alexametrics
Jumat, 23 Jul 2021
radarbojonegoro
Home > Pembaca
icon featured
Pembaca

PERNIKAHAN DINI MEROKET DI TENGAH WABAH PANDEMI COVID-19

14 Juni 2021, 17: 53: 03 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

PERNIKAHAN DINI MEROKET DI TENGAH WABAH PANDEMI COVID-19

Share this      

Mengingat wabah pandemi Covid-19 hingga kini belum usai, dimana berbagai dampak negatif yang telah dirasakan tidak hanya lumpuhkan sektor ekonomi dan kesehatan semata, melainkan picu peningkatan 10 juta anak melakukan pernikahan yang belum cukup umur atau yang biasa disebut dengan pernikahan dini. Fenomena pernikahan dini kian meningkat signifikan tidak hanya terjadi di Indonesia melainkan di berbagai negara yang ada di dunia.

Terlihat selama dua tahun terakhir yaitu tahun 2019 hingga 2020 Indonesia termasuk negara kedua dengan angka perkawinan anak di usia dini tertinggi di Asia Tenggara. Pernikahan dini merupakan pernikahan yang dilakukan dibawah usia yang seharusnya belum siap untuk melangsungkan pernikahan. Normalnya usia pernikahan yang ideal berdasarkan usia pernikahan yang sehat adalah 20 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki. Dapat dikatakan bahwasannya pernikahan dini juga merupakan isu yang kompleks, sebab tidak akan pernah berakhir dan sudah ada dikalangan umat Yahudi dan Nasrani sebelum Islam.

 Zaman dahulu mungkin pernikahan dini itu penting agar tidak menimbulkan bahaya atau fitnah, namun dengan kondisi zaman seperti ini pernikahan dini hanya akan menambah kerusakan atau permasalahan, karena dibalik itu semua pernikahan dini memiliki efek negatif yang serius. Apabila seorang remaja perempuan hamil, hal ini dapat berdampak signifikan pada kesehatan (akibat komplikasi dari persalinan), pendidikan, kesempatan kerja, sangat berpotensi besar mengalami kekerasan hingga memengaruhi kehidupan dan pendapatannya di masa depan. Dampak anak yang telah dilahirkannya juga sangat berisiko pada kematian. (Buentjen & Walton, 2019: Rosalin, 16 Februari 2021). 

Baca juga: Ajak Sehat dengan Video Klip Zumba

Ironisnya, angka pernikahan dini selama masa pandemi kian meroket meskipun sudah tertera pada Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang perkawinan bahwa batas usia minimal perkawinan bagi perempuan telah ditingkatkan menjadi 19 tahun, namun pernikahan dini tetap tidak disarankan. Salah satu pemicu pernikahan dini di Indonesia pada masa pandemi tidak jauh berbeda dengan penyebab perkawinan anak pada kondisi normal. Berbagai faktor yang melatar belakangi yaitu faktor ekonomi, pola pikir atau mindset, kultur masyarakat, dan perilaku seks bebas.

Penutupan Sekolah dan Perkawinan Anak di tengah Pandemi Covid-19 sangat relavan sebab telah serta merta mengubah pola hidup tatanan kehidupan masyarakat. Dimana perubahan sistem pembelajaran kini menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau secara daring (online), namun sayangnya masih sulit untuk dilaksanakan secara optimal. Bahkan anak didik, sekolah, maupun keluarga pun banyak yang tidak siap akan perubahan pembelajaran yang ada dan harus beradaptasi dengan menerapkan kebiasaan-kebiasaan baru.

Penutupan sekolah dengan situasi ekonomi memburuk juga membuat banyak anak dianggap sebagai beban keluarga. Kondisi seperti ini telah memaksa orang tua membiarkan anaknya menikah. Berdasarkan Kementerian PPPA tercatat bahwa angka perkawinan anak meningkat dari tahun 2019 hingga Juni 2020 menjadi 24 ribu saat pandemi (Kementerian PPN/Bappenas, 2020: v). 

Faktanya, kebijakan penutupan sekolah banyak orang tua merasa kebingungan untuk melakukan pembelajaran anak di rumah. Tidak hanya itu, peningkatan angka perkawinan dini terjadi karena terbatasnya ekonomi, para orang tua tidak sanggup untuk membeli gadget (handphone) serta kuota untuk pembelajaran daring (online) meskipun sudah mendapatkan bantuan kuota dari Kemendikbud, nampaknya belum sepenuhnya mencukupi. Sehingga pernikahan inilah yang menjadi titik awal solusi dari permasalahan tersebut.

padahal, pernikahan bukan siapa cepat dia dapat, pernikahan bukan sarana sebagai wahana untuk menyatukan dua insan yang berbeda, akan tetapi pernikahan itu merupakan sunnahtullah karena setiap makhluk diciptakan secara berpasang-pasangan. Pernikahan juga bukan melulu soal kesenangan semata karena didalamnya penuh dengan perjuangan yang tiada hentinya. 

Melihat realitas permasalahan tersebut peran sosiolog tentunya dapat memberikan solusi untuk mengatasi pernikahan dini salah satunya melalui penguatan, pemahaman, dan peran dari orang tua, keluarga, sekolah, lembaga organisasi atau kemasyarakatan dan sebagainya. Di samping itu, Pencegahan pernikahan dini juga dapat dilakukan dengan cara mengubah pola pikir (mindset) masyarakat mengenai perlu dan pentingnya pendidikan sehingga mereka tidak terburu-buru menikahkan anak, mengadakan penyuluhan seperti mensosialisasikan antisipasi pernikahan dini melalui berbagai media pada setiap daerah. Sedangkan untuk menekan angka pernikahan dini bisa ditekan melalui pengoptimalan program KB, berupa perencanaan dalam proses keluarga, mulai dari perencanaan pendidikan anak, kesehatan keluarga, dan ekonomi keluarga.

BIODATA PENULIS

Nama: Maslatun Nisak

Tempat Tanggal Lahir: Lamongan, 19 Maret 2001

Alamat Rumah: Dsn. Pule Ds. Bakalanpule RT. 001/004 Kecamatan Tikung Kabupaten Lamongan

Jurusan: Sosiologi

Institusi: Universitas Muhammadiyah Malang

Nomor HP: 085732247868

(bj/*/bet/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news