alexametrics
Jumat, 24 Sep 2021
radarbojonegoro
Home > Bojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Gapensi Desak Penyerapan Pekerja Lokal Proyek Bojonegoro Harus Optimal

23 Juli 2021, 12: 23: 54 WIB | editor : Nailul Imtihany

NAKER LOKAL: Beberapa pekerja penggalian pipa jargas di Jalan Ahmad Yani.

NAKER LOKAL: Beberapa pekerja penggalian pipa jargas di Jalan Ahmad Yani. (NURCHOLISH/RDR.BJN)

Share this      

Radar Bojonegoro - Langkah pengecekan tenaga kerja lokal akan dilakukan dinas perindustrian dan tenaga kerja (dinperinaker) di proyek infrastruktur mendapat respons. Sebaiknya, harus dibuktikan dalam bentuk data penyerapan pekerja lokal di setiap proyek infrastruktur. Sehingga, tidak hanya sekadar asumsi atau perkiraan saja.

Karena harapannya, penyerapan pekerja lokal tentu harus optimal. Namun, Sekretaris Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Bojonegoro Alfan Affandi melihat secara umum penyerapannya masih kurang optimal.

Mengingat secara rasio pemenang lelang proyek di Bojonegoro sekitar 70 persen merupakan kontraktor luar Bojonegoro. Sehingga, perlu pendataan terkait jumlah pekerja lokal yang terserap. “Kalau pemenang lelangnya dari Bojonegoro, tentu sebagian besar pekerjanya didominasi warga lokal. Kalau yang kontraktor luar Bojonegoro lebih dari 50 persen ambil pekerja dari luar Bojonegoro, biasanya pekerja lokal yang diambil tenaga unskill,” jelasnya.

Baca juga: Penularan Covid-19 Masif, Lamongan Kembali Zona Merah

Namun, data secara pasti harusnya dimiliki oleh Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Dinperinaker) Bojonegoro. Informasinya yang dia dapat, dinperinaker ada rencana berkunjung di beberapa paket pekerjaan guna mendapat jumlah pekerja lokal. Intinya hendak menginventarisasi jumlah, penempatan, dan posisi.

“Makanya secara pasti jumlah pekerja lokal yang terserap itu kami pun belum tahu. Tetapi, menurut kami kalau penyerapan pekerja lokal lebih dari 50 persen itu sudah realistis, sedangkan kalau penyerapannya hanya di bawah 50 persen tentu tidak realistis,” bebernya.

Sementara itu, Alfan menyampaikan juga bahwa secara simulasi satu paket pekerjaan jalan cor semisal sepanjang 500 meter setidaknya butuh 25 pekerja sudah termasuk mandor. Lama penyelesaian pengerjaan dengan 25 pekerja itu butuh sekitar tiga bulan kalau tidak ada kendala di lapangan. Tetapi biasanya sesuai kontrak ada kelonggaran waktu empat hingga lima bulan.

Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Prasarana Sarana dan Utilitas Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (DPKPCK) Bojonegoro Hari Prasetyo pun mengaku tidak mendata jumlah pekerja di setiap titik proyek yang sedang berjalan. Pihaknya menyerahkan semua kepada pihak penyedia atau kontraktor terkait perekrutan pekerja. “Kami selama ini tidak mendata. Mungkin bisa langsung tanya ke dinperinaker,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, dinperinaker akan memulai mendata pekerja lokal terserap di proyek-proyek infrastruktur di awal bulan depan. Skema pengumpulan datanya dengan cara meminta ke setiap kontraktor selaku pemenang lelang proyek. Dinperinaker memastikan sudah mengirim surat pemberitahuan ke OPD (organisasi perangkat daerah) yang punya proyek-proyek infrastruktur. Komisi D DPRD mendukung pengecekan ini dan berharap penyerapan pekerja lokal harus maksimal. Apalagi saat ini masih pandemi.

(bj/rij/gas/nae/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news