alexametrics
Jumat, 23 Jul 2021
radarbojonegoro
Home > Redaksi
icon featured
Redaksi

Menanti Nama Baru Bandara Ngloram

Oleh: M. Mahfudz Muntaha

19 Juli 2021, 09: 30: 09 WIB | editor : Nailul Imtihany

Menanti Nama Baru Bandara Ngloram

Share this      

Radar Bojonegoro - Bandara Ngloram kini semakin siap untuk menjadi bandara seutuhkan. Setelah pembangunan landasan terbang dan apron kini pembangunan terminal bandara sudah mendekati tahap akhir. Jika terminal sudah siap maka sudah siap menerima kedatangan penumpang, artinya Bandara Ngloram sudah sepenuhnya sudah bisa diaktifkan. Bukan itu saja jalan akses masuk ke bandara kini juga mulai tahap pengerjaan, jadi tak perlu khawatir saat akan masuk ke bandara.

Berbarengan dengan pembangunan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora telah menyiapkan nama untuk bandara yang ada di Desa Ngloram, Kecamatan Cepu ini. Nama Abdurrahman Wahid atau presiden ke empat Republik Indonesia disarankan menjadi nama bandara. Tentu dengan nama ini sangat keren, karena selain seorang presiden Abdurrahman Wahid atau yang biasa akrab disapa Gus Dur itu juga seorang tokoh pluralisme. Langsung saja saran nama ini disambut baik oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat kunjungan ke Blora pada 24 Juni lalu. Ganjar langsung menyetujui atas usulan nama ini. Bahkan sampai mengusulkan agar nantinya di bandara dibangun patung Gus Dur.

Hanya saja dengan nama seorang tokoh terkemuka itu tak lantas warga Blora satu suara untuk menyetujuinya. Ada pro dan kontra atas nama tersebut. Sebab sebelum usulan nama Abdurrahman Wahid ini muncul sempat ada usulan nama Bandara Arya Penangsang, nama bandara ini diusulkan oleh bupati sebelumnya Djoko Nugroho.

Baca juga: Surplus Neraca Perdagangan Tunjukkan Keberlanjutan Pemulihan Ekonomi

Pihak yang tak setuju dengan nama Bandara Abdurrahman Wahid itu beralasan bahwa presiden ke empat ini tidak ada sangkut pautnya dengan Blora atau Cepu. Bahkan Gus Dur juga berasal dari Jombang. Sehingga seharusnya nama untuk bandara yang ada sangkut pautnya dengan Blora. Contohnya adalah Arya Penangsang yang dinilai ada sangkut pautnya karena ada hubungannya dengan Kerajaan Jipang yang ada di Desa Jipang, Kecamatan Cepu yang penah dia pimpim. Jika bukan Arya Penangsang bisa nama lain. Seperti Djati Kusumo yang merupakan pahlawan di Cepu atau Nama Samin Surosentiko yang merupakan tokoh asli Blora. Nama-nama itu memiliki hubungan langsung dengan Blora baik secara historis dan kultur. Sehingga mereka meminta untuk pemkab pempertimbakan nama-nama tersebut.

Sementara bagi pihak yang setuju atau bahkan bupati Blora Arief Rohman yang mengusulkan langsung nama Bandara Abdurrahman Wahid berpendapat jika dengan nama tokoh asal Jombang itu maka bandara ini akan mudah dikenal. Karena jasa-jasa presiden ke empat ini sangat besar. Soal historis Gus Dur juga pernah ke Blora dan Gus Dur juga mengenal Blora. Apalagi secara hubungan historis di Blora juga menjadi berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) pertama di Indonesia, sementara Gus Dur juga pernah menjabat sebagai Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Bahkan Gus Dur juga tahu Blora.

Itu adalah sebagian alasan-alasan terkait saran penamaan Bandara Ngloram. Yang memang secara teori ada pembenaran dari masing – masing pendapat tersebut.

Hanya saja bagi saya untuk Bandara Ngloram butuh publikasi yang cukup masif untuk memperkenalkan bahwa di sisi timur Jawa Tengah dan berbatasan dengan Jawa Timur ada sebuah bandara. Tentu salah satunya untuk memperkenalkan itu dengan nama bandara lebih universal. Dengan saran nama-nama yang sudah sampaikan itu memiliki makna yang baik dan dikenal secara nasional dan bernilai historis secara langsung atau tidak langsung bagi Blora. Hanya saja jika saya harus memilih nama yang lebih cepat mempengaruhi, tentu saya memilih nama Bandara Abdurrahman Wahid, nama tokoh ini sangat mempengaruhi banyak pihak di Indonesia. Tentu bandara di Blora ini akan mudah di kenal. Paling tidak orang akan mencari tahu dimana letaknya. Tentu setelah itu akan mencari tahu kalau ke bandara ini di daerah sekitar ada apa saja. Akhirnya jika ada tujuan yang layak pasti akan ada yang berkunjung.

Jika sudah begitu maka kesempatan untuk pengembangan wilayah akan sangat baik. Kesempatan ini bukan hanya bagi Cepu atau Blora. Kesempatan pengembangan wilayah juga terbuka luas untuk daerah sekitar bandara. Seperti Kabupaten Bojonegoro, Ngawi atau Tuban. Jika daerah terdekat tidak memanfaatkan dengan baik kesempatan ini akan diambil oleh daerah lain.

Tentu harapan bersama, apapaun nama Bandara Ngloram nantinya, baik itu Bandara Arya Penangsang, Bandara Abdurrahman Wahid atau mungkin nanti tetap nama Bandara Ngloram, bandara ini semoga benar-benar difungsikan. Pesawat bisa silih berganti, datang dan pergi setiap jamnya. Cepu kembali menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di Blora dan menular di daerah di sekitarnya. Semoga. 

(bj/fud/nae/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news