alexametrics
Rabu, 20 Oct 2021
radarbojonegoro
Home > Bojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Pencemaran Air Bengawan Sampai Baureno

DLH Belum Terima Tanggapan dari Pemprov

24 September 2021, 13: 30: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

Pencemaran Air Bengawan Sampai Baureno

(AINUR OCHIEM/RDR.BJN)

Share this      

Radar Bojonegoro - Pencemaran Sungai Bengawan Solo mengalir hingga Kecamatan Baureno. Air menghitam dan kemerahan. Warga khawatir pencemaran ini dapat merusak lingkungan, seperti biota bengawan, pertanian, dan air baku masyarakat.

Fahrudin Hasyim, warga Desa Kadungrejo, Kecamatan Baureno menjelaskan, air Bengawan Solo mulai berubah warna sejak Selasa (21/9). Sebelumnya, air masih kecokelatan seperti layaknya air sungai dan biasa digunakan mengairi sawah dan pemanfaatan air baku masyarakat.

“Jarak bengawan dengan rumah saya tidak jauh, kondisi bengawan juga dikeluhkan penambang perahu,” katanya kemarin (23/9).

Baca juga: Material Pembangunan Jembatan Kare Membahayakan Pengguna Jalan

Menurut Hasyim, masyarakat resah dengan kondisi lingkungan hidupnya, air terkena limbah akan berdampak produksi tanaman pertanian dan kesehatan warga di bantaran sungai. “Sekarang tercemar padahal masyarakat bantaran lekat dengan Bengawan Solo,” jelasnya.

Sementara itu, Minggu (19/9) air menghitam pencemaran ini terjadi di Bengawan Solo kawasan perkotaan. Namun, air menghitam ini terus mengalir ke hilir dan sampai wilayah Baureno.

Kasi Pengaduan dan Penataan Hukum Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro Insiyah Watiningsih menjelaskan, tindakan dilakukan masih pengajuan surat kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur. Namun sampai saat ini Pemprov Jatim belum merespons surat tersebut. “Belum ada tanggapan dari provinsi,” ujarnya.

DLH, tutur dia, juga memberikan surat kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. Ditindaklanjuti pihak BBWS mengadakan uji baku mutu air di tiga titik yakni Wilayah Malo, Bojonegoro, dan Babat dengan kondisi cemar sedang.

“Dugaan pencemaran dari wilayah Jawa Tengah, namun sumber pencemaran masih tidak bisa ditemukan secara pasti,” ujarnya.

Meski Bengawan Solo wewenang provinsi dan BBWS, tentu kolaborasi lintas sektoral penaganan pencemaran lingkungan diperlukan. Insiyah mengatakan, dampak lingkungan seperti kualitas air dan ekosistem sungai dirasakan masyarakat. “Kami hanya menerima surat dan belum diajak melakukan penyisiran bersama,” jelasnya. (luk)

(bj/rij/nae/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news