alexametrics
Jumat, 23 Jul 2021
radarbojonegoro
Home > Bojonegoro
icon featured
Bojonegoro

I Ketut Sulasta, Setengah Abad Membantu Operasi Bedah di Bojonegoro

Bekerja Sejak RSUD Masih Berdinding Gedhek

15 Juli 2021, 14: 30: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

I Ketut Sulasta

I Ketut Sulasta

Share this      

Sejak 1971, I Ketut Sulasta sudah diberikan kepercayaan membantu operasi bedah di RSUD Bojonegoro. Saat itu belum ada dokter spesialis bedah. Jejak praktik bedah di sejumlah rumah sakit di Bojonegoro.

M. LUKMAN HAKIM, Radar Bojonegoro

Silau cahaya sore memayungi permukiman Desa Campurejo, Kecamatan Bojonegoro Kota. Deru mesin motor tak begitu menderu. Lengang. Tampak salah satu rumah bercat kuning dan berpagar putih cukup sederhana.

Baca juga: Pencuri Rokok Bekeliaran, Sudah Tiga Minimarket Kebobolan

I Ketut Sulasta pemilik rumah berjalan keluar dari pintu. Senyum ramah melukiskan sosok I Ketut Sulasta. Sejenak ngobrol, Ketut memelantingkan ingatan tempo dulu saat kali pertama menginjakkan kakinya di Bojonegoro.

Saat itu, Ketut sapaan akrabnya sebagai pembantu dokter di RSUD Bojonegoro. Masih kentara ingatannya, RSUD masih berupa tembok gedhek atau anyaman bambu. Kapasitas rumah sakit sekitar 50 kamar tidur. Saat itu, masih sedikit tenaga medis rumah sakit. “Saya masuk rumah sakit kali pertama seperti gudang. Temboknya dari bambu dilapisi kapur,” ujar Ketut dengan raut heran.

Waktu itu, Ketut sebagai perawat dan bertugas membantu dokter di rumah sakit. Ketut begitu akrab dengan sejumlah dokter. Melihat kondisi tenaga medis masih kurang, Ketut disekolahkan untuk mempelajari radiologi atau rontgen. Usai sekolah, Ketut kembali membantu menangani rontgen. Saat itu, fasilitas rontgen hanya ada di Bojonegoro.

“Lamongan dan Tuban belum ada (rontgen). Setelah berdiri radiologi rumah sakit mulai berani memberikan penanganan,” ungkap kakek 72 tahun ini. Lelaki kelahiran Bali itu masih ingat saat bertugas awal-awal itu baru ada tiga dokter umum. Belum ada dokter spesialis bedah.

Ketika kondisi darurat, ia ikut membantu melakukan operasi. Bertindak sebagai asisten dokter umum membantu operasi bedah pasien. Jejaknya dalam dunia medis kian tebal. Ia dikirim belajar lagi selama lima bulan mendalami ortopedi. Yakni, cabang ilmu kedokteran mempelajari studi, diagnosis, dan pengobatan gangguan otot, tulang, dan sendi.

“Saat itu, tenaga reposisi belum ada. Dan dikirim ke Surabaya untuk belajar reposisi tulang,” jelas kakek juga menjadi dosen kampus kesehatan ini.

Pada 1976, kelaki hobi membaca ini balik ke Bojonegoro. Sejak itu, kali pertama ditugaskan melakukan operasi bedah tulang. Perlahan berkembang, mulailah pada 1981 ada dokter spesialis bedah, spesialis kandungan dan anak. Jejak praktik bedahnya merambat ke berbagai rumah sakit rintisan, salah satunya Rumah Sakit Aisyiyah.

Ketut masih teringat, dahulu RS Aisyiyah merupakan poliklinik. Kisaran 1982 sampai 1983 RS Aisyiyah mulai ada praktik bedah kandungan. “Waktu itu saya membuka kamar bedah dengan dokter Artur Siregar dan dokter Kholik,” ungkap pria juga pengurus Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Bojonegoro itu.

Jejak operasi bedahnya merembet lagi di Puskesmas Sumberrejo (kini RSUD). Ia memelopori kamar operasi bedah tulang. Pada 2005 bersama dr Askan membuka praktik kamar operasi atau bedah di RS Bhayangkara.

Ketut belum berhenti membuka jalur operasi bedah. Merembet ke PKU Kalitidu. Kembali berduet dengan dr Askan membuka praktik bedah dan kandungan. Sedangkan, di RSUD Padangan, Ketut hanya menyiapkan setting untuk operasi kandungan.

Mantan dosen akademi kebidanan ini merasa praktik bedah sudah menjadi teman akrabnya. Selama setengah abad, hidupnya di Bojonegoro didedikasikan ikut andil merintis pelayanan bedah di sejumlah rumah sakit. Di usia senjanya kini, Ketut menuliskan buku autobiografi berjudul Anak Desa dari Lembah Batu Karu.

Hal itu untuk mengenang dan mengabadikan perjalanan hidup ketika kecil hingga sekolah medis dan menetap di Bojonegoro. Proses kreatifnya menulis dipicu dari keluarga sekaligus teman sudah menerbitkan buku terlebih dahulu.

Ketut ingin memiliki jejak bisa dibaca dan dipelajari oleh anak dan cucu-cucunya. “Dengan menulis perjalanan hidup, ingin berbagi cerita bahwa semua orang bisa menulis. Tidak menuntut jabatan, anak orang kaya atau miskin,” ujar kakek hingga kini masih aktif membantu bedah tersebut.

(bj/rij/nae/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news