alexametrics
Rabu, 20 Oct 2021
radarbojonegoro
Home > Tuban
icon featured
Tuban

Pandemi saat ini, Tak Cukup Andalkan Prokes Saja

18 September 2021, 14: 00: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

MENGEDUKASI: Rektor IIKNU Tuban Miftahul Munir memberi penjelasan seputar pandemi di acara podcast Remaja Bercerita.

MENGEDUKASI: Rektor IIKNU Tuban Miftahul Munir memberi penjelasan seputar pandemi di acara podcast Remaja Bercerita. (YUDHA SATRIA ADITAMA/RDR.TBN)

Share this      

Radar Tuban - Selama ini, protokol kesehatan (prokes) digadang-gadang menjadi senjata ampuh untuk mengendalikan pandemi Covid-19. Padahal, prokes saja belum cukup. Pakar kesehatan Tuban Miftahul Munir mengatakan, selain prokes, senjata lain yang penting digalakkan adalah promkes atau promosi kesehatan.

Mengacu Piagam Bangkok 2005 tentang Promosi Kesehatan di Dunia Global oleh WHO (World Health Organization), promosi kesehatan adalah sebuah proses atau kebijakan yang mendorong masyarakat untuk meningkatkan kontrol atas kesehatan mereka dan kelompoknya.

Masyarakat harus didorong untuk meningkatkan kesehatan mereka melalui ketentuan-ketentuan yang sudah disiapkan.

Baca juga: Persiapan venue seri liga 1, stadion surajaya disterilkan

Miftahul Munir mengatakan, pengendalian pandemi Covid-19 tak cukup hanya mengandalkan prokes. Dia menegaskan prokes penting, namun lebih baik jika dibarengi dengan promkes. Promkes bisa di wujudkan dengan edukasi untuk semua lapisan masyarakat. Baik melalui pendidikan formal atau informal.

‘’Kita jangan sampai lelah memberi edukasi ke masyarakat,’’ ujarnya. Akademisi yang juga Rektor Institut Kesehatan Nahdlatul Ulama (IIKNU) Tuban ini mengemukakan, promkes bisa dimulai dengan edukasi pada acara apapun yang digelar pemerintah maupun masyarakat.

Misalnya, sebelum acara hajatan, ada petugas yang membacakan pedoman prokes dan promkes. Penekanan edukasi kepada masyarakat ini penting untuk mengakhiri pandemi. ‘’Ini harus dilakukan pejabat dan masyarakat,’’ tegasnya.

Munir mengatakan, selama ini kebanyakan masyarakat taat prokes karena takut sanksi dari pemerintah. Bukan karena dorongan untuk melindungi kesehatannya. Nah, mindset ini yang harus diubah perlahan agar masyarakat taat prokes demi kesehatan dan keselamatan mereka sendiri.

‘’Ini dilakukan melalui kebijakan untuk edukasi yang menyeluruh, sehingga bisa diterima semua orang,’’ ucap ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Tuban itu. Sementara itu, kasus baru di Tuban perlu diwaspadai.

Tadi malam, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tuban Bambang Priyo Utomo memaparkan tambahan 9 pasien baru. Sementara pasien sembuh 7 orang dan nihil pasien meninggal. Tambahan tersebut menjadikan kasus aktif di Tuban tercatat 46 pasien.

Rinciannya, 1 pasien di RS Ali Mansyur Jatirogo dan 9 pasien di rumah sakit rujukan luar Tuban. Selebihnya 36 orang menjalani isoter (isolasi terpadu).

Dengan demikian, total pasien di Bumi Wali sejak Maret 2020 hingga tadi malam sebanyak 7.301 orang. Rinciannya, 6.336 orang sembuh dan 919 orang meninggal dunia.

Dokter lulusan Universitas Brawijaya (UB) Malang ini mengingatkan pandemi belum selesai sehingga jumlah tambahan kasus masih fluktuatif atau naik turun. 

(bj/ds/yud/nae/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news