alexametrics
Selasa, 02 Mar 2021
radarbojonegoro
Home > Bojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Setahun Disewa Rp 40 Miliar, PT BBS Terima Rp 2,6 Miliar

Komisi B Minta Negosiasi Ulang

18 Februari 2021, 12: 00: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

KAGET: Komisi B DPRD mengajak hearing dengan bagian perekonomian setda dan BUMD.

KAGET: Komisi B DPRD mengajak hearing dengan bagian perekonomian setda dan BUMD. (NURCHOLISH/RDR.BJN)

Share this      

Radar Bojonegoro - Harga sewa Talok Residence ternyata cukup mahal. Mencapai Rp 40 miliar setahun. Namun, pendapatan diperoleh PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS) dari bagi hasil kerja sama hanya Rp 2,6 miliar atau 5 persennya. Hal itu terungkap saat rapat dengar pendapat (hearing) antara Komisi B DPRD dan PT BBS kemarin (17/2).

Talok Residence merupakan salah satu unit usaha PT BBS. Namun, PT BBS bukan satu-satunya yang menyewakan perkantoran berada di Kecamatan Kalitidu. Ada pihak lain yang terlibat, yakni PT Etika. PT Etika adalah investor membangun Talok Residence.

Direktur PT BBS Thomas Gunawan menjelaskan bahwa lahan Talok Residence itu milik Pemkab Bojonegoro. Lahan itu disewa PT BBS yang merupakan BUMD milik pemkab. PT BBS kemudian mengundang investor membangun lahan tersebut. Jadilah Talok Residence digunakan sebagai perkantoran.

Talok Residence kemudian disewa ExxonMobile Cepu Ltd dan Pertamina EP Cepu sebagai kantor. Saat ini, yang menyewanya hanya tinggal Pertamina EP Cepu. Sebab, ExxonMobile Cepu Ltd sudah memiliki kantor sendiri. Harga sewa Talok Residence selama setahun adalah Rp 40 miliar.

Dari sewa sebesar itu, PT BBS hanya mendapatkan Rp 2,6 miliar atau 5 persen. Sisanya masuk ke PT Etika sebagai investor. Thomas menjelaskan, bagian diterima PT BBS memang kecil. Sebab, semua biaya ditanggung oleh PT Etika. Mulai biaya perawatan, tenaga kerja, maintanance, hingga pengisian furnitur dilakukan oleh PT Etika. ‘’Furnitur dan semua perabot yang ada di Talok Residence milik PT Etika,’’ jelasnya. Menurutnya, besaran diterima PT BBS itu sudah lebih besar dibanding sebelum 2020.

Sebelumnya hanya menerima 2,4 persen. Kemudian, PT BBS mengajukan negosiasi dan memperoleh bagian 5 persen dari nilai kontrak setahun itu. Juni mendatang, kerja sama antara PT BBS dan PT Etika sudah berakhir. Sehingga, Talok Residence akan diserahkan ke PT BBS. Itu bersamaan juga dengan berakhirnya masa kontrak PT Pertamina EP Cepu. ‘’Kami minta Maret nanti sudah diserahkan ke kami. Jadi, kami ada persiapan,’’ jelasnya.

Thomas menuturkan, berdasar data dia terima, kerja sama antara PT BBS dan PT Etika sudah berakhir 2016 lalu. PT Etika ketika itu mau menyerahkan Talok Residence ke PT BBS. Namun, PT BBS kala itu tidak siap. Alasannya, tidak memiliki dana cukup. Apalagi, biaya perawatannya cukup tinggi. Mencapai Rp 120 juta per tahun. Belum lagi ada pajak senilai Rp 2,1 miliar per tahun. ‘’Jadi diperpanjang hingga Juni 2021 nanti,’’ tuturnya.

Pihaknya belum merencanakan bisnis ke depan untuk Talok Residence setelah serah terma nanti. Ketua Komisi B DPRD Bojonegoro Sally Atyasasmi menyayangkan minimnya bagi hasil diperoleh PT BBS selama ini. Padahal, lahan Talok Resindence ini adalah milik pemkab. ‘’Kok bisa hanya segitu. Kita ini kan pemilik lahan,’’ ujarnya.

Sally meminta PT BBS menegosiasi ulang bagi hasil itu. Sehingga, bisa mendapatkan bagi hasil lebih besar. ‘’Sebab, harga sewa Rp 40 miliar itu terlalu kecil kalau hanya dapat Rp 2,6 miliar,’’ ujar politikus Gerindra tersebut. Anggota Komisi B DPRD Lasuri meminta PT BBS untuk kembali memperpanjang kerja sama dengan Pertamina EP Cepu. Sebab, pangsa pasar Talok Residence selama ini adalah itu.

‘’Jika kehilangan pasar itu, bisa kehilangan pendapatan. Itu adalah PR untuk PT BBS,’’ jelasnya. Sementara itu, Manager JTB Site Office & PGA PT Pertamina EP Cepu Edy Purnomo belum mengetahui perihal masa kontrak akan berakhir itu. Pihaknya akan menanyakan lebih jauh ke jajarannya. ‘’Nanti saya tanyakan bagian menangani sewa,’’ ujarnya saat dihubungi.

(bj/rij/zim/nae/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news