alexametrics
Selasa, 13 Apr 2021
radarbojonegoro
Home > Lamongan
icon featured
Lamongan

Garam Industri Lebih Mahal

03 April 2021, 09: 00: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

LEBIH PROSPEK: Petani garam prisma untuk kebutuhan industri menikmati hasil jual lebih mahal dibandingkan garam petani tradisional untuk pemindangan ikan.

LEBIH PROSPEK: Petani garam prisma untuk kebutuhan industri menikmati hasil jual lebih mahal dibandingkan garam petani tradisional untuk pemindangan ikan.

Share this      

Radar Lamongan – Produktivitas garam di kawasan pantura Lamongan melandai pada triwulan pertama tahun ini. Pasokan masih didominasi hasil garam prisma, yang kini menyasar pasar industri.

‘’Ini sudah siap mengirim sekitar 80 ton ke salah satu industri di luar provinsi,’’ tutur salah satu petani garam prisma di Kecamatan Brondong Arifin kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (1/4).

Dia menjelaskan, harga garam relatif cukup tinggi karena stok garam cukup minim. ‘’Seperti hukum ekonomi, ketika sebuah produk sedikit tapi peminatnya tinggi, maka harga dipasaran pasti relatif lebih tinggi,’’ imbuh Arifin.

Baca juga: Antisipasi Teroris, Perketat Penjagaan

Dia menjelaskan, garam prisma yang didistribusikan ke sektor industri dihargai Rp 1.300 per kilogram (kg). Harga tersebut lebih tinggi dibanding garam petani tradisional untuk pemindangan ikan. ‘’Kalau garam yang untuk pemindangan ikan harganya hanya Rp 800 hingga Rp 1.000 per kg,’’ ucap Arifin.

Dia menjelaskan, garam prisma memiliki kadar 99 NaCl. Kadar tersebut cukup bagus untuk industri es batu, industri kaca, dan pabrik pupuk. ‘’Sedangkan garam konsumsi standarnya tidak boleh melebihi 97 NaCl,’’ terangnya.

Arifin mencontohkan rencana pemerintah yang melakukan impor garam dari Australia. Dia mengatakan, garam Australia yang memiliki kandungan 98 NaCl diperuntukkan industri. ‘’Kalau saya memandang tetap perlu impor, karena kita belum bisa membuat seperti yang dibutuhkan. Cuma kuotanya harus dibatasi. Jangan melebihi kebutuhan,’’ katanya.

Arifin memerkirakan ada kelebihan kebutuhan dari rencana 3 juta ton impor yang dilakukan pemerintah. Berdasarkan informasi yang diterimanya, kebutuhan di Indonesia hanya 2,6 juta ton.

‘’Kalau kelebihan, maka petani lokal yang terimbas. Serta khawatirnya, garam impor juga digunakan untuk konsumsi, karena jumlahnya banyak. Padahal kan peruntukkannya berbeda,’’ tutur Arifin.

(bj/yan/ind/nae/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news