alexametrics
Selasa, 15 Jun 2021
radarbojonegoro
Home > Bojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Harga Bahan Baku Kian Tinggi, Produsen Tahu Sulit Satu Suara

11 Juni 2021, 12: 00: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

BUTUH SOLUSI: Produsen tahu dan tempe menjerit karena tingginya harga kedelai sebagai bahan baku. Selama ini belum ada perhatian dari pemerintah.

BUTUH SOLUSI: Produsen tahu dan tempe menjerit karena tingginya harga kedelai sebagai bahan baku. Selama ini belum ada perhatian dari pemerintah. (NURCHOLISH/RDR.BJN)

Share this      

Radar Bojonegoro - Nasib para produsen tahu dan tempe di Bojonegoro makin terkatung-katung. Harga bahan baku kian tinggi dan para produsen takut menaikkan harga tahu maupun tempe. Solusi pun tak kunjung didapat.

Apalagi, belum ada asosiasi atau tempat bernaung para produsen tahu dan tempe. Sehingga mereka kesulitan untuk satu suara. Ketua Paguyuban Produsen Tahu Kelurahan Ledok Kulon Pranyoto mengungkapkan, kenaikan harga kedelai impor dirasakan secara nasional. Namun, ternyata tak membuat para produsen tahu maupun tempe di Bojonegoro bisa satu suara.

Padahal dia memantau para produsen tahu maupun tempe di Jakarta, Jawa Barat, dan beberapa daerah lainnya sudah kompak mogok produksi. “Kami dilematis untuk menyikapi kenaikan harga kedelai impor yang sudah berkepanjangan ini. Sebab, ketika hendak mogok butuh kekompakan para produsen se-Bojonegoro. Semisal hanya produsen dari Ledok Kulon saja yang mogok, takutnya dimanfaatkan orang lain,” bebernya.

Baca juga: Harmonisasi Pemegang Saham & Perbaikan, Naikkan Peringkat Pefindo AAA

Menurut dia, karena ketakutan yang di depan mata ialah kehilangan pelanggan. Apabila bisa kompak mogok bersama dan kompak menaikkan harga jual tentu perlahan pelanggan akan memahami. Upaya mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro sekaligus Komisi B DPRD Bojonegoro juga belum bisa memberikan solusi.

Pihak Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro Bojonegoro mengundang paguyubannya untuk membahas nasib para produsen tahu pada Rabu lalu (9/6). Tetapi, saat itu dia berhalangan hadir, karena masih berada di Blora. Sehingga pertemuan tersebut dijadwalkan ulang. “Informasinya pihak dinas perdagangan hendak menawarkan kedelai impor, namun harganya tak jauh berbeda dengan harga pasaran,” ujarnya.

Sebenarnya, pihaknya sangat berharap bisa bertemu langsung dengan Bupati Bojonegoro Anna Muawanah. Setidaknya bupati bisa memberikan solusi dan kebijakannya yang bisa berpihak kepada para produsen tahu maupun tempe. Apalagi selama pandemi Covid-19, para produsen tahu maupun tempe tidak ada yang menerima bantuan sosial.

Sementara itu, harga kedelai impor masih sekitar Rp 10.500 per kilogram. Lalu, harga minyak goreng sekitar RP 14.500 per kilogram. Diperkirakan sekitar pertengahan tahun ini beberapa lahan kedelai lokal mulai panen, namun tidak merata. Biasanya panen rayanya September hingga Oktober. “Kalau harga kedelai impor saat ini kisaran Rp 9.550 per kilogram,” ucapnya.

Terpisah, Arifin, produsen tahu dan tempe Kelurahan Ledok Kulon juga masih mengeluhkan terkait kurang kompaknya sesama produsen tahu maupun tempe. Padahal, kondisinya sudah sangat terdesak. Produsen-produsen kecil mulai berhenti produksi. “Tapi kami juga berharap adanya kepekaan Pemkab Bojonegoro bisa memberikan solusi,” tegasnya.

(bj/msu/gas/nae/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news