alexametrics
Rabu, 20 Oct 2021
radarbojonegoro
Home > Lamongan
icon featured
Lamongan

Marak Penghobi Layang-layang, Butuh Kompetsi Untuk Asah Kreativitas

18 September 2021, 11: 04: 20 WIB | editor : Nailul Imtihany

BUTUH AJANG KOMPETISI:  Pehobi layang – layang ingin beradu kreativitas di lapangan terbuka.

BUTUH AJANG KOMPETISI: Pehobi layang – layang ingin beradu kreativitas di lapangan terbuka. (ANJAR DWI PRADIPTA/RDR.LMG)

Share this      

Layang - layang tidak hanya menjadi mainan anak – anak. Remaja dan dewasa juga kerap menarik dan mengulurkan benang atau tali agar mainkan bisa tinggi melayang. Maulana Ibrahim misalnya. Remaja 18 tahun ini terbiasa membuat layang-layang sendiri untuk diterbangkan.

Biasanya, sejak Januari dia mulai merancang layang-layang yang akan dibentuknya. Bagi Ibrahim, membuat layang - layang bukan perkara sulit. Alasannya, semua bisa dipelajari. Sebelum mengenal internet, dia sering belajar dari seniornya di desa yang lebih dulu membuat layangan.

Setelah ada internet, dia memelajari pembuatan layang – layang dengan memanfaatkan youtube. Sehingga model layangan buatannya lebih beragam. “Tahun ini saya buat layangan naga dengan panjang 80 meter,” ujar remaja asal Dusun Candisari, Desa Tambakploso, Kecamatan Turi tersebut.

Baca juga: DPRD Bojonegoro Segera Tuntaskan Empat Raperda

Pembuatan layangan naga tidak sesulit yang dibayangkan Ibrahim. Dia berhasil setelah mencobanya hanya dua kali. Meskipun ukurannya besar. Bahannya hampir sama dengan layangan pada umumnya. Dia memanfaatkan plastik daur ulang. Rangkanya tubuh dari fiber. Sedangkan rangka kepala dari bambu dan kulit kepalanya dari karpet bekas.

Layangan naga buatannya pernah dibeli orang Rp 1 juta. Ibrahim menjualnya karena pembeli menginginkan layangan tersebut, sementara dirinya bisa membuat lagi. “Sebenarnya tidak ada niatan, tapi karena ada yang minat ya udah diberikan,” tutur remaja yang baru saja lulus SMA itu.

Ibrahim mengerjakan pembuatan layangan sendiri, tidak dibantu teman. Untuk menerbangkan, baru dia membutuhkan bantuan teman. Layangan naga membutuhkan empat orang agar ada keseimbangan.

Ibrahim ingin ada kompetisi layang – layang. Sehingga, kreativitas pembuat layangan bisa terasah. “Di sini banyak yang bisa buat layangan. Kalau ada kompetisi layang-layang mungkin menarik,” tuturnya.

Farid, siswa kelas V SD, tidak pernah membeli layangan meski di pasar menyediakan banyak bentuk yang menarik. Sulung tiga bersaudara ini memilih layangan hasil karya sendiri. Selain lebih menarik, biaya produksinya lebih murah. “Kalau beli harganya masih di atas Rp 100 ribu satu layangan.

Jadi diajari untuk buat sendiri menggunakan kresek,” terang pelajar asal Kecamatan Sugio ini. Farid memiliki ketrampilan membuat layang – layang setelah diajari ayahnya. Sang ayah, pernah membuatkan layang – layang bentuk burung hantu, ultraman, kapal, dan sowangan. Menurut dia, layangan yang dibuatnya rata-rata bisa diterbangkan.

Meski ukurannya kecil, Farid tetap senang. Biasanya dia dan adiknya pergi ke sawah untuk mencari lokasi yang anginnya lebih kencang agar layangan bisa terbang tinggi. “Harus ke sawah dulu karena tidak boleh menerbangkan layangan di jalan,” tuturnya.

Toha, salah satu penjual layangan, mengaku setiap tahun tetap ada yang minat membeli jualannya. Dia menyiapkan beberapa model layangan untuk pilihan. Selain berbahan kain yang biasa dibanderol Rp 35 ribu, dia juga menjual layangan dengan kerangka bambu dan sowangan dengan harga rata-rata Rp 70 ribu per biji. “Kalau mau model lain bias, tapi disesuaikan dengan bahan untuk harganya,” tuturnya.

(bj/yan/rka/nae/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news