alexametrics
Rabu, 20 Oct 2021
radarbojonegoro
Home > Boks
icon featured
Boks

Sochib Munajad Pilih Berkebun Daripada Pelukis

Suka Pameran Langsung

05 Oktober 2021, 12: 58: 00 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

MASIH BERKARYA: Shochib Munajad dengan latar belakang lukisannya yang dipajang di rumah.

MASIH BERKARYA: Shochib Munajad dengan latar belakang lukisannya yang dipajang di rumah. (IST/RDR.LMG)

Share this      

Shochib Munajad, 34, memutuskan tidak terlalu sering melukis. Terlebih pangsa pasar lukisan surealis tidak banyak. Dia memilih berkebun sejak 2018. 

Sehari-hari, Shochib Munajad menghabiskan waktunya di kebun seluas setengah hektare milik keluarganya. Dia menanam berbagai macam buah-buahan. ‘’Cuma sekarang belum panen buahnya. Mungkin lima bulan lagi (panen),’’ ujarnya kemarin (4/10).

Di sela-sela kegiatannya berkebun, dia melukis dan ikut sejumlah pameran seni rupa. Hingga saat ini, pemuda 34 tahun ini telah mengikuti pameran di berbagai daerah. Seperti Lamongan, Surabaya, Semarang, Jogjakarta, Bandung, dan Jakarta.

Baca juga: Menko Airlangga Dorong KUR Sektor Pertanian & Perikanan Maluku

Shochib mengaku, tujuannya mengikuti pameran bukan semata- mata untuk memasarkan karyanya.‘’Di pameran saya bisa melukis semaunya. Masalah ide tidak membatasi. Semua ide yang ada saya tampung dan visualisasikan.

Jadi hanya untuk mendapatkan apresiasi publik. Tidak membatasi dikomersialkan. Cuma mungkin lukisan karya saya peminatnya kurang. Masyarakat lebih suka lukisan pajangan yang indah-indah,’’ ungkapnya.

Dulu, sebelum melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah, Shochib banyak menerima pesanan lukisan dari orang-orang di sekitarnya. ‘’Istilahnya lukisan pasar. Karena saya hanya melukis bunga, pemandangan, dan potret wajah sesuai pesanan orang.

Tahun 2010 sampai 2014 saya kuliah. Gaya lukisan saya sudah lain,’’ imbuhnya. Shochib kali pertama mengikuti pameran yang diselenggarakan Komunitas Perupa Jawa Timur (Koperjati) di Surabaya pada 2011.

Dia menampilkan lukisan surealis tentang tari merak dan tari barong. ‘’Lukisan yang dipamerkan benar-benar untuk mengekspresikan diri. Bukan untuk memenuhi keinginan pasar. Teknik lukis yang saya gunakan juga campuran. Ada teknik palet, kuas, dan ciprat.

Dulu saya sempat mempelajari lukisan tekstur batu. Perlahan-lahan saya amati. Ternyata bagus kalau diaplikasikan di lukisan saya,’’ jelasnya. Karena lukisannya tidak dijual, Shochib mendapatkan modal untuk mengikuti pameran dari usahanya berbisnis sparepart komputer.

Pada 2018, pria yang tinggal di Desa Sukomalo, Kecamatan Kedungpring, itu memutuskan untuk berkebun sebagai sumber perekonomian lainnya. Dia bisa memasarkan buah maupun bibit tanamannya untuk memperoleh pemasukan.

‘’Sejak kecil saya sudah akrab dengan sawah dan kebun. Di sini saya banyak tanam kelengkeng berbagai jenis. Ada kelengkeng yang tumbuh di dataran tinggi, tapi bisa dibudidayakan di sini,’’ ujarnya.

Bagi Shochib, berkebun secara tidak langsung mempengaruhi aktivitasnya di dunia seni. Dia bahkan banyak mendapatkan inspirasi untuk karya lukisan yang akan dibuatnya. ‘’Ide saya melukis dari pengalaman keseharian. Kalau berkebun, ya bisa jadi ide lukisan.

Kan ada beberapa karya lukisan saya yang berhubungan dengan perkebunan. Misalnya objek tanaman, dilukis lagi dengan gaya surealis,’’ terangnya. Saat ini, aktivitas melukis Shochib tidak sesering seperti sebelum pandemi Covid-19 merebak.

Karya lukisnya banyak disimpan di rumahnya dan dikoleksi keluarga besarnya. Shochib mengaku, produktivitasnya dalam melukis akan meningkat bila ada pameran seni rupa yang akan diikuti.

Tahun lalu, dia mencoba mengikuti pameran seni rupa virtual yang diselenggarakan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. ‘’Tapi saya lebih suka pameran secara langsung. Bisa merasakan apresiasi pengunjung sekaligus tanya jawab dengan pengunjung.

Kalau pameran virtual, apresiasi dan penontonnnya jarang. Karya lukisnya cuma difoto dan dikirim ke panitia, lalu dipublikasikan di media sosial,’’ paparnya. Dalam waktu dekat ini, Shochib berencana mengikuti pameran yang diselenggarakan Komunitas Perupa Lamongan (Kospela) maupun Koperjati.

Dia berharap, Pemerintah Kabupaten Lamongan menyediakan fasilitas bagi para seniman untuk berpameran. ‘’Biar senimannya juga lebih mudah kalau mau bikin pameran. Tidak perlu lobi sana-sini,’’ ujarnya sambil tersenyum.

(bj/yan/*/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news