alexametrics
Selasa, 15 Jun 2021
radarbojonegoro
Home > Bojonegoro
icon featured
Bojonegoro

10 Korban Tenggelam Selama 5 Bulan Didominasi Anak-Anak

Perlukah Siswa Jalani Pelajaran Renang?

07 Juni 2021, 18: 00: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

RENANG: Anak-anak bermain renang di aliran Sumber Air Grogolan Ngunut, Dander. Berenang menjadi poin penting mengingat banyak korban tenggelam. Tahun ini sudah ada 10 korban tenggelam.

RENANG: Anak-anak bermain renang di aliran Sumber Air Grogolan Ngunut, Dander. Berenang menjadi poin penting mengingat banyak korban tenggelam. Tahun ini sudah ada 10 korban tenggelam. (NURCHOLISH/RDR.BJN)

Share this      

Radar Bojonegoro - Korban tenggelam selama ini didominasi anak-anak atau siswa. Mulai tenggelam di Sungai Bengawan Solo hingga waduk atau kali. Rerata karena tidak bisa berenang. Namun, perlu tidaknya pelajaran berenang dalam sekolah masih dalam kajian.

Berdasar data dihimpun Jawa Pos Radar Bojonegoro, selama lima bulan ini sudah ada sepuluh korban tenggelam. Korban didominasi anak di bawah umur. Lokasi kejadian tenggelam terdiri atas Bengawan Solo, waduk atau embung, dan saluran drainase.

Rinciannya, tiga korban tenggelam pada Januari, dua korban tenggelam pada Maret, dua korban tenggelam pada April, dua korban pada Mei, dan satu korban tenggelam pada awal Juni.

Baca juga: Potensi Gempa dan Tsunami Tidak Terjadi di Pantura

Sekretaris Dinas Pendidikan (Disdik) Bojonegoro Lasiran mengatakan, terkait kewajiban sekolah mengajarkan olahraga renang kepada peserta didiknya, tentu tergantung ketersediaan sumber daya manusia (SDM) serta fasilitasnya. Karena biasanya olahraga renang masuknya ke dalam ekstrakurikuler. Atau bisa masuk salah satu materi yang diajarkan dalam pelajaran olahraga.

Upaya terdekat, menurut Lasiran, diperlukan sinergisitas disdik dengan BPBD guna upaya preventif agar tidak kembali terjadi kejadian tenggelam. Apalagi selama setahun ini, seluruh siswa sekolah belajar daring. Sehingga peran dan tanggung jawab orang tua untuk menjaga anak-anaknya perlu ditingkatkan.

“Tentu saat pandemi Covid-19 sudah terkendali, kami akan bersurat ke BPBD agar masuk ke sekolah-sekolah untuk mengedukasi pencegahan orang tenggelam serta seputar kebencanaan,” ucap mantan Kepala SMP Negeri 6 Bojonegoro itu.

Anggota Komisi C DPRD Bojonegoro Hidayatus Sirot menyayangkan adanya kejadian tenggelam rerata korbannya anakanak. Dia menilai perlu adanya sinergisitas antara BPBD Bojonegoro, pemerintah desa, dan dinas pendidikan guna edukasi secara masif bahayanya bermain di sungai. Setidaknya perlu dilakukan mitigasi titik-titik mana saja yang rawan tenggelam.

“Sehingga, BPBD bersama pemdes perlu sinergi dengan cara aktif berso sialisasi atau bisa juga dengan memasang papan-papan peringatan di bantaran Bengawan Solo, waduk, atau sungai,” bebernya.

Bahkan bisa sekaligus sosialisasi terkait kebencanaan, mengingat Bojonegoro setiap tahunnya rawan bencana seperti banjir luapan, banjir bandang, longsor, angin kencang, dan kekeringan. Penguatan kapasitas SDM harus senantiasa digalakkan.

(bj/rij/gas/nae/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news