alexametrics
Jumat, 23 Oct 2020
radarbojonegoro
Home > Bojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Telat Menanam, 2.052 Hektare Tembakau Belum Selesai Panen

15 Oktober 2020, 16: 00: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

Telat Menanam, 2.052 Hektare Tembakau Belum Selesai Panen

(AINUR OCHIEM/RDR.BJN)

Share this      

Radar Bojonegoro - Sebanyak 2.052 hektare lahan tembakau di wilayah Kecamatan Kapohbaru, Baureno, dan Ngraho, belum selesai panen. Para petani tembakau tersebut baru menanam tembakau pada Juli. Sedikit terlambat karena idealnya menanam memasuki Juni. Padahal, sebentar lagi musim penghujan tiba, tentu berisiko hasil panen tidak mampu optimal.

Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Perkebunan Dinas Pertanian (Disperta) Bojonegoro Rudianto mengatakan, rincian lahan tembakau belum selesai panen terdiri atas 1.543 hektare di Kecamatan Kepohbaru, 440 hektare di Kecamatan Baureno, dan 69 hektare di Kecamatan Ngraho.

Rudi mengatakan, tiga kecamatan tersebut memang terlambat jadwal menanam tembakau. Sebab, Juli lalu baru selesai panen padi. Sehingga, tembakau memiliki masa tanam selama tiga bulan itu baru bisa dipanen pada bulan ini (Oktober).

“Tapi, tentunya hal tersebut tetap berisiko, karena sejak Juni sudah kami imbau tanam tembakau. Diprediksi Oktober sudah musim penghujan,” imbuhnya. Akibat tahun ini ada pandemi Covid-19, serapan pabrikan tembakau turun 20 persen.

Tahun ini, empat pabrikan hanya menyerap total 7.700 ton. Rinciannya PT Djarum serap 3.500 ton, PT Gudang Garam serap 3.000 ton, PT Sadhana serap 800 ton, dan PT AOI serap 400 ton.

Sedangkan, secara kumulatif panen tembakau tahun ini diperkirakan mencapai 11.420 ton dengan asumsi 1 ton per hektare. Jadi diperkirakan masih ada sisa panen tembakau sebanyak 3.720 ton. Namun, pihaknya mengaku sudah mendata ada 21 pabrikan tembakau kecil akan menyerap tembakau tersebut.

“Semoga semua hasil panen bisa terserap dengan adanya 21 pabrikan-pabrikan kecil tersebut,” terangnya. Rudi menambahkan, hasil panen tembakau tahun ini tidak lebih baik daripada panen tembakau tahun lalu. Karena kondisi cuaca tahun ini kurang bersahabat.

Musim kemarau lebih panjang dan musim penghujan datang lebih awal. “Cuaca tahun ini di tengah masa musim kemarau beberapa kali turun hujan jadi cenderung kemarau basah. Lalu musim penghujan datang lebih awal. Sehingga kualitas tembakau tahun ini kurang maksimal,” jelasnya.

Sementara itu, dari segi harga jual masih bagus. Tembakau jawa asapan grade A kisaran Rp 27 ribu per kilogram, sedangkan grade B kisaran Rp 17 ribu per kilogram. Tembakau virginia rajang sekitar Rp 23 ribu hingga Rp 28 ribu per kilogram. Tembakau ram rajang sekitar Rp 29 ribu hingga Rp 33 ribu per kilogram.

“Beberapa petani ada juga yang jual dalam bentuk daun basah, tapi harganya hanya Rp 1.000 hingga Rp 1.300 per kilogram,” katanya. Menurutnya, petani harus lebih memahami tembakau merupakan produk mutu. Jadi, tinggi rendahnya harga bergantung pada kualitas tembakau.

Beberapa anjuran teknis berdasar kebutuhan pabrikan, sebaiknya satu pohon tembakau maksimal 21 daun. Jadi, lebar dan kualitas daun tembakau mampu optimal. “Justru salah ketika membiarkan pohon tembakau tinggi dan jumlah daunnya lebih dari 21 daun, kualitas daunnya nanti tidak optimal,” tambahnya.

Selain itu, ketika usai turun hujan, tembakau jangan langsung dipanen. Tunggu satu hingga dua hari dulu baru dipanen agar daun tembakau kering. Kemudian, petani harus memilah daun tembakau jelek dan bagus, jangan dicampur. Karena biasanya akibat dicampur, harganya bisa anjlok. 

(bj/rij/gas/ai/nae/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia