alexametrics
Sabtu, 28 Nov 2020
radarbojonegoro
Home > Lamongan
icon featured
Lamongan

Siswa - Guru Masih Kebingungan Uji Assesmen Nasional

21 November 2020, 13: 00: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

Siswa - Guru Masih Kebingungan Uji Assesmen Nasional

(AINUR OCHIEM/RDR.BJN)

Share this      

Radar Lamongan – Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan bakal kembali menggelar uji coba aplikasi asesmen nasional (AN) sebagai pengganti ujian nasional (UN). Kegiatan itu dilaksanakan pekan depan (23-26/11).

Menurut Kabid SMP Disdik Lamongan, Chusnu Yuli Setyo, simulasi tersebut menitikberatkan pada simulasi kesiapan laboratorium komputer dan jaringan internetnya. Ada lima siswa per lembaga sekolah yang dipilih menjadi responden. ‘’Tapi ada kemungkinan (uji coba) ditunda hingga Desember,’’ ujarnya.

Berdasarkan hasil evaluasi pada uji coba AN tahap pertama, lanjut dia, siswa dan guru sama-sama merasa kebingungan. Meskipun soal berbentuk pilihan ganda, jawabannya lebih dari satu pilihan. ‘’Jadi lebih kompleks. Lalu ada juga pertanyaan yang jawabannya berupa esai singkat, esai panjang, dan menjodohkan. Guru-guru juga mengeluh waktu mengerjakan soalsoal asesmennya kurang,’’ tuturnya.

Chusnu menjelaskan, dalam AN terdapat tiga jenis soal. Yakni asesmen kompetensi minimal (AKM) untuk mengukur kemampuan literasi dan numerasi siswa. Kemudian survei karakter untuk mengukur karakter siswa berkaitan dengan profi l pelajaran siswa Pancasila. Serta survei lingkungan belajar.

‘’Survei lingkungan belajar ini ditujukan untuk guru dan kepala sekolah. Apakah lingkungan sekolahnya sudah mendukung proses pembelajarannya,’’ jelasnya. Sosialisasi AN telah dilaksanakan sejak 20 Agustus bersamaan sosialisasi kurikulum darurat. Sembilan SD dan 34 SMP terpilih menjadi sampel untuk mengikuti uji coba instrument AKM tingkat nasional, 10-11 November lalu.

‘’Sudah selesai (uji coba). Tapi hasilnya nanti tidak dikeluarkan. Soal-soal AN yang layak diujikan baru keluar bulan Maret. Karena itulah dinamakan uji coba,’’ kata Chusnu kemarin (21/11). Dia menjelaskan, AN nantinya harus wajib dilaksanakan oleh seluruh lembaga. Termasuk lembaga pendidikan kesetaraan.

Untuk lembaga SD, ada 30 siswa per sekolah yang dijadikan responden. Sedangkan lembaga SMP ada 45 responden. Jika jumlah siswa di lembaga tersebut kurang dari jumlah yang ditentukan, maka seluruh siswa harus bersedia jadi responden. ‘’Yang memilih sampel dan responden dari atas (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan). Mungkin pihak pusat ambil datanya dari Dapodik (Data Pokok Pendidikan). Jadi secara acak,’’ ujarnya.

Dia berharap baik siswa maupun guru yang terpilih menjadi responden AN benar-benar memahami teks soal. Mengingat responden harus mampu menginterpretasikan teks menjadi menjadi konteks. ‘’Makanya sekarang guru wajib memiliki kemampuan literasi. Supaya anakanak bisa menyimpulkan teks dengan cepat,’’ kata Chusnu.

(bj/yan/din/nae/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia