alexametrics
Selasa, 26 Jan 2021
radarbojonegoro
Home > Lamongan
icon featured
Lamongan

Banjir Bengawan Jero Meluas, Kerugian Ditaksir Rp 22,3 M

08 Januari 2021, 11: 21: 22 WIB | editor : Nailul Imtihany

JALANAN BANJIR: Pengendara motor melintasi jalanan yang terendam banjir. Pinggir jalan tersebut digunakan anak – anak bermain air.

JALANAN BANJIR: Pengendara motor melintasi jalanan yang terendam banjir. Pinggir jalan tersebut digunakan anak – anak bermain air. (INDRA GUNAWAN/RDR.LMG)

Share this      

Radar Lamongan – Curah hujan yang belum mereda menyebabkan banjir di bantaran Bengawan Jero semakin meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamongan mendata terdapat 3.292 rumah di 26 desa pada lima kecamatan terendam banjir. Selain itu, belasan kilometer (km) akses jalan ikut terendam.

‘’Intensitas hujan yang masih cukup tinggi membuat daerah terimbas banjir semakin meluas,’’ tutur Kasi Tanggap Darurat BPBD Lamongan Muslimin kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (7/1).

Dia menyebut 870 rumah dan 9,7 kilometer akses jalan terendam di tujuh desa di Kecamatan Karangbinangun. Di Kecamatan Deket, ada empat desa dengan jumlah 293 rumah dan 4 km lebih akses jalan terendam. Di Kecamatan Kalitengah, 356 rumah dan 7 km jalan lebih di delapan desa yang tergenang. Di Kecamatan Glagah, 460 rumah dengan 3 km lebih jalur terendam di delapan desa. Terparah di Kecamatan Turi. Terdata 1.313 rumah dan lebih dari 10 km akses jalan tergenang air.

Muslimin mengatakan, pihaknya terus memantau adanya pertambahan wilayah yang terimbas banjir. ‘’Ketinggian banjir di masingmasing daerah bervariasi, tertinggi hingga 60 sentimeter (cm),’’ ujarnya saat dikonfirmasi via ponsel. Dia mengatakan, empat pompa diaktifkan untuk mengantisipasi banjir semakin meluas. Yakni, dua pompa masing-masing berkapasitas 500 liter per detik diaktifkan di Melik. Dua pompa lain berkapasitas 500 liter per detik dan seribu liter per detik diaktifkan di kuro.

‘’Kami pantau, status Bengawan Jero masih zona merah,’’ tutur Muslimin. Dia memantau terjadi penurunan debit air di hulu. Sedangkan lima pintu di sudetan pembuangan di hilir sudah dibuka. Hal itu diharapkan mampu meminimalisasi dampak banjir di Bengawan Jero.

‘’Kita juga memantau debit air di sepanjang DAS Bengawan Solo di Lamongan. Salah satunya di Babat yang masih terpantau aman,’’ tukasnya. Meski begitu, BPBD Lamongan belum meningkatkan status bencana di wilayah banjir. Selain itu, posko hanya dibuka di kantor BPBD. Muslimin mengatakan, pihaknya masih mengupayakan adanya bantuan ke Pemprov Jatim. ‘’Kami pantau di prakiraan cuaca dari BMKG, curah hujan tinggi masih terjadi dalam beberapa hari ke depan,’’ ujar Muslimin.

Sementara itu Dinas Perikanan Lamongan masih mendata jumlah tambak yang terendam banjir. Data sementara, banjir merendam 57 desa di Kecamatan Deket, Glagah, Turi, Kalitengah, Karangbinangun, Laren, Maduran, Sekaran, dan Lamongan. ‘’Antisipasinya dengan penggunaan waring, untuk meminimalisasi kerugian petani tambak,’’ tutur Kabid Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Lamongan, Tri Wahyudi kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (7/1).

Total tambak yang terendam di sembilan kecamatan tersebut mencapai 4.125 hektare. Kerugian totalnya ditaksir Rp 22,3 miliar. ‘’Tapi data ini masih bergerak terus, karena intensitas hujan masih tinggi,’’ kata Tri saat dikonfirmasi via ponsel.

Dia menjelaskan, tambak ikan bandeng, tawes, nila masih berusia sekitar dua bulan. Ikan – ikan itu belum layak dipanen. Sedangkan tambak berisi ikan vaname sudah besar dan bisa dipanen. ‘’Jadi rata-rata memang berisi ikan yang belum bisa dipanen. Tapi kemarin saya amati, beberapa petani tambak ada yang memilih memanen vaname dengan perahu,’’ ujar Tri.

Dia mengatakan, banjir di area tambak selalu terjadi ketika memasuki musim penghujan. Menurut Tri, data luasan tambak yang terendam lebih besar tahun lalu. ‘’Saat banjir tahun lalu, sawah tambak yang terendam sekitar 6.500 hektare lebih,’’ jelasnya.

Banjir tahun lalu terjadi di puncak musim penghujan antara Maret – April. Sedangkan banjir tahun ini tiba lebih cepat karena adanya fenomena La Nina. Siklus curah hujan tinggi sudah terjadi sejak akhir tahun lalu.

‘’Kalau tahun lalu kan banjir saat seluruh petani dalam masa panen, sehingga kerugiannya jauh lebih besar,’’ imbuh Tri. Menurut dia, tambak yang banjir memengaruhi produksi perikanan budidaya. Ikan petambak lepas ke kali atau sungai.

Namun, lanjut Tri, biasanya akan terjadi peningkatan produksi pada perikanan tangkap umum di darat. ‘’Siklusnya setiap tahun selalu seperti itu,’’ katanya. Apakah sudah ada asuransi bagi petambak? Tri memastikan, belum ada program dari pemerintah pusat kepada petambak. ‘’Kemarin kami sudah menjajaki adanya asuransi kepada petani tambak, tapi informasinya program tersebut masih terbatas,’’ ujar Tri.

(bj/yan/ind/nae/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia