alexametrics
Selasa, 15 Jun 2021
radarbojonegoro
Home > Bojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Kesulitan Saat Pandemi, Teman Tuli Dipaksa Adaptasi

02 Maret 2021, 14: 39: 27 WIB | editor : Nailul Imtihany

KBM LURING: Guru gunakan face shield agar bisa berkomunikasi dengan siswa-siswi SLB-B atau tunarungu

KBM LURING: Guru gunakan face shield agar bisa berkomunikasi dengan siswa-siswi SLB-B atau tunarungu (BHAGAS DANI PURWOKO/RDR.BJN)

Share this      

Pandemi Covid-19 memang berimbas semua orang. Tatkala kebijakan memakai masker diwajibkan, ternyata menyulitkan para penyandang disabilitas pendengaran. Kesulitan berkomunikasi karena salah satu caranya membaca gerak bibir dan raut muka lawan bicaranya. Sementara mulut dan hidung tertutup masker. 

Asa Asyifa masih teringat kejadian dialaminya ketika transfer uang via anjungan tunai mandiri (ATM). Asa sapaannya mendekati karyawan toko modern dan bermaksud meminta tolong untuk dibantu transfer. Diskriminasi pun dialami perempuan asal Desa Setren, Kecamatan Ngasem.

Ketika tahu Asa tuli, karyawan toko enggan membantu beralasan sibuk. Dara 21 tahun itu pun menjawab dengan senyum. Asa begitu sabar. Dara duduk di bangku kelas 12 di Sekolah Luar Biasa (SLB) Putra Harapan, Bojonegoro, itu pun kerap kali diuji.

Baca juga: Mendikbud Apresiasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

Kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro, Asa dibantu oleh teman dengar yakni Ririn Indah Lestari. Obrolan di salah satu kafe Sabtu (27/2) itu, Kepada Ririn, Asa kembali bercerita pengalaman tidak mengenakkan saat berkomunikasi di tengah pandemi ini.

Saat itu, Asa menyervis motor di salah satu bengkel di Bojonegoro. Saat selesai servis, Asa butuh penjelasan pihak bengkel terkait apa saja yang bermasalah dari motornya. Asa minta tolong pihak bengkel menulis di aplikasi Notes, tapi sia-sia.

“Karyawan bengkel malah menjawab pertanyaan Asa secara oral (berbicara dengan gerak bibir), tapi posisinya si karyawan itu pakai masker. Jadi sia-sia, Asa pun tidak paham. Akhirnya, Asa langsung minta jumlah tagihannya berapa lalu membayar dan pulang,” tutur Ririn sapaan akrabnya.

Asa juga bercerita, dukungan dari orang tuanya sangat optimal. Setiap pengalaman, baik kesal maupun menyenangkan, pasti ia ceritakan kepada orang tuanya. Orang tuanya selalu menyemangati Asa agar menjadi pribadi yang lebih sabar dan terus berjuang.

“Banyak pelayanan publik yang kurang peka dan kurang memperhatikan kebutuhan para teman-teman tuli,” ujar Ririn menerjemahkan bahasa isyarat yang disampaikan Asa. Cita-cita Asa ingin bergelut di bidang fashion. Asa suka menggambar ragam desain baju dan kerap kali menjadi foto model baju. Rencananya, usai rampung SMA, Asa ingin melanjutkan kuliah S-1 jurusan tatabusana di Universitas Negeri Malang (UM).

“Penginnya kuliah, kalau masuk ya kuliah, kalau enggak masuk ya cari kerja di bidang tatabusana,” ujar Ririn usai berkomunikasi dengan Asa memakai bahasa isyarat. Ia menilai kondisi dan situasi pandemi Covid-19 mengharuskan para teman tuli beradaptasi lebih ekstra. Mengingat penggunaan masker sifatnya wajib. Sehingga, salah satu cara berkomunikasi menggunakan aplikasi Notes via smartphone.

Alasan adaptasi lebih ekstra karena tanpa pandemi Covid-19, teman tuii masih kerap menerima diskriminasi. Di Bojonegoro, ada organisasi menaungi teman-teman penyandang disabilitas pendengaran. Yakni, Dewan Pengurus Cabang (DPC) Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Bojonegoro.

