alexametrics
Jumat, 27 Nov 2020
radarbojonegoro
Home > Bojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Musim Hujan, Peternak Waswas Produksi Telur Menurun

21 November 2020, 17: 00: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

HARGA NAIK: Peternak di Desa Simbatan, Kecamatan Kanor, waswas dengan musim tak menentu. Namun, harga jual telur di pasaran naik, semula kisaran Rp 18 ribu menjadi Rp 23 ribu per kilogram.

HARGA NAIK: Peternak di Desa Simbatan, Kecamatan Kanor, waswas dengan musim tak menentu. Namun, harga jual telur di pasaran naik, semula kisaran Rp 18 ribu menjadi Rp 23 ribu per kilogram. (NURCHOLISH/RDR.BJN)

Share this      

Radar Bojonegoro - Peternak ayam petelur harus mawasdiri selama musim hujan karena bisa memicu penurunan produksi telur. Ayam petelur rentan terserang penyakit, terutama kebersihan kandang sulit kering selama musim hujan.

Jumain peternak ayam petelur mengatakan, perawatan ketika musim hujan harus ekstra. Pemberian obat dan disinfektan lebih sering. Lengah tak memberi disinfektan berpotensi ayam terganggu pencernaan dan penyakit pernapasan atau ngorok (Cdr). Jumain menjelaskan, ayam rawan stres akibat cuaca tidak mendukung. Kadang hujan, kadang panas. Akibatnya produksi telur menurun.

“Produksi setiap hari 56 kilogram hingga 58 kilogram. Padahal sebelumnya mencapai 68 kilogram,” kata peternak warga Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo itu. Awaludin Ridwan dosen Politeknik Pertanian dan Peternakan Mapena Kabupaten Tuban mengatakan, memungkinkan sekali produksi telur menurun ketika musim hujan. Akibat penyakit dan stres.

Perubahan suhu dan kebisingan hujan membuat ayam rawan stres. Terdapat beberapa penyakit ternak menyerang ketika musim hujan. Untuk ayam, rentan penyakit jamur menyerang tubuh karena lembab. Sedangkan, sapi dan kambing, penyakit mata maupun kembung.

“Untuk mengatasi sakit mata rutin diasap karena disebabkan nyamuk dan lalat. Sedangkan, kembung pakan nya dilayukan supaya embun hilang. Dan jamur sirkulasi udara di kandang harus bagus,” ungkap dosen tinggal di Desa Ngumpakdalem, Kacamatan Dander itu.

Musim hujan juga rentan memicu ayam terserang penyakit pernapasan atau ngorok. Penyakit ini disebabkan amoniak tinggi akibat kotoran di kandang. Solusinya harus rutin membersihkan kotoran. “Musim hujan bisa memicu kotoran ayam sulit kering,” ujar alumnus Universitas Brawijaya itu.

Ridwan menjelaskan, ternak ayam perlu diberi vitamin B komplek untuk meningkatkan daya tahan di musim penghujan. Serta kelembaban kandang harus dijaga, agar jamur dan bakteri pemicu penyakit tidak berkembang dengan baik. “Vaksin gak perlu,” jelasnya.

Kabid Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro Sugiharti Sri Rahayu mengatakan, ada beberapa penyakit berpotensi menyerang ternak ketika musim hujan. Ayam berpotensi terserang snot, penyakit akibat bakteri haemopilus paragalinarum.

Seiring penurunan imunitas saat pancaroba. Ayam akan mengalami kesulitan napas dan bengkak pada area kepala serta penurunan nafsu makan Selain itu, colibacilosis mengakibatkan ayam mengalami turun nafsu makan dan lemas. Penanganannya jaga kebersihan kandang dan sering cuci bersih alat minum kandang. Serta gunakan filter dan UV saluran minum.

Terdapat pula cronic respiratori desease (CRD), penyakit pernapasan akibat bakteri mycoplasma. Menyerang saluran pernapasan unggas dengan gejala ngorok, batuk, berain, dan keluar cairan dari hidung dan mata. Juga avian influenza (AI) dan infectious laringo tracheitis (lLT).

Untuk pencegahan tambahkan multivitamin dan jaga kebersihan kandang. “Bisa menghubungi petugas kesehatan hewan mendapatkan tindakan medis tepat,” ungkap perempuan asal Kelurahan Campurejo, Keca matan Kota itu. Sugiharti menjelaskan penyakit tersebut berpengaruh pada produksi telur maupun daging. Ketika sakit ringan dan hanya berpengaruh pada berat badan ayam pedaging. “Tidak apa-apa, daging bisa dikonsumsi,” ungkapnya. (irv)

(bj/rij/nae/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia