alexametrics
Rabu, 20 Oct 2021
radarbojonegoro
Home > Advertorial
icon featured
Advertorial
Pembinaan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur

Dengan Digitalisasi Pendidikan, Hybrid Learning Berjalan dengan Baik

16 September 2021, 10: 03: 36 WIB | editor : Nailul Imtihany

KEPEDULIAN KEPADA SISWA: Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jatim Dr. Ir. Wahid Wahyudi, MT memberikan santunan kepada sepuluh siswa SMKN 2 Tuban yang yatim-piatu dan tidak mampu.

KEPEDULIAN KEPADA SISWA: Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jatim Dr. Ir. Wahid Wahyudi, MT memberikan santunan kepada sepuluh siswa SMKN 2 Tuban yang yatim-piatu dan tidak mampu.

Share this      

Seluruh kepala SMA, SMK, dan SLB se-Bojonegoro dan Tuban kemarin (15/9) mendapat pembinaan dari Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jatim Dr. Ir. Wahid Wahyudi, MT. Pembinaan yang diikuti 200 kepala sekolah tersebut digelar di aula SMKN 2 Tuban, Jalan M. Yamin.

Pada pembinaan tersebut, Wahid, panggilan akrab Wahid Wahyudi memberikan penekanan pertama pada evaluasi pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas bertahap. Dia mengemukakan, yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan PTM terbatas bertahap adalah penerapan protokol kesehatan.

Karena para siswa sudah lama tidak bertemu dengan teman-temannya, kata Wahyudi, dalam beberapa kasus sering terlihat kerumunan siswa setelah pulang sekolah. Mereka berkumpul dan nongkrong. ‘’Ini yang harus kita waspadai,’’ tegas mantan Pjs bupati Lamongan itu.

Baca juga: Tak Capai Passing Grade, Peserta PPPK Bisa Remidi

PEMBINAAN RUTIN: Didampingi Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jatim Wilayah Bojonegoro-Tuban (dua dari kanan), Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jatim (tengah).

PEMBINAAN RUTIN: Didampingi Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jatim Wilayah Bojonegoro-Tuban (dua dari kanan), Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jatim (tengah).

Untuk meminimalisasi hal tersebut, Wahyudi berharap kerja sama yang baik antara sekolah, orang tua, dan masyarakat untuk mengingatkan siswa yang demikian. ‘’Itu terjadi di awal-awak PTM. Sekarang kreativitas sekolah sudah meningkat,’’ ujarnya.

Wahyudi mengungkapkan, sekarang ini banyak sekolah yang selesai mengadakan PTM terbatas bertahap langsung mengadakan pembelajaran daring. Dengan demikian, siswa tidak memiliki waktu untuk bermain dan nongkrong. Hal ini banyak diterapkan di Surabaya. ‘’Jadi setelah tatap muka selama dua jam, selang satu jam kemudian pembelajaran online,’’ ujar pejabat kelahiran Lamongan 58 tahun lalu itu.

Penambahan jam pelajaran tersebut, lanjut Wahyudi, karena pembelajaran tatap muka terbatas bertahap sangat kurang. Karena itu, perlu ditambah dengan online atau daring.   

Seleksi PPPK (pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja) guru juga disinggung orang pertama di Dinas Pendidikan Provinsi Jatim itu. Dia menyambut baik kebijakan pemerintah pusat terhadap PPPK guru.

Berdasar hasil pantauannya, kata Wahyudi, tes PPPK guru berjalan dengan baik dan hanya satu orang yang tidak mengikuti karena kesalahan informasi. Solusinya, yang bersangkutan diusahakan mengikuti tes di hari berikutnya. Dia memaparkan kuota PPPK guru untuk SMA, SMK, SLB di Jatim berjumlah 11.220 orang. Sedangkan pendaftarnya 27.278 orang.

‘’Setelah dikurangi 15.109 guru tidak tetap (GTT), sisanya tinggal sedikit,’’ ujar mantan kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jatim itu.

Di era seperti ini, Wahyudi berharap peserta pembinaan untuk memiliki inovasi dan kreativitas. Di antaranya yang menjadi program dinas pendidikan adalah digitalisasi pendidikan. Dengan digitalisasi pendidikan, kata dia, kita bisa melaksanakan hybrid learning dengan baik. 

Menurut dia, hybrid learning ini sejalan dengan program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ristek terkait merdeka dalam belajar. ‘’Jadi ke depan mereka bisa memilih apakah siswa ikut belajar di kelas atau belajar dari rumah atau dari manapun,’’ kata doktor kajian lingkungan dan pembangunan Universitas Brawijaya Malang itu.

Wahyudi menegaskan, teknologi harus dapat memfasilitasi siswa yang belajar dari rumah dan mengikuti pembelajaran interaktif di kelas. Dengan demikian, siswa di rumah bisa bertanya kepada guru di kelas. Dan, siswa di rumah bisa berdiskusi dengan siswa yang belajar di kelas. ‘’Jadi pembelajaran interaktif hybrid learning menjadi program prioritas di Jatim Timur,’’ tandasnya.

Di bagian lain, Wahyudi berharap kepada semua kepala sekolah untuk bisa menjaga kondusifitas sekolah. Kalau sekolah kondusif, maka proses belajar mengajar bisa berjalan dengan baik. ‘’Kepala sekolah harus mampu merangkul guru, merangkul siswa, mampu merangkul orang tua siswa, dan mampu merangkul masyrakat. Khususnya di sekitar sekolah,’’ tandas mantan Pjs Wali Kota Malang itu.

Diwawancarai Jawa Pos Radar Tuban, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jatim Wilayah Bojonegoro-Lamongan Adi Prayitno mengatakan, kepala sekolah harus memiliki komitmen kepada bidang kerjanya. Selain itu, paradigma kepala sekolah juga harus terbuka. Harus selalu update dengan regulasi.

‘’Di era revolusi industri 4.0 ini semuanya harus serba digital. Jadi mau tidak mau pendidikan harus bisa menyesuaikan,’’ kata dia. Sejalan dengan arahan kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jatim, Adi berharap kepala sekolah untuk selalu berinovasi dan berkembang dalam bidang digitalisasi pendidikan. SMKN 2 Tuban yang menjadi tuan rumah pembinaan tersebut adalah calon SMK Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) dan menuju Adiwiyata Mandiri. (rif)

(bj/ds/nae/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news