alexametrics
Selasa, 15 Jun 2021
radarbojonegoro
Home > Lamongan
icon featured
Lamongan

Darurat Covid! Dua Pekan, Enam Warga Desa Sidodowo Meninggal

05 Juni 2021, 16: 30: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

Darurat Covid! Dua Pekan, Enam Warga Desa Sidodowo Meninggal

Share this      

Radar Lamongan – Suasana di Desa Sidodowo, Kecamatan Modo sejak Kamis (3/6) malam berubah sunyi. Dua portal dipasang di pintu masuk desa. Setiap warga yang masuk desa diketati.

Kemarin siang (4/6), kesunyian itu masih terasa. Warung – warung yang biasanya ramai, sebagian besar terlihat ditutup pemiliknya. Sebagian rumah di desa itu ikut ditutup rapat.

Kendaraan juga jarang yang berlalu lalang. Perubahan drastis suasana itu menyusul status darurat Covid-19 yang diberlakukan Desa Sidodowo. Stempel status itu setelah ada lima warga desa setempat yang meninggal selama masa setelah lebaran.

Baca juga: Kuota Jalur Prestasi PPDB SMPN Belum Pasti

Kemarin (4/6) sore, jumlah itu bertambah seorang menjadi enam orang meninggal. Dua dari enam warga tersebut dinyatakan positif Covid-19 berdasarkan tes PCR. Sementara kematian warga lainnya karena Covid-19 atau faktor lainnya, masih menunggu hasil tes. “Kita masih melakukan tracing, hasilnya tetap menunggu litbangkes,” ujar Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Lamongan Abdullah Wasi’an.

Dia menjelaskan, setelah kemunculan kasus tersebut, semua tim dari dinas diterjunkan. Hasilnya tracing klinik maupun rumah sakit ada 36 dinyatakan positif. Sembilan orang positif PCR, tujuh isolasi rumah sakit, dua meninggal dunia. Tes rapid antigen, 27 orang positif, tiga meninggal dunia, 23 isolasi mandiri, dan satu isolasi rumah sakit.

Dari 27 positif hasil rapid antigen, tujuh orang di antaranya tracing di fasilitas pelayanan kesehatan lain. “Untuk kasus meninggal ini dua sudah dinyatakan positif, dua lagi belum diketahui hasilnya karena meninggal sebelum kasus mencuat, satu meninggal positif antigen,” jelasnya saat dikonfirmasi sebelum peristiwa kematian seorang warga lagi.

Wasi’an mengatakan, kasus ini dimasukkan klaster hajatan. Sebab, munculnya kasus tersebut tiga hari setelah warga setempat menghadiri acara hajatan. Sesuai penuturan warga, ada delapan Elf yang pergi melakukan hajatan di Bojonegoro dan Sidoarjo. Setelah itu, beberapa orang mengeluh sakit. Mereka kemudian dirawat dan akhirnya meninggal dunia.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Desa Sidodowon Ali Mahrus mengatakan, sebelumnya desanya terbilang aman. Kasus covid sangat minim, bahkan tidak ada. Karena itu, pemerintah desa dikejutkan dengan kejadian beberapa hari terakhir.

Pemdesa mengambil kebijakan dengan menerapkan PPKM mikro ketat (lockdown). Aktivitas masyarakat hanya sampai pukul 19.00. Warga diminta tidak keluar desa guna kepentingan apapun. “Kalau tidak mendesak sebaiknya jangan, kalaupun mau keluar harus seizin RT minimal,” terangnya.

Ali mengatakan, pelaksanaan protokol kesehatan sudah dilakukan secara maksimal. Kejadian tersebut bentuk kelalaian. Dia berharap kerjasama masyarakat untuk patuh prokes dan tidak bepergian di masa pandemi ini. Ali memastikan penyekatan ini tidak akan berdampak pada sektor ekonomi warga. Mereka tetap bisa beraktivitas keesokan harinya dengan tetap melakukan prokes ketat. Penyekatan dilakukan malam hari untuk mengurangi aktivitas warga yang berportensi memicu kerumunan. 

(bj/yan/rka/nae/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news