas juga perlu dilakukan pada dugaan kualitas pengerjaan yang rendah. Itu bisa disebabkan perencanaan yang kurang tepat. Misalnya dalam menetapkan RAB, atau penyimpangan oleh pihak terkait. Bila itu terjadi, perlu dilakukan kerjasama obyektif dengan para ahli perencanaan untuk melakukan kajian mendalam. Termasuk dengan penegak hukum untuk menindak tegas tanpa pandang bulu, guna menciptakan efek jera.

 

Tentu saja tulisan yang singkat dan sederhana ini masih bisa memunculkan perdebatan dan perbandingan dari berbagai sudut pandang. Tapi hal itu perlu dilakukan. Apalagi, menjelang Hari Jadi Lamongan (HJL) yang telah mencapai 453 tahun ini. Namun permasalahan yang dihadapi sejak dulu hingga sekarang nyaris belum beranjak.

 

Yang jelas, sebagai pem ba nding bisa dilihat kualitas proyek bangunan pada zaman Belanda dulu. Bisa bertahan kokoh hingga ratusan tahun. Padahal, saat itu kondisinya masih serba terbatas. Baik anggaran, SDM, apalagi teknologi. Dibanding dengan proyek bangunan saat ini yang cepat rusak, sehingga umurnya pendek. Padahal, telah ditopang dengan anggaran besar, SDM berkualitas, dan teknologi tinggi. Wallahualam…. (*)

Artikel Terkait

Most Read

Dua Pemain Bakal Dikontrak

Stok Elpiji Rawan Dipermainkan

Warga Demo Tolak Kilang Minyak

Artikel Terbaru


/