alexametrics
Rabu, 20 Jan 2021
radarbojonegoro
Home > Tuban
icon featured
Tuban

PPKM Bikin Waswas Wisata

11 Januari 2021, 14: 30: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

BELUM NORMAL: Pantai Kelapa, satu-satunya lokasi wisata yang kunjungannya relatif stabil dibanding wisata lain.

BELUM NORMAL: Pantai Kelapa, satu-satunya lokasi wisata yang kunjungannya relatif stabil dibanding wisata lain. (YUDHA SATRIA A/RDR.TBN)

Share this      

Radar Tuban - Baru mulai bergeliat, wisata Tuban kembali dihadapkan beban berat menyusul akan diterapkannya PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat) di Jawa - Bali. Penerapan PPKM mulai 11 - 25 Januari tersebut diprediksi akan menggerus tingkat kunjungan wisata di Tuban.

Kabid Pariwisata Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Tuban Suwanto mengatakan wisata di Tuban masih dalam kondisi sulit. Sebagian besar wisata mengalami penurunan pengunjung drastis selama pandemi berlangsung. “Hanya Pantai Kelapa yang selama ini kunjungannya masih stabil, sementara wisata yang lain masih sepi,” tutur dia kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Suwanto menyampaikan hingga kemarin (10/1) belum ada surat edaran atau instruksi khusus terkait PPKM. Apakah nantinya daerah yang tidak diterapkan PPKM berdampak atau tidak, Suwanto masih menunggu edaran dari Pemerintah Provinsi Jatim. “Hingga sekarang belum ada edaran apakah wisatawan dari kota PPKM boleh masuk wisata non-PPKM atau tidak,” tutur dia.

Seperti diketahui pemerintah menerapkan PPKM di Jawa dan Bali. Di Jatim, PSBB model baru tersebut berlaku untuk 11 kabupaten/kota. Yakni, Kota Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Lamongan, Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu, Kabupaten Blitar, Kota Madiun, Kabupaten Madiun, dan Ngawi.

Pengetatan protokol kesehatan di kota-kota besar tersebut dipastikan akan berdampak tidak langsung untuk kota/kabupaten kecil di sekitarnya. “Semoga tidak terlalu berdampak ke wisata karena pengelola wisata selama ini bebannya sudah berat,” ungkap dia.

Jika PPKM tak berdampak ke Tuban, kata Wanto, wisata tetap akan beroperasi seperti aturan sekarang. Yakni pembatasan kunjungan maksimal 30 persen dari kapasitas yang tersedia. Setiap pengelola usaha wajib memperketat aturan prokes seperti wajib bermasker dan jaga jarak. “Jika nanti (aturan PPKM) ada dampak ke wisata semoga tak lama dan bisa lekas pulih,” harap pejabat lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta ini.

(bj/wid/yud/nae/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia