alexametrics
Selasa, 26 Jan 2021
radarbojonegoro
Home > Opini
icon featured
Opini
Oleh : Safira Ulayya

Pembelajaran Daring, Orang Tua Makin Resah Atau Senang?

Mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM

05 Januari 2021, 09: 12: 51 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

Pembelajaran Daring, Orang Tua Makin Resah Atau Senang?

Share this      

Radar Bojonegoro - Januari 2021, virus corona akhir-akhir ini jumlahnya semakin tidak terkendali, kadang menurun kadang juga naik drastis. Terkhusus untuk wilayah zona merah semakin tinggi. Corona pertama kali ditemukan di Wuhan, China. Sejak saat inty, virus ini menyebar semakin luas dan mulai masuk ke Indonesia pada bulan Maret tahun lalu.

Semakin hari jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia terus meningkat, sehingga pemerintah menetapkan status bencana nasional. Hal ini berdampak pada segala sektor kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah sektor pendidikan. Sektor pendidikan mengalami gangguan dan perubahan dalam proses pembelajaran.

Hampir 1 tahun ini kami para pelajar sudah berdiam diri dan melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Kabar simpang siur-pun mulai bermunculan. Bapak Nadiem Makariem bersama tiga kementerian lain untuk mengizinkan sekolah semua zona pandemi Covid-19 dibuka pada Januari 2021 mendapat respon yang luas bagi seluru masyarakat. Pasalnya jika sekolah diizinkan mausk, itu berarti adanya kemungkinan untuk menambah kluster baru visrus corona. Banyak dirasa orang tua juga khawatir akan anak-anaknya jika masuk ke seklah. 

Tetapi pembelajaran daring juga cukup merepotkan bagi sebagian pihak. Karena banyak sekolah-sekolah di pelosok desa yang jaringan internet-nya tidak bisa maksimal dan kondisi ekonomi keluarga siswa tidak memungkinkan untuk diadakan sekolah daring ini. Di Tuban, tempat saya tinggal ada beberapa siswa yang mengaku kesusahan akan adanya  pembelajaran daring.

Siswa ini kesusahan karena dia mengaku tidak punya ponsel pintar (smartphone) untuk memenuhi fasilitas belajar daring. Dia hanya mengandalkan bantuan dari teman sekolahnya yang kebetulan salah satu temannya memiliki smartphone. Di lain keadaan, pembelajaran daring menjadi solusi terbaik disaat seperti ini dengan merangkul beberapa aplikasi pendukung lainnya.

Sebagian orang tua merasa tidak resah akan pembelajaran daring ini, tetepi sebagian lainnya justru kebingungan dan banyak opini tentang “daring terus, bukan malah pintar, malah jadi bodoh”ada pula yang beranggapan “daring ngehabisin kuota, duit terus yang keluar” . Opini tersebut sering kali saya dengar di sekitar lingkungan saya, entah dari keluarga, tetangga, atau yang lain.

 Puji (43) seorang ibu rumah tangga memberikan dampak positif terhadap pembelajaran daring ini. “Belajar online di rumah membuat rumah saya semakin ramai, biasanya anak-anak ke sekolah sampai sore, kadang sampai maghrib.

Sekarang mereka dirumah saja, dan saya rasa ini adalah solusi yang tepat pas corona gini, daripada kita khawatir pas anak-anak disekolah, ketular virus kan kita gaada yang tau? toh ya sekarang ada yang namanya OTG ”  ujar Puji, saat ditanya pada hari Minggu (1/3/2021). Belajar online merapakan hal yang menguntungkan karena dapat berkumpul dengan keluarga yang lebih lengkap.

Berbeda halnya dengan Siti (38) seorang ibu rumah tangga juga, tetapi berpendapat lain “Anak saya kelas 3 SD. Daring ini membuat saya semakit repot, belum lagi saya hanya lulusan SMA tidak terlalu paham dengan teknologi yang semakin canggih ini. Kadang anak saya juga malas mengerjakan tugas, ujung-ujungnya orang tua lagi yang mengerjakan.”

Kedua pendapat yang sangat berbeda 360 derajat. Saya rasa pendapat keduanya sudah mewakili bagaimana perasaan orang tua di seluruh Indonesia. Ada yang berfikir postiif tentang kebijakan daring ini yaitu orang tua dapat mendampingi anaknya, dan lebih dekat serta lebih sering berkumpul dirumah. Orang tua juga merasa lebih aman karena pada saat pandemic ini, disaat anak-anak kecil masih rentan terkena paparan virus. Namun, disisi lain juga orang tua merasa pembelajaran daring ini sangat tidak efektif.

Minat siswa untuk belajar sangat menurun, apalagi para pelajar SD yang tentunya masih mengandalkan bantuan orang tua. Para pendamping anak-anaknya juga harus dipaksa agar paham dengan teknologi pembelajaran sekarang, seperti menggunakan zoom, google meet, google classroom, dan aplikasi yang lain. Ditambah lagi opini disekitar yang beranggapan bahwa daring ini menambah biaya yang dikeluarkan. Para orang tua tidak hanya membayar biaya sekolah, tetapi juga biaya kuota internet untuk mendukung fasilitas belajar daring ini. 

*Mahasiswi Prodi Akuntansi , Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang

(bj/*/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia