alexametrics
Selasa, 15 Jun 2021
radarbojonegoro
Home > Bojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Gaji ASN Tembus Rp 2 Triliun, Dinas Pendidikan Terbanyak

10 Juni 2021, 17: 00: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

Gaji ASN Tembus Rp 2 Triliun, Dinas Pendidikan Terbanyak

(AINUR OCHIEM/RDR.BJN)

Share this      

Radar Bojonegoro - Alokasi gaji aparatur sipil negara (ASN) di Bojonegoro ternyata cukup besar. Anggarannya mencapai Rp 2 triliun. ASN di lingkup dinas pendidikan (disdik) mendapatkan porsi paling besar, mencapai Rp 843 miliar.

DPRD meminta para ASN terus meningkatkan kinerja untuk pelayanan masyarakat. Termasuk kinerja guru ASN agar memacu kinerja untuk peningkatan indeks pembangunan manusia (IPM). Sekretaris Disdik Bojonegoro Lasiran mengatakan, jumlah ASN di lingkup disdik memang banyak.

Karena itu tidak heran jika alokasi gaji pendidik dan guru besar. ASN di lingkup disdik tidak hanya ada di kantor saja. Melainkan tersebar di sekolah sekolah di seluruh kecamatan. Mulai TK, SD, hingga SMP. Mulai guru, pengawas, hingga tenaga kependidikan. ‘’Kalau gaji itu kan rutin. Kami alokasinya besar karena personelnya banyak,’’ ujar mantan kepala SMPN 6 Bojonegoro itu.

Baca juga: Desain Trotoar Sama, Sisa Lelang Tiga Titik

Tahun ini, disdik memang menerima APBD cukup banyak. Yakni, mencapai Rp 1 triliun. Namun, 80 persen lebih anggarannya diperuntukkan gaji pegawai. ‘’Saya tidak hafal jumlah ASN. Hanya lebih banyak dibanding OPD lainnya,’’ jelasnya.

Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Bojonegoro Luluk Alifah mengaku tidak hafal dengan nominal gaji itu. ‘’Saya tidak hafal nilainya. Kalau plus tunjangannya nilainya segitu,’’ jelasnya.

Sekretaris Komisi C DPRD Bojonegoro Ahmad Supriyanto meminta para ASN untuk terus meningkatkan kinerja. Sebab, mereka sudah menyedot banyak anggaran untuk gaji. Sehingga, harus diimbangi dengan kinerja yang meningkat. ‘’Kinerja harus ditingkatkan. Sehingga, pelayanan kepada masyarakat semakin maksimal,’’ jelasnya.

Dia melanjutkan, kinerja disdik harus terus ditingkatkan. Selama ini disdik kerap tidak memiliki data rinci. Terutama terkait dengan jumlah sekolah-sekolah yang rusak. Padahal, data-data ini penting untuk digunakan mengambil kebijakan dan program pembangunan.

(bj/rij/zim/nae/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news