alexametrics
Selasa, 13 Apr 2021
radarbojonegoro
Home > Boks
icon featured
Boks

Olah Biji Juwet Menjadi Kopi, Hanya Produksi saat Musim Kemarau

31 Maret 2021, 11: 30: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

OLAHAN BIJI JUWET: Ahmad Efendi dan hasil racikan bubuk biji juwet dengan kopi robusta.

OLAHAN BIJI JUWET: Ahmad Efendi dan hasil racikan bubuk biji juwet dengan kopi robusta. (AUDINA HUTAMA PUTRI/RDR.LMG)

Share this      

Buah juwet di Desa Lopang, Kecamatan Kembangbahu melimpah ruah. Ahmad Efendi, 22, mencoba mengkreasikan biji juwet menjadi kopi agar bisa dikonsumsi.  

AUDINA HUTAMA PUTRI, Lamongan

Ahmad Efendi dan warga Desa Lopang tak asing dengan buah juwet. Saat musim kemarau, buah yang disebut anggur Jawa ini melimpah ruah karena memasuki masa panen. Selain dikonsumsi secara langsung, beberapa warga mengkreasikan juwet menjadi berbagai jenis olahan pangan dan minuman.

Baca juga: SMAN 2 Tuban Runner Up Terbanyak Loloskan Siswa ke SNMPTN

Seperti yang dilakukan Efendi dan pemuda lainnya. Mereka mengkreasikan biji juwet menjadi kopi. ‘’Tahun 2018 sudah mulai eksperimen dan produksi. Tapi kalau dipasarkan ke masyarakat baru tahun 2020 kemarin,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (30/3).

Bagi Efendi, biji juwet layak dijadikan kopi karena termasuk tanaman herbal yang memiliki nilai gizi sekaligus rendah kafein. Selain itu, olahan kopi dari biji juwet juga jarang ditemukan. Butuh waktu satu bulan bagi Efendi bereksperimen untuk menciptakan formula rasa kopi juwet yang pas.

‘’Pokoknya biji juwet yang bisa dipakai yang buahnya sudah benar-benar matang. Terus bijinya dijemur biar kering sama menghilangkan kulit arinya. Lalu disangrai dan digiling. Satu kali produksi butuh waktu seminggu untuk proses dari awal sampai pengemasan. Misalnya bahan baku biji juwetnya satu kilogram, nanti setelah jadi bubuk berkurang satu ons,’’ paparnya.

Biji juwet yang telah menjadi bubuk halus, tetap ditambahkan bubuk kopi robusta untuk menyeimbangkan rasa. Komposisinya 60 persen bubuk biji juwet dan 40 persen bubuk kopi robusta. ‘’Walaupun dicampur sama bubuk kopi murni, rasa dari juwetnya tetap ada. Agak asam, sepat, manisnya masih ada dan segar. Aroma khas buah juwet juga masih tercium,’’ ungkapnya.

Selain dapat dikonsumsi langsung layaknya kopi hitam pada umumnya, Efendi dan temantemannya juga pernah mengolahnya menjadi cappuccino. ‘’Kalau dibikin cappuccino takaran kopinya lebih sedikit sama ditambah susu dan creamer. Anak-anak muda lebih suka dibikin cappuccino daripada rasa original,’’ ujarnya.

Efendi menuturkan, proses sangrai biji juwet sangat menentukan cita rasa. Kendala utama saat menyangrai adalah tidak bisa mengetahui tingkat kematangan biji juwet secara pasti. Apalagi dia masih menggunakan kuali berbahan tanah liat untuk menyangrai. ‘’Kecuali kalau kita pakai alat roaster seperti di kedai-kedai kopi modern lebih gampang menentukan tingkat kematangannya. Maunya berapa persen. Kita tidak punya alatnya. Masih pakai cara tradisional,’’ tutur mahasiswa semester delapan jurusan pendidikan jasmani, kesehatan, dan rekreasi ini.

Selama ini, Efendi dan temantemannya memasarkan kopi biji juwet melalui berbagai pameran UMKM dan marketplace. Dia mengklaim, banyak konsumen tertarik membeli kopi kreasinya karena dinilai inovatif dan berkhasiat. ‘’Bisa untuk menurunkan gula dan mencegah kanker. Tapi kita masih perlu riset yang mendalam. Sekarang juga masih proses didaftarkan izin PIRT (Produksi Pangan Industri Rumah Tangga),’’ ujarnya.

Karena termasuk buah musiman, Efendi menggenjot produksi kopi juwet ini ketika musim kemarau. Supaya dia tetap memiliki stok barang. Efendi berharap dapat mengembangkan produk kopinya agar dapat disajikan di kafe – kafe. ‘’Sekaligus kopi juwet ini bisa jadi produk kebanggaan Lopang. Karena memiliki khasiat untuk kesehatan,’’ ujarnya.

(bj/yan/din/nae/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news