alexametrics
Selasa, 15 Jun 2021
radarbojonegoro
Home > Tuban
icon featured
Tuban

7 Tahun Radar Tuban, Terus Bertahan dan Menjaga Eksistensi Surat Kabar

05 Juni 2021, 13: 48: 03 WIB | editor : Nailul Imtihany

BERADA DI GARDA TERDEPAN: Kru Jawa Pos Radar Tuban yang konsisten menjaga profesionalitas jurnalistik.

BERADA DI GARDA TERDEPAN: Kru Jawa Pos Radar Tuban yang konsisten menjaga profesionalitas jurnalistik.

Share this      

Begitu lahir tujuh tahun silam, Jawa Pos Radar Tuban sudah dihadapkan pada tantangan yang superberat: kuatnya popularitas internet dan media online.

Di usia yang masih sangat belia, media berbasis surat kabar ini dipaksa untuk mampu bertahan di tengah gempuran kompetitornya. Melesatnya perkembangan teknologi komunikasi yang membidani munculnya multimedia, multiplatform, dan multichannel tidak mungkin dibendung.

Perkembangan multimedia memung kinkan format berita atau informasi tidak lagi terbatas pada bentuk teks, tapi juga video dan audio. Multiplatform, memungkinkan penyampaian informasi tidak lagi terbatas pada perangkat kertas, tapi juga bisa melalui internet, televisi, dan berbagai peralatan digital lain.

Baca juga: Pagu PPDB SMAN dan SMKN Tidak Terpenuhi

Distribusi informasi juga bisa melalui banyak multichannel yang memanfaatkan kemajuan teknologi satelit dan internet. Seiring makin berkembangnya internet dan munculnya kecenderungan baru di masyarakat untuk mengonsumsi berita melalui jaringan dunia maya, portal berita pun menjamur. Tanpa terkecuali di Tuban.

Di tengah kuatnya popularitas internet, muncul kekhawatiran menafikan kepada kalangan insan pers. Itu karena sebagian besar orang telah menjadi wartawan. Semua orang bisa mengunggah beragam informasi di semua media sosial (medsos) maupun blog. Bahkan, menginformasikan sebuah momen secara live dari lokasi kejadian.

Batasan antara orang awam dan wartawan pun kian tipis. Medsos pun membentuk peradaban baru. Berbaur dan menjadi kebutuhan orang banyak, khususnya kaum muda dalam mengonsumsi dan memproduksi berita. Meski, tak sedikit informasi yang membanjir di medsos dan dunia digital tersebut menjerumuskan karena tidak akurat, bahkan memfitnah.

Kalau hanya dengan modal 5W plus 1 H, semua orang bisa menulis berita, lalu apa yang bisa dilakukan insan pers? Tentu, tidak hanya sekadar bisa menulis. Wartawan harus memiliki kekuatan pada tulisannya untuk dorong sebuah perubahan, memberikan warna kebijakan, keseimbangan pemerintahan, dan membangkitkan optimisme.

Tidak hanya informatif seperti halnya muatan tulisan di medsos. Di sinilah peran media arus utama sebagai penjaga dan tetap berada di jalurnya menjaga profesionalitas jurnalistik. Memegang prinsip-prinsip jurnalistik konvensional dan universal. Hal itu ditunjukkan Radar Tuban dengan tetap mempertahankan marwah melalui kebijakan redaksinya untuk menjaga keakurasian.

Mengawal isu-isu terbaru, menjaga kedalaman, kelengkapan, keragaman dimensi, dan tetap objektif. Tak kalah pentingnya, terus memperbaiki kualitas jurnalistik, etika, dan sikap positif dalam keber samaan seluruh stakeholder untuk kemajuan daerah, sebagaimana harapan Direktur Utama Jawa Pos Radar Leak Kustiyo.

Berita-berita kontrol kebijakan, seperti isu terakhir terkait perampingan atau perombakan birokrasi di pemerintahan baru Tuban menjelang naik takhtanya bupati terpilih Aditya Halindra Fardizky pun lebih berorientasi menjaga keseimbangan yang konstruktif. Tidak sekadar memojokkan, apalagi menghakimi.

Pers sebagai pilar keempat demokrasi tetap harus dibangun. Terlahir sebagai insan media konvensional surat kabar, kami tetap optimistis menatap masa depan. Prediksi para pakar komu nikasi puluhan tahun lalu yang menyatakan munculnya televisi menggeser peran media cetak dan radio tidak sepenuhnya benar.

Begitu juga kemunculan internet dan media online yang bakal mematikan surat kabar. Semua media memiliki karakter masing-masing. Media online lebih socialising dan surat kabar lebih informing. Kami yakin akan terjadi segmentasi antara audiens media cetak dan audiens online.

Kedua media ini juga bisa saling melengkapi. Bukan saling menikam dan mematikan. Kami optimis, budaya membaca media cetak sudah menjadi bagian penting dari kultur yang tidak sesederhana digambarkan pakar komunikasi di awal lahirnya internet, bakal punah.

Perlu di ingat, media cetak sudah menjadi bagian dari peradaban umat manusia lebih dari 400 tahun. Beberapa tahun ke depan, kami masih optimistis untuk bertahan dan menjaga eksistensi di media berbasis surat kabar.

Kalaupun Radar Tuban bersama induknya Radar Bojonegoro (holding Jawa Pos Radar) mengembangkan media online dan rencana terbaru menerbitkan multiplatform televisi, itu tidak lain hanya memperkuat posisi media cetak atau persuratkabaran. Tidak akan meninggalkan koran!

(bj/ds/nae/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news