alexametrics
Selasa, 02 Mar 2021
radarbojonegoro
Home > Lamongan
icon featured
Lamongan

Pembeli Valencia Residence Terancam Kehilangan Sertifikat Tanah

Sertifikat Dijadikan Agunan Bank

23 Februari 2021, 14: 30: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

Pembeli Valencia Residence Terancam Kehilangan Sertifikat Tanah

(AINUR OCHIEM/RDR.BJN)

Share this      

Radar Lamongan – Ini peringatan bagi calon pembeli perumahan. Kantongi dulu data pengembang sebelum melakukan pembelian. Salah memilih pengembang, maka bisa terancam kehilangan rumah.

Seperti kasus di Valencia Residence, Jalan Mastrip Lamongan ini. Enam belas user sudah melunasi angsuran, sertifikatnya ternyata belum dipecah Arif Budiman, penjual perumahan tersebut. Surat legal tanah itu malah dijadikan jaminan utang ke bank. Celakanya, utang tersebut tak dilunasi. Arif Budiman pun kini meringkuk di sel tahanan.

Pria 41 tahun beralamatkan Perumahan Jetis Indah, Kelurahan Jetis, Lamongan itu diamankan setelah menjadi daftar pencarian orang (DPO) selama dua tahun. Tersangka diamankan di Desa Cipamekar, Kecamatan Conggeang, Sumedang Minggu (21/2).

‘’Setelah pemilik rumah, yang ada di perumahan tersebut mengetahui kalau sertifikat masih diagunkan di bank, akhirnya tersangka melarikan diri,’’ ujar Kapolres Lamongan AKBP Miko Indrayana kemarin (22/2).

Kapolres menjelaskan, Hanum, 52, salah satu pembeli perumahan itu melapor ke Polres Lamongan, Juni 2018. Korban mengaku membeli satu unit rumah tipe 54 blok B-16 Valencia Residence pada Desember 2013.

Pengembangnya, PT Jagaraga Adi Mukti. Tersangka menjadi direktur di PT tersebut. Saat itu, korban juga diminta membeli kelebihan tanah di samping rumah. Sehingga, total pembayarannya Rp 305 juta. Setelah mengangsur, pembayaran korban akhirnya lunas pada November 2014.

‘’Korban sudah melakukan pelunasan rumah miliknya tersebut satu tahun setelah melakukan pengambilan,’’ kata Kapolres. Menurut Miko, penghuni perumahan itu kaget ketika ada perwakilan pihak BTN datang pada 28 April 2017.

Pihak bank memberitahukan bahwa sertifikat lahan untuk perumahan tersebut menjadi agunan. Tersangka meminjam uang di BTN Rp 1,1 miliar. Korban kemudian menanyakan ke pengembang. Ternyata dibenarkan bahwa sertifikat masih menjadi agunan bank di Gresik.

Sejumlah korban kemudian meminta tersangka segera melunasi utangnya agar sertifikat bisa keluar. Karena tidak bisa melunasi, kata Kapolres, maka tersangka memutuskan melarikan diri ke rumah orang tuanya di Sumedang.

‘’Dari situlah akhirnya dilakukan penyelidikan. Ternyata PT Jagaraga Adi Mukti adalah fiktif,’’ imbuhnya. Kapolres menuturkan, DPO diterbitkan Oktober 2019. Dari hasil pemeriksaan, korbannya ternyata tidak satu orang.

‘’Jadi atas kejadian tersebut, korban sebanyak 16 orang dengan kerugian kurang lebih Rp 4,1 miliar,’’ jelasnya. Bahkan, menurut Kapolres, kemungkinan masih ada lagi korban lainnya.

Polres menunggu mereka yang merasa dirugikan dalam kasus ini. Sementara barang bukti yang diamankan di antaranya, 23 lembar kuitansi pembayaran dari PT Jagaraga Adhimukti, 2 lembar brosur Valencia Residence, 3 lembar surat perjanjian surat jual beli, 3 bendel fotokopi akte jual beli dan fotokopi sertifikat SHM no 2503, 2528, dan 2532.

Tersangka dijerat pasal 378 KUHP dan atau pasal 385 ke-5 KUHP dan atau pasal 266 KUHP. Ancaman hukumannya, tujuh tahun penjara. Kapolres menduga tersangka hanya modal berani melakukan perputaran uang dengan membangun perumahan tersebut. Berita ini masih membutuhkan konfirmasi dari pihak BTN. 

(bj/yan/mal/nae/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news