alexametrics
Selasa, 13 Apr 2021
radarbojonegoro
Home > Lamongan
icon featured
Lamongan

Awas! Gagal Ginjal Intai Kaum Milenial

08 April 2021, 17: 30: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

Awas! Gagal Ginjal Intai Kaum Milenial

(AINUR OCHIEM/RDR.BJN)

Share this      

Radar Lamongan - Instalasi Hemodialisa (HD) RSUD dr Soegiri Lamongan tak pernah sepi. Ranjang ranjang yang berdampingan dengan mesin cuci darah itu terisi pasien gagal ginjal. Setiap hari, rata – rata ada 60 pasien melakukan cuci darah.

Penderita gagal ginjal tidak hanya dialami oleh pasien paro baya. Kaum milenial yang berusia di bawah 30 tahun juga bisa terserang penyakit gagal ginjal. ‘’Itu kayak yang di pojokan juga ada (pasien cuci darah berusia muda),’’ ujar Kepala Instalasi HD RSUD dr. Soegiri Lamongan dr Abdur Rahman Sp.PD, FINASIM, sambil menunjukkan pasien yang dimaksud kemarin (7/4).

Dia menuturkan, selama Maret ada 189 pasien yang menjalani cuci darah di RS tersebut. Dari jumlah itu, 12 pasien di antaranya berusia di bawah 30 tahun. Bahkan, satu pasien dilaporkan telah meninggal dunia. Menurut Abdur, secara umum gagal ginjal disebabkan penyakit diabetes mellitus atau kencing manis. ‘’Tidak hanya di Indonesia, bahkan di dunia. Makanya gagal ginjal yang diakibatkan oleh kencing manis disendirikan. Lalu bisa juga disebabkan oleh penyakit hipertensi, batu ginjal, dan radang glomerulus atau radang ginjal,’’ tuturnya.

Baca juga: Berharap Ramadan Tahun Ini Lebih Baik

Dokter spesialis penyakit dalam ini menjelaskan, setiap pasien merasakan gejala yang berbeda-beda sebelum didiagnosa menderita gagal ginjal. Seperti adanya kebocoran ginjal yang ditandai dengan urin yang berbuih dan pembengkakan tubuh, sesak napas, dan mudah lelah karena cairan di dalam tubuh tidak bisa dikeluarkan, serta timbul anemia.

Menurut Abdur, ginjal merupakan organ yang didesain bisa menyeleksi zat apa saja yang dikeluarkan lewat urin. ‘’Tapi kalau protein dan albumin nggak boleh keluar. Kalau sampai keluar, bisa menyebabkan kebocoran yang ditandai urinnya berbuih dan tubuh bengkak bengkak,’’ jelasnya.

Sebelum timbul gejala tersebut, Abdur menyarankan masyarakat untuk rutin memeriksakan diri. Jika sudah diperiksa dan didiagnosa gagal gijal, maka dokter tidak akan langsung mengajurkan tindakan terapi pengganti ginjal atau cuci darah. ‘’Harus diklasifikasikan dulu, itu gagal ginjal akut atau gagal ginjal kronis. Batasannya tiga bulan. Kalau akut, masih ada harapan kembali normal. Tapi kalau kronis, sudah susah normal lagi. Dianjurkan cuci darah jika gagal ginjal kronis stadium lima,’’ terangnya.

Intensitas cuci darah tergantung kondisi pasien. Rerata tiga kali dalam seminggu. ‘’Tapi kalau pakai BPJS, bisanya cuma dua kali dalam seminggu dengan durasi empat jam. Kalau merujuk text book asli, harusnya 12 jam,’’ imbuh Abdur.

Setiap pasien gagal ginjal memiliki harapan untuk sembuh. Jika pasien masih muda, maka akan ditawarkan untuk melakukan cangkok ginjal. Karena melihat harapan hidupnya masih panjang. Atau dengan metode peritoneal dialisis, cuci darah yang bisa dilakukan di rumah dengan bantuan cairan yang dimasukkan ke dalam organ perut untuk memfilter kotoran. Abdur mengungkapkan, opsi cangkok ginjal sulit dilakukan.

‘’Bukan karena biayanya, tapi sulit cari donor ginjalnya. Karena akan dites kesesuaian jaringannya, apakah ginjal itu diterima nggak sama resipien? Belum tentu yang dites sudah benarbenar cocok. Karena ada kemungkinan reject,’’ ungkap pria berusia 44 tahun itu.

Abdur mengatakan, gagal ginjal bisa diantisipasi dengan menerapkan pola hidup sehat. Yakni makan makanan dengan gizi seimbang, tidak merokok, dan tidak mengonsumsi minuman beralkohol. ‘’Kalau punya keturunan keluarga yang diabetes, harus segera skrining agar bisa dikontrol diabetesnya,’’ jelasnya. 

(bj/yan/din/nae/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news