alexametrics
Selasa, 15 Jun 2021
radarbojonegoro
Home > Lamongan
icon featured
Lamongan

Melihat Budidaya Ulat Maggot untuk Pakan Unggas dan Ikan

28 Desember 2020, 15: 30: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

KOLAM ULAT: Tanpa jijik lagi, Asnawi membolak-balikkan ribuan Ulat Maggot di kolam ulatnya memakai tangan langsung.

KOLAM ULAT: Tanpa jijik lagi, Asnawi membolak-balikkan ribuan Ulat Maggot di kolam ulatnya memakai tangan langsung. (GAMAL A/RDR.LMG)

Share this      

Ulat dari sampah yang membusuk biasanya dihindari karena menjijikkan. Namun bagi Asnawi,40, warga Desa Latukan Kecamatan Karanggeneng justru dibudidayakan.

M. GAMAL AYATULLAH, Radar Lamongan, Lamongan

Sebuah rumah ukuran sekitar 13 x 30 meter di Desa Deket Kulon Kecamatan Deket terlihat se perti warga pada umumnya. Namun bila masuk ke dalamnya akan terlihat kondisi rumah yang tidak biasa. Di ruang tamu terdapat dua bangunan seperti kolam ikan berplester namun dangkal.

Baca juga: Pekan Ini Pasar Banjarejo Mulai Bisa Ditempati Pedagang

Kedalamannya sekitar 5-10 Centimeter (Cm). Begitu juga di kamar depan, juga terlihat kolam yang sama. Yang mengejutkan, di dalam kolam itu tidak terlihat ikan, namun berisi ribuan ulat. Siapa saja yang baru melihat akan geli atau jijik. Meski begitu, ada seseorang yang terlihat dengan santai memegang ribuan ulat tersebut dengan tangan.

Dialah Asnawi, pembudidaya ulat tersebut. ‘’Saya sedang memilah-milah ulat yang bisa dipanen,’’ ujarnya sambil tersenyum. Rumah tersebut tidak hanya untuk memelihara ribuan ulat tersebut. Tapi sekaligus tempat tinggal warga Desa Latukan Kecamatan Karanggeneng. Bahkan tempat tidurnya di sebuah kamar yang berdekatan dengan kolam ulat tersebut. ‘’Sehari-hari saya ya tidur di sini. Kalau tidak pulang ke Latukan,’’ ungkapnya.

Dia mengaku awalnya juga geli saat memulai budidaya itu. Namun lama kelamaan menjadi biasa. Apalagi setelah hasilnya cukup menguntungkan. ‘’Bahkan saya sudah empat tahun memelihara ulat ini,’’ kata Asnawi.

Menurut dia, ulat yang dibudidayakan itu bernama Ulat Maggot. Sama dengan ulat pada umumnya, makannya berupa bekas-bekas makanan manusia yang membusuk. Terutama buah-buahan busuk.

Namun asal ulat ini dari lalat BSF Black Soldier Fly atau sering disebut juga dengan lalat tentara hitam. Lalat ini tak sama dengan lalat pada umumnya. Bentuk tubuh panjang dan besar. Setiap kali setelah bertelur akan mati. Dari telur itu kemudian butuh waktu sekitar dua minggu untuk menjadi ulat maggot.

Dia melanjutkan, setelah menjadi Ulat Maggot siap dipanen. Namun disisihkan sebagian untuk dibiarkan sekitar dua minggu agar menjadi bibit lalat tentara hitam, untuk bisa bertelur kembali. Sehingga bisa terjadi sirkulasi budidaya Ulat Maggot.

‘’Saya pertama kali melihat dari teman. Kemudian melakukan pembudidaya sendiri,’’ ujarnya. Menurut dia, biasanya bisa menghasilkan 130 gram telur dari lalat per hari. Sedangkan 1 gram telur bisa menjadi 3 sampai 4 Kilogram (Kg) Ulat Maggot. Sedangkan 1 Kg Ulat Maggot dijual dengan harga Rp 7 ribu. Berarti bisa menghasilan uang sekitar Rp 3,6 Juta.

‘’Kalau kondisi kolamnya memenuhi syarat, bisa panen setiap hari. Berhubung kolam saya kurang memenuhi syarat. Sehingga panennya hanya sekitar seminggu sekali,’’ ungkapnya. Tidak hanya ulatnya, dalam bentuk pripa (kepompong calon lalat) juga bisa dijual Rp 50 ribu sampai Rp 60 ribu per Kg.

‘’Saya justru lebih banyak menjual dalam bentuk pripa,’’ kata Asnawi. Bapak empat anak itu membenarkan budidaya Ulat Maggot masih jarang, sehingga cukup prospektif.

Sebab, dibanding ulat-ulat lain, Ulat Maggot memiliki kandungan protein tinggi. Sehingga bagus untuk pakan lele, ayam serta unggas lainnya. Bahkan proteinnya lebih tinggi dibanding pakan produksi pabrikan. ‘’Karena itu, saat ini sedang diburu oleh para peternak ayam maupun lele,’’ ungkapnya.

(bj/feb/mal/nae/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news