alexametrics
Selasa, 02 Mar 2021
radarbojonegoro
Home > Tuban
icon featured
Tuban

Setiap Hari, Ratusan Mobil Baru Bersliweran di Jalan Desa

19 Februari 2021, 14: 00: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

TAJIR: Keluarga Ali Sutrisno, warga Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu yang memborong empat mobil sekaligus.

TAJIR: Keluarga Ali Sutrisno, warga Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu yang memborong empat mobil sekaligus.

Share this      

Setelah mengantongi miliaran rupiah, para miliarder baru di desa terdampak kilang Grass Root Refinery (GRR) membelanjakan uangnya untuk beragam kebutuhan. Tidak semuanya untuk konsumtif, seperti membeli mobil, smartphone, dan barang mewah lainnya. Selebihnya untuk investasi, seperti tanah dan menanam saham.

YUDHA SATRIA ADITAMA, Tuban, Radar Tuban

Sejak menjadi kampung miliarder, setiap hari jalan Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu berlalu lalang mobilmobil baru berbagai merek. Kondisi ini sangat kontras dengan kondisi jalannya yang sempit, hanya sekitar 3-4 meter. Itu pun aspal lamanya yang mengelupas belum ditambal sulam.

Sebagian besar mobil yang bersliweran tersebut menutup seluruh kacanya. Karena semua mobil berkaca film gelap, sulit diketahui siapa di dalamnya. Jawa Pos Radar Tuban yang tiga hari terakhir mengubek-ubek desa setempat nyaris tak mendengar sapaan dari pengemudi maupun penumpang mobil yang bersliweran. Sekali waktu hanya terdengar bunyi klakson. Menggantikan sapaan.

‘’Nggak tahu, siapa yang barusan lewat,’’ jawab salah satu warga setempat yang ditemui di tepi Jalan Kaligebang, jalan utama di desa setempat. Sikap individual warga pun mulai terasa. Sebelum menjadi kampung miliarder, sebagian besar warga setempat mobile dengan motor. Selebihnya sepeda angin.

Bahkan, untuk besuk kerabat dan tetangganya yang dirawat di rumah sakit pun warga setempat masih sering rombongan pikap. Mereka ramai-ramai naik di baknya. Begitu juga ketika berangkat dan pulang dari sawah. Nyaris tidak ada yang berubah dari kondisi desa di pesisir pantai utara Laut Jawa tersebut.

Satu-satunya perubahan signifikan di Sumurgeneng pasca pembebasan lahan kilang GRR adalah terparkirnya mobil baru di setiap rumah. Bahkan, beberapa rumah terparkir 2-4 mobil. Sebagian besar rumah masih seperti semula dan tidak tersentuh renovasi. Hanya beberapa saja yang menambah garasi dengan bangunan temporer. Terbanyak menggunakan konstruksi dan atap galvalum. Posisinya menempati teras dan halaman rumah.

Sebelum ditempati mobil, pemilik-pemilik rumah tersebut menjadikan halaman tersebut untuk menjemur gabah, jagung, dan kacang. Sementara penyimpanan hasil pertanian tersebut menempati teras. Setelah beralih menjadi kampung miliarder, selasar rumah-rumah warga tersebut terparkir mobil baru. Tidak hanya satu. Beberapa garasi terisi lebih dari dari satu. Kondisinya masih kinyis-kinyis. Sebagian plastik pembungkus jok dan sunvisor atau penghalang sinar matahari pun belum dilepas. Pelat nomornya pun masih profit berwarna putih. Sebagian mobil tersebut ditutup cover.

Wartawan koran ini sempat mengintip speedometer sebuah mobil Pajero Sport Dakar dari kaca samping kemudi. Masih terteras angka 18 kilometer (km). Angka tersebut menunjukkan jarak Sumurgeneng dengan pusat kota kabupaten. Itu berarti kemungkinan mobil seharga Rp 700 juta tersebut baru dinaiki dari diler ke rumah pembelinya. Setelah itu terpajang di garasi.

Belakangan diketahui tidak beralihnya posisi sejumlah mobil baru sejak kali pertama datang tersebut karena pemiliknya belum bisa nyetir. ‘’Bisanya baru memanasi,’’ seloroh Matrawi, salah satu warga penerima dana pembebasan lahan sambil menunjukkan mobil Pajero yang baru dibelinya.

Matrawi adalah satu dari puluhan warga yang memutuskan tetap beli mobil baru dari dana pembebasan lahan, meski tak bisa nyetir. Bahkan, pria 55 tahun tersebut beli dua unit sekaligus, Toyota Rush dan Mitsubishi Xpander. Dua mobil inilah yang dijejer di garasinya.

Dari petani yang mendapat dana pembebasan lahan sekitar Rp 4 miliar tersebut terjawab berjejernya mobil lebih dari satu di garasi sejumlah rumah warga. ‘’Itu karena sikap adil kepala keluarga (KK) penerima dana pembebasan. Mereka membeli sesuai dengan jumlah anak dan saudaranya,’’ ujarnya.

Di garasi rumah Ali Sutrisno, warga lain, misalnya. Berjejer mobil Innova, pikap L300, Xpander, dan Honda HRV. Dua mobil pertama milik pria 37 tahun tersebut. Dua mobil lainnya milik saudara kandungnya yang juga menerima dana pembebasan lahan kilang GRR Rp 3 miliar.

Ali sendiri mendapat dana pembebasan lahan sekitar Rp 18 miliar. Selain beli mobil, dana jumbo yang diterimanya juga dibelanjakan untuk beli perhiasan istrinya dan tanah seluas 7.000 meter persegi. Ali dan keluarganya sebenarnya ingin mendaftar haji dan umrah. Keinginan ke Tanah Haram tersebut terpaksa ditunda karena pandemi.

‘’Kalau haji sudah di buka, ingin mendaftar haji sekeluarga,’’ ujarnya. Begitu juga dengan Siti Nurul Hidayatin. Perempuan 32 tahun ini membelanjakan sebagian dana pembebasan lahan yang diterima sebesar Rp 3 miliar pada Maret lalu untuk beli perhiasan dan mobil seharga Rp 400 juta. Selebihnya tanam saham di sebuah perusahaan.

Sejak menjadi miliarder, kemana pun pergi ketua Fatayat NU Kecamatan Jenu ini selalu menenteng iPhone 12. Smartphone seri keluaran terbaru harganya di atas Rp 20 juta. ‘’Ini saya beli di Surabaya,’’ ujarnya menunjukkan ponsel mahalnya.

Nurul juga menggunakan sebagian uangnya untuk mengembangkan taman pendidikan Alquran miliknya. Meski masih memiliki tabungan miliaran, dia mengaku tetap ingin mengabdi sebagai pendidik. ‘’Sekarang keseharian saya tetap guru,’’ tutur guru Roudlotul Atfal (RA) Nurul Huda Sumurgeneng itu.

Kholikah lebih bijak. Dia memanfaatkan dana pencairan tahap pertama sebesar Rp 4,5 miliar untuk membeli mobil bekas seharga Rp 200 juta. Sebagian uangnya digunakan untuk mengembangkan usaha mebel dan membeli lahan baru. Sisanya, untuk investasi di reksadana dan obligasi. ‘’Untuk berinvestasi, saya dibantu anak,’’ ungkapnya.

Sebenarnya, warga yang bergelimang uang itu ingin merenovasi total rumahnya. Mereka ingin kepemilikan mobil baru tersebut didukung dengan penampilan rumahnya yang mentereng. Dan, itu bagian dari gengsi sejumlah orang kaya baru (OKB) di lahan pembebasan kilang GRR. Keinginan tersebut terpaksa dipendam menyusul kabar rencana pelebaran proyek kilang yang membutuhkan lahan tambahan.

Jika ini benar terjadi, rumah yang ditempati warga berpeluang kembali dibeli Pertamina-Rosneft. Seperti diketahui, pembangunan kilang GRR Tuban dengan nilai investasi US 15 miliar membutuhkan lahan seluas 841 hektare yang menempati 1.136 bidang yang tersebar pada tiga desa di Kecamatan Jenu.

Rinciannya, Desa Sumurgeneng (566 bidang), Kaliuntu (6 bidang), dan Wadung (562). Selebihnya, menempati lahan Perhutani dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Tercatat, 400 pemilik yang lahannya dibebaskan di Sumurgeneng. Mereka memiliki luas lahan beragam. Mulai ratusan hingga puluhan ribu meter persegi.

Lahan tersebut dibeli sesuai yang ditetapkan appraisal kantor jasa penilai publik Abdullah cs. Termurah dibanderol Rp 600 ribu per meter. Rudono, salah satu tokoh pemuda desa setempat membantah sikap individual sebagian warga Sumurgeneng. ‘’Sampai sekarang warga masih bertegur sapa,’’ katanya membantah stigma negatif tersebut.

Menurut dia, tidak terbukanya sejumlah mobil baru yang bersliweran di desanya tersebut bisa jadi karena berpendingan air conditioner (AC). Bahkan, sebagai bentuk syukur bisa beli mobil baru, sebagian warga menggelar tasyakuran dan mengundang tetangganya.

(bj/ds/yud/nae/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news