alexametrics
Selasa, 15 Jun 2021
radarbojonegoro
Home > Bojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Kawasan Selatan Bojonegoro Berpotensi Gempa, Pasang Alat Deteksi Dini

10 Juni 2021, 14: 00: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

PENGECEKAN: Petugas BPBD mengecek alat deteksi dini mewaspadai gempa bumi. Ada 16 kecamatan rawan gempa.

PENGECEKAN: Petugas BPBD mengecek alat deteksi dini mewaspadai gempa bumi. Ada 16 kecamatan rawan gempa. (NURCHOLISH/RDR.BJN)

Share this      

Radar Bojonegoro - Sejumlah kawasan selatan di Bojonegoro memiliki potensi gempa bumi. Indikasi itu karena dilewati sesar di zona Kendeng wilayah selatan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro menyiapkan alat deteksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Berdasar pendataan sementara, ada 16 dari 28 kecamatan di Bojonegoro berpotensi terdampak bencana gempa bumi. “Alat deteksi dini gempa bumi tersebut sudah ada sejak 2020, namun sebelumnya diletakkan di kantor Kecamatan Tambakrejo karena saat itu ada renovasi gedung kantor BPBD,” tutur Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Bojonegoro Ardhian Orianto kemarin.

Alat deteksi dini gempa bumi itu akan mengirimkan informasi setiap ada gempa berkekuatan sekecil apapun. Data serta informasi akan disampaikan benar-benar real-time. Sehingga ketika terdeteksi terjadi gempa bumi, bisa segera disampaikan ke masyarakat dan lintas organisasi perangkat daerah (OPD).

Baca juga: Scrapbook, Bukan Sekadar Seni Menghias Album Foto

Ardhian menjelaskan, bahwa kawasan Bojonegoro memiliki potensi gempa karena dilewati sesar di zona Kendeng di wilayah selatan. Dan sesar di zona Rembang wilayah utara yang berbatasan dengan Kabupaten Tuban dan Blora, Jawa Tengah. “Kawasan Bojonegoro diketahui memiliki potensi gempa berdasar dokumen kajian risiko bencana 2017-2021 yang dikeluarkan BNPB,” jelasnya.

Diketahui, wilayah berpotensi terjadi gempa bumi sebanyak 194 desa dari 16 kecamatan. Di antaranya Kecamatan Bubulan, Dander, Gondang, Kasiman, Kedewan, Kedungadem, Malo, Margomulyo, Ngambon, Ngasem, Ngraho, Sekar, Sugihwaras, Tambakrejo, Temayang, dan Trucuk. “Adapun kelas bahayanya di 16 kecamatan tersebut dikategorikan rendah. Namun, tetap harus diwaspadai,” tegasnya.

Namun, Ardhian memastikan alat deteksi dini itu tidak bisa melakukan deteksi dini titik panas (hotspot). Mengingat saat ini sudah memasuki musim kemarau dan kerap kali rawan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebab, data dan informasi hotspot bukan berasal dari BMKG, tapi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). 

(bj/rij/gas/nae/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news