alexametrics
Minggu, 16 May 2021
radarbojonegoro
Home > Bojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Petani Merugi, NTP di Bawah 100

12 April 2021, 12: 00: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

PANGAN: Seorang petani di Kecamatan Kanor menjemur gabah. NTP panen raya kemarin turun memicu petani merugi.

PANGAN: Seorang petani di Kecamatan Kanor menjemur gabah. NTP panen raya kemarin turun memicu petani merugi.

Share this      

Radar Bojonegoro - Panen raya Maret lalu, belum banyak membawa petani meraup untung. Akibat harga gabah yang menurun. Hal tersebut dibuktikan dengan nilai tukar petani (NTP) yang tidak mencapai 100, hanya 99,19. Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, NTP Maret kembali turun menjadi 99,19 dari 100,38 pada Februari lalu.

Penurunan NTP sebesar 1,19 terjadi karena indeks harga diterima petani turun sebesar 0,90 persen sedangkan indeks harga yang dibayar petani naik sebesar 0,29 persen. Sunar petani di Kecamatan Ngasem mengatakan, panen raya lalu memperoleh gabah sebanyak 25 karung. Namun, tidak dijual tapi disimpan dan dikonsumsi sendiri. Karena harga gabah yang anjlok, sekitar Rp 3.350 per kilogram. “Untuk beratnya tidak tahu karena tidak ditimbang,” jelasnya.

Sunar menjelaskan rendahnya harga gabah diperparah dengan harga pupuk mahal dan sulit didapatkan. Sehingga perlu kebijakan dari pemerintah agar harga pupuk lebih rendah, juga ketersediaan melimpah. Setidaknya agar petani tidak kesulitan pada masa tanam saat ini. “Rp 270 ribu mendapat jenis Urea dua karung dan Ponska satu karung,” jelasnya.

Baca juga: Ajak Masyarakat Cegah Diabetes Sejak Dini 

Supriadi petani di Kecamatan Gayam menambahkan, panen raya justru merugi karena harga gabah hanya Rp 3.300 per kilogram. Sehingga hasil panen tidak langsung dijual. Namu, disimpan dan akan dijual dalam bentuk beras. “Diselep menjadi beras setelah itu dijual agar ada harganya,” ujarnya.

Supriadi menjelaskan meski dijual beras, diperkirakan tetap rugi karena harga beras juga murah. Modal tanam sekitar Rp 2,5 juta tidak akan kembali. Ketika beras jual hanya akan menutupi separo dari modal. “Dijual beras tapi hitungannya tetap rugi,” jelasnya.

Kasi Statistik Ditribusi BPS Bojonegoro Deddy Dahlianto mengatakan, NTP tidak mencapai 100 menunjukkan bahwa petani mengalami kerugian. Akibat indeks harga diiterima petani turun, jutru indeks harga dibayar naik. ‘Iya NTP -1,19,” jelasnya. (irv)

(bj/rij/nae/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news