alexametrics
24.6 C
Bojonegoro
Friday, August 12, 2022

M. LUKMAN HAKIM *

Problematika Perut dalam Patahan Hegemoni Pangan

AKHIR April lalu, saya ditugasi meliput tentang kuliner-kuliner legendaris di Bojonegoro yang buka malam hingga buka dini hari. Ada yang menarik, ternyata hasil liputan itu dapat saya simpulkan bahwa masalah perut menjadi hal krusial dalam nomenklatur kehidupan.

 

Manusia membutuhkan makan dan pernahkah muncul pertanyaan, siapa memberi makan dunia? Bagaimana relasi pangan membentuk kehidupan di sebuah negara.

Sebelum menariknya dalam percaturan dunia, salah satu contoh baru saja saya temui, dari pedagang pecel rawon di Desa/Kecamatan Padangan, bagaimana sulitnya mencari beras dari jenis padi pendok.

 

Penjualnya terbatas karena padi terdapat bulu di bulirnya itu kini termasuk jenis langka. Mengutip Tempo dalam pemberitaan 2013 lalu, padi pendok di Tuban pada 1975 hingga 1985 masih banyak ditemui ladang persawahan petani. Namun, saat ini petaninya bisa dihitung dengan jari. Kemungkinan itu terjadi pada jenis padi varietas lokal lainnya. Di Bojonegoro sendiri dari wawancara dengan  Asmain, 52, pedagang nasi pecel, ternyata hanya menemukan beras padi pendok di Pasar Kota Bojonegoro.

 

Hal itu, menurut saya tidak bisa terlepas dari pengaruh revolusi hijau dengan perangkat teknologinya pada 1970-an hingga 1980-an di Indonesia. Kebijakan pangan menjadi salah satu konsen pasca perang dunia dan matinya kolonialisme penaklukan wilayah dengan senjata. Penetrasi pupuk kimia dan bantuan-bantuan sarana pangan lain, membumbung semangat negara-negara berkembang untuk berkecimpung.

 

Sebelum Indonesia terlibat, pasar ekspor pangan bisa menentukan arah negara, terutama bagi Amerika Serikat saat itu masih bersitegang dengan Uni Soviet. Presiden Eisenhower pada 1954 mengusulkan kebijakan membagikan kelebihan produksi pangan untuk dibagikan atau dijual dengan harga murah ke seluruh dunia.

Baca Juga :  Sekolah Rakyat dan Dinamika Berebut Siswa

Kebijakan itu bukan tanpa tujuan, melainkan menjauhkan negara-negara sedang berkembang menjauh dari Blok Soviet. Wakil Presiden AS, Hubert Humprey dalam pidatonya pada 1957 mengatakan “Kalau ingin orang-orang bersandar dan bergantung pada Anda, dalam artian mereka mau bekerja sama dengan Anda, saya melihat panganlah paling menentukan,” (Paul McMahon, Berebut Makan, Politik Baru Pangan : 2013).

 

Masalah perut bisa menjadi badai suatu negara atau isi perut kita sudah dikontrol oleh tatanan dunia pada revolusi hijau. Memang saat itu Indonesia menjadi negara swasembada pangan, namun itu berlangsung singkat. Dampaknya diarasakan sampai saat ini, bagimana varietas padi dari hasil persilangan sifat genetik mengubah pola petani dalam menanam dan kebergantungan pada pupuk kimia.

Saat ini petani-petani sedang berdiri di atas patahan hegemoni pangan tersebut. Kata kuncinya adalah ketergantungan. Jika sebelum revolusi hijau, padi dipanen bisa dijadikan benih lagi, saat ini petani harus membeli padi agar bisa sustainable. Tentu belinya pada perusahaan pertanian, atau menunggu bantuan benih dari pemerintah juga dari perusahaan pembibitan.

 

Proses itu terus berlangsung hingga kini. Kebijakan-kebijakan pertanian saat ini saya kira adalah obat sakit kepala, padahal pasien mengidap penyakit kanker. Secara pribadi, patahan-patahan hegemoni itu bisa digerus dengan perbanyak lahan pertanian organik dibarengi menjalankan sistem koperasi digadang Mohammad Hatta.

 

Beberapa komunitas di Bojonegoro, Tuban, dan Blora yang sependek pengetahuan saya sedang memulai tanaman padi organik. Itu membuat kita perlu bersyukur, karena masih ada harapan.

Baca Juga :  Enam Instrumen di Panggung, Telurkan Dua Lagu

 

Tentu, sentuhan teknologi harus ada keberpihakan kepada petani, bukan malah menjadikan petani tereliminasi dari alat produksi utamanya yakni lahan sawah. Atau lebih parah lagi mengarah kepentingan politik dan para elite kurang bertanggung jawab atas kekayaan modalnya.

 

Benar Sekali, masih banyak variabel menggelayut pada masalah pangan dan problematika perut manusia. Perusahaan-perusahaan mencengkram suplai benih dan pupuk turut andil hegemoni pangan saat ini. Gambaran tidak harus menuduh perusahaan hegemoni pada kehidupan nyata, bisa dilihat pada sebuah film seri Jurassic Park dan World.

 

Kalau para pecinta film sains fiksi melihat film Jurassic World Dominion tahun ini, salah satu scane menggambarkan bagaimana perusahaan Biosyn merekayasa genetika. Menciptakan belalang raksasa memakan tanaman. Tujuannya pengendalian pangan dari munculnya spesien baru tahan dengan pemberantas hama.

Tidak perlu saya jelaskan secara detail, hemat saya itulah perlu diperhatikan para pengambil kebijakan. Kalau dalam pelajaran kimia ada larutan buffer atau penyangga sebagai penyeimbang PH, tentu tidak memungkinkan membuat tandingan agar tatanan ekosistem tidak timpang. Atau menguntungkan yang mempunyai padat modal.

 

Lagi-lagi proses panjang perubahan pangan dan evolusinya mengharuskan kerja-kerja panjang. Jika manusia masih ingin menjadi mata rantai teratas pada struktur kehidupan, atau jika manusia ingin sebagai manusia, problem perut itu harus dijinakkan, metamorfosis menjadi manusia seadil-adilnya.

 

Makan untuk hidup bukan hidup untuk makan. Berbagi makanan tanpa ada kepentingan, kalau orang-orang pondok pesantren biasa menyebutnya talaman. (*)

*Wartawan Jawa Pos Radar Bojonegoro

AKHIR April lalu, saya ditugasi meliput tentang kuliner-kuliner legendaris di Bojonegoro yang buka malam hingga buka dini hari. Ada yang menarik, ternyata hasil liputan itu dapat saya simpulkan bahwa masalah perut menjadi hal krusial dalam nomenklatur kehidupan.

 

Manusia membutuhkan makan dan pernahkah muncul pertanyaan, siapa memberi makan dunia? Bagaimana relasi pangan membentuk kehidupan di sebuah negara.

Sebelum menariknya dalam percaturan dunia, salah satu contoh baru saja saya temui, dari pedagang pecel rawon di Desa/Kecamatan Padangan, bagaimana sulitnya mencari beras dari jenis padi pendok.

 

Penjualnya terbatas karena padi terdapat bulu di bulirnya itu kini termasuk jenis langka. Mengutip Tempo dalam pemberitaan 2013 lalu, padi pendok di Tuban pada 1975 hingga 1985 masih banyak ditemui ladang persawahan petani. Namun, saat ini petaninya bisa dihitung dengan jari. Kemungkinan itu terjadi pada jenis padi varietas lokal lainnya. Di Bojonegoro sendiri dari wawancara dengan  Asmain, 52, pedagang nasi pecel, ternyata hanya menemukan beras padi pendok di Pasar Kota Bojonegoro.

 

Hal itu, menurut saya tidak bisa terlepas dari pengaruh revolusi hijau dengan perangkat teknologinya pada 1970-an hingga 1980-an di Indonesia. Kebijakan pangan menjadi salah satu konsen pasca perang dunia dan matinya kolonialisme penaklukan wilayah dengan senjata. Penetrasi pupuk kimia dan bantuan-bantuan sarana pangan lain, membumbung semangat negara-negara berkembang untuk berkecimpung.

 

Sebelum Indonesia terlibat, pasar ekspor pangan bisa menentukan arah negara, terutama bagi Amerika Serikat saat itu masih bersitegang dengan Uni Soviet. Presiden Eisenhower pada 1954 mengusulkan kebijakan membagikan kelebihan produksi pangan untuk dibagikan atau dijual dengan harga murah ke seluruh dunia.

