alexametrics
Selasa, 13 Apr 2021
radarbojonegoro
Home > Bojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Pengunjung Belum Pulih, Desa Wisata Beralih Kuliner

31 Maret 2021, 11: 00: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

UNIK: Salah satu ikon desa wisata di Wedi, Kecamatan Kapas.

UNIK: Salah satu ikon desa wisata di Wedi, Kecamatan Kapas. (IRVAN ROMADHON/RDR.BJN)

Share this      

Radar Bojonegoro - Tepat setahun pandemi Covid-19, sektor desa wisata masih terseokseok. Meski geliatnya terlihat mulai muncul sejak dimulainya vaksinasi, namun kenyataannya masih tersendat. Sebab, sektor pariwisata secara umum bisa bergeliat optimal apabila sudah tercapai herd immunity.

Pegiat Ekowisata Afrodita Indayana mengatakan, kondisi sekarang ini masih belum bisa berbicara banyak soal nasib sektor pariwisata. Pemuda asal Bojonegoro itu menilai, kunci kran pariwisata bisa dibuka apabila sudah ada kebijakan secara nasional terkait izin berwisata.

“Kondisinya sekarang geliat para traveler ini sudah ada, tetapi para pengelola atau operator wisata butuh narasi nasional terkait izin resmi bahwa memang seluruh destinasi wisata bisa buka,” ucapnya.

Baca juga: 13 Proyek Nasional di Tuban, Mulai Tol, Waduk, Hingga Kereta Api

Apabila memantau perkembangan vaksinasi Covid-19 secara nasional diperkirakan baru tuntas akhir 222. Sehingga, tiap pengelola wisata hanya mampu bertahan dengan okupansi wisatawan yang merosot tajam. “Susah untuk bergerak atau berinovasi, saat ini hanya bisa bertahan. Hal terpenting saat ini tiap desa wisata itu menerapkan CHSE yakni cleanliness (kebersihan), health (kesehatan), safety (keamanan), dan environment sustainability (kelestarian lingkungan),” jelasnya.

Pengelola Wisata Waduk Grobogan di Desa Bendo, Kecamatan Kapas Ahmad Sholihudin menyampaikan, bahwa setahun pandemi Covid-19 hanya bisa bertahan. Okupansi wisatawan merosot tajam. Biasanya lebih dari 1.000 pengunjung per minggu, kini hanya 100 pengunjung per minggu.

Pihaknya pun mulai menyiasati dengan tidak mengandalkan atraksi wisata. Namun ekspansi ke arah wisata kuliner. Apalagi kawasan Waduk Grobogan yang tergolong luas itu bisa mernerapkan jaga jarak dengan baik. “Kondisi kami masih serba sulit. Kami tidak mungkin lakukan promosi Waduk Grobogan. Kami masih menunggu izin dari Pemerintah Kabupaten Bojonegoro,” ucapnya.

Hal senada dikatakan Mujtaba, selaku salah satu pengelola wisata edukasi Gerabah di Desa Rendeng, Kecamatan Malo. Okupansi wisatawan tidak bisa digenjot karena tersendat izin dari desa setempat. Saat ini kunjungan dibatasi 30 orang. Adapun omzet penjualan gerabah juga turun mencapai 70 persen.

“Ada perajin gerabah yang beralih profesi. Ada juga perajin gerabah yang fokus bikin cobek, karena banyak peminatnya. Sedangkan celengan gerabah mulai jarang dibuat,” ujarnya. Selain itu, upaya para perajin gerabah untuk bertahan dengan cara fokus penjualan secara online. Syukurnya, pesanan suvenir untuk pernikahan dan ulang tahun masih lancar. 

(bj/msu/gas/nae/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news