Jawa Pos Radar Bojonegoro bertemu di salah satu kafe di Kecamatan Kota dengan teman-teman Gerkatin dibantu Ririn sebagai teman dengar. Saat itu, sudah ada tiga anggota Gerkatin berada di kafe. Satu perempuan dan dua pria. Ketiganya masih muda. Sambutan mereka hangat dan ketiganya sosok yang supel. Guna mempermudah komunikasi, salah satu pria mengajak ngobrol dengan bantuan aplikasi Notes via smartphone.

Selaku teman dengar, Ririn berperan sebagai penerjemah teman-teman Gerkatin sejak 2016 lalu. Sesuai arahan Ririn, teman-teman Gerkatin Bojonegoro lebih nyaman disebut teman tuli, bukan tunarungu. Selain Asa, ternyata hal-hal diskriminasi dialami sejumlah teman tuli.

Seperti dialami Yoga, yang merasakan kesulitan berkomunikasi akibat penggunaan masker. Yoga punya satu pengalaman mengesalkan saat kali pertama membayar pajak motor di Kantor Samsat. Yoga sendirian mengurus pembayaran pajak. Sistem di Kantor Samsat tidak menggunakan nomor antrean, melainkan memanggil pakai pengeras suara. Sehingga, Yoga pun bingung.

Lebih dari satu jam mengantre, teman tuli asal Kelurahan Ledok Kulon, itu tidak tahu kalau dipanggil. Padahal, sebenarnya nama Yoga dipanggil beberapa kali. Untungnya, ada salah satu orang merasa mengetahui kalau Yoga yang dipanggil beberapa kali itu. Yoga sedang fokus main smartphone, ditepuk untuk maju ke depan.

Nah, ujian kembali tiba. Saat membayar di kasir Samsat juga menemui kesulitan. Karena petugas pakai masker dan berbicara dengan suara secara oral. “Padahal, Yoga sudah meminta tolong petugas menuliskan di Notes, tapi dibalas secara oral. Akhirnya, Yoga sodorkan beberapa uang Rp 100 ribu, lalu diberi kembalian oleh petugas,” tutur Ririn. M. Irfan Ramadhan, teman tuli lainnya mengakui salah satu cara teman-teman tuli berkomunikasi di tengah pandemi Covid-19 yakni menggunakan aplikasi Notes. Karena tidak semua orang bisa bahasa isyarat.

Tetapi, mahasiswa S-1 jurusan pariwisata di Universitas Brawijaya (UB) Malang itu mengakui kelemahan teman-teman tuli ketika menulis kalimat itu kerap berantakan pada susunan subyek, predikat, obyek, dan keterangan (SPOK). “Tapi, setidaknya berkomunikasi pakai aplikasi Notes membuat teman-teman tuli tetap mematuhi penggunaan masker,” tuturnya.

Ririn mengungkapkan, bahwa para teman-teman tuli atau bahkan penyandang disabilitas lain sebenarnya tidak butuh dikasihani. Mereka hanya butuh sarana prasarana pelayanan-pelayanan publik yang ramah terhadap para penyandang disabilitas. Selain itu, kebijakan-kebijakan pemerintah juga butuh mempertimbangkan para penyandang disabilitas.

“Teman-teman tuli atau penyandang disabilitas lain butuh kesetaraan,” ujar perempuan asal Desa Prambatan, Kecamatan Balen itu.

Perempuan kelahiran 1994 itu pun menjelaskan, bahwa anggota Gerkatin saat ini 45 orang. Tak banyak kegiatan bisa dilakukan selama pandemi Covid-19. Para teman-teman tuli tentu sangat berkeinginan akses-akses tiap pelayanan publik ramah disabilitas. Kebutuhan mereka setidaknya mampu diakomodasi secara optimal dan adil. Juga, masyarakat umum seharusnya turut menghormati teman-teman berkebutuhan khusus.

Lagi-lagi, menurut Ririn, bukan dengan cara menunjukkan rasa kasihan, tetapi menunjukkan dukungan berupa tindakan. Biar bagaimanapun dukungan masyarakat sangat penting. Agar para penyandang disabilitas tidak ada rasa minder saat terjun ke masyarakat.

(bj/gas/rij/nae/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news