alexametrics
Rabu, 20 Oct 2021
radarbojonegoro
Home > Tuban
icon featured
Tuban

Apa itu Badai Sitokin?

Penyakit "Kelebihan" Imunitas

16 September 2021, 13: 00: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

Apa itu Badai Sitokin?

(www.freepik.com)

Share this      

Beberapa waktu lalu, jagat dunia maya diramaikan dengan kabar Deddy Corbuzier yang selamat setelah kritis karena badai sitokin. Apa itu badai sitokin? Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU) Tuban Tri Kusumo menjelaskan, badai sitokin atau cytokine storm adalah perjalanan penyakit alamiah virus dalam tubuh.

Saat virus masuk dalam tubuh dan menyerang sel paru-paru, secara otomatis imunitas akan aktif merespons. Imunitas itulah yang secara alami me lawan virus yang masuk. ‘’Namun, kadang imunitas me respons berlebihan, sehingga justru merusak sel dan terjadi badai sitokin ini,’’ terang dia.

Dokter spesialis lulusan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta ini mengatakan, karena Covid-19 bersumber dari virus, maka badai sitokin sangat mungkin bisa terjadi pada pasien. Respons imun tubuh untuk membersihkan virus ini biasanya memanggil sel inflamasi atau disebut sitokin.

Baca juga: Prioritas Penyaluran Dana Desa untuk Entas Kemiskinan

Namun, jika tidak sesuai porsinya, sitokin ini bisa memunculkan reaksi berlebihan yang dapat mengakibatkan peradangan pada jaringan paru-paru. Karena itu, kata dia, pasien Covid-19 yang bergejala sedang atau berat sangat tidak dianjurkan mengobati dirinya sendiri.

Tri menjelaskan, perawatan pasien Covid-19 harus melewati sejumlah fase. Pada setiap fase tersebut harus didampingi dokter untuk mengetahui kapan imunitas seseorang dinaikkan dan diturunkan. ‘’Jika pasien Covid-19 memasuki fase awal, maka imun harus dinaikkan, tapi jika sudah pekan kedua justru harus diturunkan agar tidak terjadi badai sitokin,’’ ujarnya.

Sebagian besar kasus badai sitokin, lanjut Tri, bermula dari ketidaktahuan pasien Covid-19. Sebagian besar mereka menganggap imunitas tinggi adalah obat ampuh Covid-19. Sehingga, mereka mengon sumsi obat di luar resep dokter.

Menurut dia, hal ini bisa berbahaya jika obat yang dikonsumsi tidak tepat. ‘’Jika memasuki pekan kedua biasanya pasien mengalami radang, fase ini justru harus diturunkan imunnya. Karena itu, ada obat penurun imun,’’ ucapnya.

Tri mengatakan, salah satu ikhtiar untuk menjaga stabilitas imun seseorang saat ini adalah vaksin. Menurutnya, vaksin aman untuk membuat imun tubuh seseorang lebih stabil. Setahunya, belum ada satu pun penelitian yang menyatakan vaksin Covid-19 akan membikin imun seseorang meningkat drastis dan menjadi pemicu badai sitokin.

Karena itu, dia menganjurkan siapa pun agar vaksin. ‘’Jika sudah vaksin, imun akan aktif stabil dan bisa meminimalisir gejala Covid-19 saat tertular,’’ tutur dokter muda itu.

(bj/ds/yud/nae/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news