Baca Juga :  Telat Menanam, 2.052 Hektare Tembakau Belum Selesai Panen

Kebijakan itu bukan tanpa tujuan, melainkan menjauhkan negara-negara sedang berkembang menjauh dari Blok Soviet. Wakil Presiden AS, Hubert Humprey dalam pidatonya pada 1957 mengatakan “Kalau ingin orang-orang bersandar dan bergantung pada Anda, dalam artian mereka mau bekerja sama dengan Anda, saya melihat panganlah paling menentukan,” (Paul McMahon, Berebut Makan, Politik Baru Pangan : 2013).

 

Masalah perut bisa menjadi badai suatu negara atau isi perut kita sudah dikontrol oleh tatanan dunia pada revolusi hijau. Memang saat itu Indonesia menjadi negara swasembada pangan, namun itu berlangsung singkat. Dampaknya diarasakan sampai saat ini, bagimana varietas padi dari hasil persilangan sifat genetik mengubah pola petani dalam menanam dan kebergantungan pada pupuk kimia.

Saat ini petani-petani sedang berdiri di atas patahan hegemoni pangan tersebut. Kata kuncinya adalah ketergantungan. Jika sebelum revolusi hijau, padi dipanen bisa dijadikan benih lagi, saat ini petani harus membeli padi agar bisa sustainable. Tentu belinya pada perusahaan pertanian, atau menunggu bantuan benih dari pemerintah juga dari perusahaan pembibitan.

 

Proses itu terus berlangsung hingga kini. Kebijakan-kebijakan pertanian saat ini saya kira adalah obat sakit kepala, padahal pasien mengidap penyakit kanker. Secara pribadi, patahan-patahan hegemoni itu bisa digerus dengan perbanyak lahan pertanian organik dibarengi menjalankan sistem koperasi digadang Mohammad Hatta.

 

Beberapa komunitas di Bojonegoro, Tuban, dan Blora yang sependek pengetahuan saya sedang memulai tanaman padi organik. Itu membuat kita perlu bersyukur, karena masih ada harapan.

Baca Juga :  Enam Instrumen di Panggung, Telurkan Dua Lagu

 

Tentu, sentuhan teknologi harus ada keberpihakan kepada petani, bukan malah menjadikan petani tereliminasi dari alat produksi utamanya yakni lahan sawah. Atau lebih parah lagi mengarah kepentingan politik dan para elite kurang bertanggung jawab atas kekayaan modalnya.

 

Benar Sekali, masih banyak variabel menggelayut pada masalah pangan dan problematika perut manusia. Perusahaan-perusahaan mencengkram suplai benih dan pupuk turut andil hegemoni pangan saat ini. Gambaran tidak harus menuduh perusahaan hegemoni pada kehidupan nyata, bisa dilihat pada sebuah film seri Jurassic Park dan World.

 

Kalau para pecinta film sains fiksi melihat film Jurassic World Dominion tahun ini, salah satu scane menggambarkan bagaimana perusahaan Biosyn merekayasa genetika. Menciptakan belalang raksasa memakan tanaman. Tujuannya pengendalian pangan dari munculnya spesien baru tahan dengan pemberantas hama.

Tidak perlu saya jelaskan secara detail, hemat saya itulah perlu diperhatikan para pengambil kebijakan. Kalau dalam pelajaran kimia ada larutan buffer atau penyangga sebagai penyeimbang PH, tentu tidak memungkinkan membuat tandingan agar tatanan ekosistem tidak timpang. Atau menguntungkan yang mempunyai padat modal.

 

Lagi-lagi proses panjang perubahan pangan dan evolusinya mengharuskan kerja-kerja panjang. Jika manusia masih ingin menjadi mata rantai teratas pada struktur kehidupan, atau jika manusia ingin sebagai manusia, problem perut itu harus dijinakkan, metamorfosis menjadi manusia seadil-adilnya.

 

Makan untuk hidup bukan hidup untuk makan. Berbagi makanan tanpa ada kepentingan, kalau orang-orang pondok pesantren biasa menyebutnya talaman. (*)

*Wartawan Jawa Pos Radar Bojonegoro

Artikel Terkait

Merayakan Semangat Baru

Era Disrupsi, Mari Beradaptasi

Tjepu van Java, Layakkah?

Most Read

Artikel Terbaru


/