alexametrics
Rabu, 20 Jan 2021
radarbojonegoro
Home > Tuban
icon featured
Tuban

Abaikan Protokol Kesehatan, Tuban ”Luput” dari Atensi Gubernur

11 Januari 2021, 17: 00: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

ABAI PROKES: Kesadaran masyarakat untuk menaati protokol kesehatan masih kurang. Terbukti, masih banyak warga yang tak mengenakan masker ketika keluar rumah.

ABAI PROKES: Kesadaran masyarakat untuk menaati protokol kesehatan masih kurang. Terbukti, masih banyak warga yang tak mengenakan masker ketika keluar rumah. (TULUS WIDODO/RDR.TBN)

Share this      

Radar Tuban — Entah metode apa lagi yang harus dipakai pemkab untuk menghentikan laju penularan Covid-19 di Tuban. Pasalnya, sampai saat ini belum ada tanda-tanda pertambahan kasus baru terhenti. Sebaliknya, angkanya terus muncul dan seakan semakin sulit ditebak. Kadang melandai, tapi tidak berselang lama kembali melejit lagi.

Dalam beberapa hari terakhir ini, misalnya. Angka pertambahan kasus baru sempat turun pada angka belasan. Tapi, tiba-tiba langsung naik dua kali lipat. Kemarin (10/1), update kasus yang disampaikan satuan tugas (satgas), angka pertambahan kasus baru kembali menyentuh angka 43 kasus berbanding kasus sembuh 40 kasus.

Padahal, dua hari sebelumnya kasus baru sempat turun 18 kasus. Begitu juga dengan angka kasus meninggal dunia, kembali meningkat dengan lima kasus baru. Mirisnya lagi, jumlah pasien terkonfirmasi baru dengan gejala sakit juga meningkat.

Di RSUD Koesma, pasien yang menjalani perawatan kembali melewati angka seratus pasien. Totalnya mencapai 104 pasien. Ini artinya, seluruh ruangan yang disediakan untuk pasien covid sudah penuh. Baik ruang isolasi di Graha Aryo Tedjo yang tersedia 60 tempat tidur maupun ruang transit yang tersedia 30 bed.

Dengan begitu, sisanya berada di ruang isolasi UGD. “Untuk yang tanpa gejala sudah banyak yang sembuh, tapi untuk pasien dengan gejala juga terus bertambah,” terang kepala Dinas Kesehatan Tuban, Bambang Priyo Utomo.

Disampaikan Bambang, total pasien yang masih dirawat sebanyak 375 pasien. Sebanyak 160 pasien menjalani perawatan di rumah sakit karena mengalami gejala. Sisanya, 193 pasien menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing dan 22 orang menjalani isolasi di rumah isolasi yang disediakan pemerintah. “160 pasien dengan gejala sakit merupakan angka yang cukup tinggi,” ujarnya berharap angka tersebut tidak naik lagi.

Sebab, kondisi rumah sakit sudah banyak yang penuh. Adapun total pasien kumulatif mencapai 2.128 kasus berbanding kasus sembuh sebanyak 1.534 orang dan yang meninggal mencapai 219 orang. Juru bicara satgas Covid-19 Tuban Endah Nurul Kumarijati mengatakan, pemerintah daerah sudah berupaya melakukan pengetatan dalam menghentikan laju penularan Covid-19. Salah satunya dengan memberlakukan PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat).

Meski Tuban tidak termasuk kabupaten/kota di Jawa Timur yang diwajibkan memberlakukan PPKM oleh gubernur. “Tetapi, kebijakan yang diambil pemerintah daerah sudah termasuk di dalamnya (PPKM, Red),” terang Endah.

Diantara kebijakan itu, kembali memberlakukan sistem WFH (work from home) 50 persen pegawai yang ada di setiap in stansi masing-masing. “Dari yang sebelumnya seratus persen masuk, sekarang 50 persen. Sisanya WFH,” terang pejabat definitif sekretaris dinas kesehatan itu. Selain itu, upaya pengetatan protokol kesehatan terhadap ekonomi juga semakin ditingkatkan. Salah satunya dengan memberlakukan sistem jam makan di tempat.

“Dari yang sebelumnya tidak ada aturan tersebut, sekarang diatur—jam makan di tempat dibatasi sampai pukul 20.00, melebihi itu harus dibawa pulang,” terang Endah. Meski demikian, diakui Endah, Pemkab Tuban masih berupaya semaksimal mungkin dalam menjalankan kebijakan gas dan rem.

(bj/wid/tok/nae/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia