alexametrics
Minggu, 28 Feb 2021
radarbojonegoro
Home > Tuban
icon featured
Tuban
Tantangan Pembelajaran SMK di Tengah Pandemi

SMK Tanpa Praktik, Lalu Bagaimana?

22 Februari 2021, 16: 00: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

SMK Tanpa Praktik, Lalu Bagaimana?

(AINUR OCHIEM/RDR.BJN)

Share this      

Radar Tuban — Kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah semakin dihadapkan pada kondisi yang sulit. Utamanya KBM untuk sekolah menengah kejuruan (SMK). Sebab, praktik menjadi kata kunci sekolah kejuruan.

Tanpa praktik, SMK akan terasa hambar. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jatim Wilayah Bojonegoro-Tuban Adi Prayitno mengakui tidak semua KBM bisa dilaksanakan secara daring (dalam jaringan) atau online.

Namun, karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk melaksanakan pembelajaran secara tatap muka menyusul masih diterapkannya pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) secara mikro, maka situasi yang sulit itu pun tetap harus dihadapi.

Adi mencontohkan, salah satu pembelajaran yang tidak bisa dilaksanakan secara daring adalah kegiatan pembelajaran praktik. Misalnya, anak SMK jurusan pengelasan atau otomotif. Tentu, akan sangat sulit praktik pembelajaran secara daring. “Sangat sulit dan sangat memprihatinkan jika terus seperti ini,” tandasnya menyikapi pembelajaran di wilayah kejuruan yang dilaksanakan secara daring.

Disampaikan Adi, secara umum proses pembelajaran di jenjang SMK itu cukup sulit untuk dilaksanakan secara daring. Sebab, pada sekolah kejuruan dibutuhkan praktik keterampilan. “Misal praktik ngelas, apa mungkin dilaksanakan secara daring,” tutur mantan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Wilayah Nganjuk itu.

Sementara itu, lanjut dia, siswa SMK dituntut memiliki keterampilan sesuai dengan jurusannya setelah lulus nanti. Artinya, penting untuk menguasai keterampilan sebelum lulus. Namun, di tengah pandemi Covid-19 ini, kegiatan praktik tidak bisa dilakukan secara optimal.

“Menjadi harapan bersama, setelah lulus, (siswa SMK, Red) itu sudah memiliki keterampilan,” ujarnya. Kerana itu, dibutuhkan kedewasaan dalam menyikapi persoalan ini. Kedewasan yang di maksud adalah kedewasaan dalam membuat sebuah kebijakan. Tidak lantas setiap ada KBM yang dilakukan secara tatap muka langsung dibubarkan dengan dalih pemberlakukan PPKM mikro.

“Mungkin tetap bisa melaksanakan pembelajaran tatap muka, tapi dengan skala yang dibatasi dan menerapkan proto kol kesehatan secara ketat,” ujar Adi. Sehingga, jika ada sebagian sekolah yang berupaya agar pembelajaran tetap bisa dilaksanakan secara optimal. Tetap ada kedewasaan dalam menyikapinya.

Terkait solusi yang akan diambil menyikapi kondisi yang cukup rumit tersebut, untuk saat ini cabang dinas pendidikan masih menunggu hasil evaluasi dari pemerintah daerah terkait penerapan PPKM.

“Sebenarnya direktorat SMK sendiri sudah memberikan keleluasaan (bagaimana agar pembelajaran di SMK tetap berjalan optimal, Red). Tetapi, saya sendiri masih menghormati kebijakan pemerintah daerah. Kalau memang Pemkab Tuban memberlakukan seperti itu (PPKM), ya kami mengikuti saja,” tandasnya sambil menunggu kebijakan lebih lanjut. 

(bj/wid/tok/nae/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news