alexametrics
Minggu, 28 Feb 2021
radarbojonegoro
Home > Lamongan
icon featured
Lamongan

Musim Hujan Picu Gagal Panen, Petani Buah Merugi

03 November 2020, 16: 00: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

KUALITAS TURUN JAUH: Yanto menunjukkan kondisi buah setelah terendam akibat hujan deras di lahan pertaniannya di Desa Banteng Putih, Kecamatan Karanggeneng kemarin (2/11).

KUALITAS TURUN JAUH: Yanto menunjukkan kondisi buah setelah terendam akibat hujan deras di lahan pertaniannya di Desa Banteng Putih, Kecamatan Karanggeneng kemarin (2/11). (ANJAR DWI P/RDR.LMG)

Share this      

Radar Lamongan – Petani buah di Desa Latukan dan Desa Banteng Putih, Kecamatan Karanggeneng harus siap merugi. Lahan tanaman melon, semangka, dan blewah mereka terendam. Tanaman buah tersebut gagal dipanen.

‘’Dari kemarin hujan terus-terusan sehingga lahan terendam. Jadi seluruh petani ini tidak bisa memanen,’’ tutur salah satu petani di Desa Banteng Putih, Yanto, kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (2/11). Menurut dia, beberapa hari ini hujan deras mengguyur desanya.

‘’Dua hari kemarin hujan deras dua jam. Tadi malam, hujan mulai pukul 01.00 dinihari sampai pukul 05.00,’’ jelasnya. Karena terendam hujan, lanjut dia, buah yang masih utuh kualitasnya turun.

Selain itu, sebagian buah milik petani juga diserang hama tikus. Akibatnya, buah tersebut rusak. ‘’Seharusnya dalam waktu dekat ini sudah waktunya panen raya. Tapi sekarang ini tidak bisa dipanen sama sekali,’’ keluhnya.

Dia menjelaskan, lahan satu hektare melon membutuhkan modal sekitar Rp 10 juta. Tahun lalu, panen buah melon satu hektare mampu menghasilkan sekitar Rp 35 juta. ‘’Ya rugi banyak, kalau dihitung-hitung ya jutaan rupiah,’’ kata Yanto terkait panen tahun ini. Harga melon di tingkat petani Rp 6 ribu hingga Rp 8 ribu per kilogram (kg) bila kondisinya normal.

Jika terendam, maka melon hanya laku sekitar Rp 1.500 per kg. ‘’Kalau dihitung-hitung ya satu hektare hanya dapat (hasil penjualan) sekitar Rp 1 juta saja,’’ imbuhnya. Yanto memilih membiarkan buah matang miliknya tetap dilahan. Dia tidak memanen karena biaya panen dan hasil yang didapat tidak sebanding. ‘’Jadi ya dibiarkan saja, karena sudah tidak bisa dipanen,’’ tukasnya.

Menurut Yatno, musibah seperti ini menjadi hal yang wajar bagi petani. Dia berharap musim tanaman berikutnya menghasilkan lebih banyak keuntungan. Sehingga bisa menutup kerugian musim panen ini. ‘’Bagaimana petani resikonya ya ada untung, ada rugi. Harapannya tahun depan, lebih baik lagi,’’ ujar Yanto. 

(bj/yan/ind/jar/nae/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news