alexametrics
Selasa, 02 Mar 2021
radarbojonegoro
Home > Tuban
icon featured
Tuban

Kebutuhan dan Stok Plasma Konvalesen Belum Sebanding

16 Februari 2021, 16: 00: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

GUGAH KESADARAN BERSAMA: Lulut Purwanto saat menjalani donor plasma di PMI Tuban.

GUGAH KESADARAN BERSAMA: Lulut Purwanto saat menjalani donor plasma di PMI Tuban. (AHMAD ATHO’ILLAH/RDR.TBN)

Share this      

Radar Tuban - Pemerintah daerah harus mulai fokus meningkatkan kesadaran para penyintas Covid-19 untuk donor plasma konvalesen. Pasalnya, terapi plasma konvalesen terbukti mempunyai tingkat efektivitasan kesembuhan yang cukup tinggi untuk mengobati pasien Covid-19 dengan kategori berat.

Ironisnya, kesadaran para penyintas Covid-19 untuk melakukan donor plasma konvaselen masih rendah. Padahal, kebutuhan plasma dari para pasien covid yang masih dirawat cukup tinggi.

Humas Palang Merah Indonesia (PMI) Tuban Sarju Efendi mengakui antara kebutuhan dan stok plasma yang dimiliki PMI tidak seimbang. ‘’Untuk saat ini stok plasma di PMI masih kosong, tapi permintaan sangat tinggi,’’ terang Sarju kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Disampaikan dia, sejak PMI memiliki mesin donor plasma konvalesen pada akhir Desember 2020 lalu, sekarang ini baru 71 penyintas yang melakukan donor plasma. Itu pun tidak semua pendonor dari Tuban. Selebihnya dari luar Tuban.

Karena itu, Sarju tidak bisa menyampaikan secara detail berapa persentase penyintas di Bumi Wali yang sudah melakukan donor. Di tengah kosongnya stok plasma, dua minggu ini banyak penyintas yang bermaksud melakukan donor. Itu pun tidak semua bisa diambil plasmanya. Sebab, syarat yang dilalui cukup ketat.

Lebih lanjut Sarju menyampaikan, untuk saat ini stok plasma yang dimiliki baru bisa memenuhi kebutuhan Tuban, salah satunya RSUD dr R. Koesma Tuban. Terbatasnya stok tersebut karena stok yang tersedia langsung habis.

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Tuban Lulut Purwanto sekaligus pendonor plasma mengatakan, kesadaran penyintas untuk mendonorkan plasmanya masih minim. Karena itu, terang dia, perlu dilakukan sosialisasi secara masif.

‘’Dan, ini merupakan tanggung jawab kita bersama dalam menumbuhkan kesadaran para penyintas agar bersedia donor plasma,’’ terangnya.

Lulut dinyatakan positif Covid-19 pada 11 Januari dan sembuh 13 hari kemudian. Disampaikan dia, sekitar setahun terakhir, jumlah pasien positif Covid-19 dari Tuban yang dinyatakan sembuh kurang lebih 2.500 orang. Artinya, dalam sebulan rata-rata ada 200 penyintas.

Jika syarat yang boleh donor plasma konvalesen tidak lebih dari 3 bulan sejak sembuh, berarti dalam 3 bulan terakhir ini ada 600 penyintas yang berpotensi untuk melakukan donor plasma. Namun, faktanya masih minim penyintas yang berdonor.

Padahal, terang dia, plasma dari penyintas sangat membantu kesembuhan pasien positif Covid-19 dengan gejala sakit yang menjalani perawatan di rumah sakit. ‘’Apalagi, satu penyintas yang memenuhi syarat donor bisa sampai 6-7 kali donor. Ini sangat membantu,’’ tegasnya.

Perlu diketahui, proses pengambilan plasma konvalesen menggunakan sistem apheresis dengan mesin Haemonetic. Teknisnya, darah yang diambil dari lengan pendonor, masuk ke dalam alat tersebut dengan sistem centrifugasi atau pemu taran cepat untuk memisahkan komponen darah. Setelah didapatkan, plasma akan masuk ke dalam kantong yang sudah disediakan. Sedangkan komponen lain, seperti sel darah merah kembali ke dalam tubuh pendonor tersebut. Proses tersebut membutuhkan waktu sekitar kurang lebih satu jam dengan standar pengambilan plasma konvalesen maksimal 15 persen dari total berat badan si pendonor.

(bj/ds/tok/nae/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news